INFO TEMPO – Percepatan pemulihan pascabanjjr terus diupayakan secara masif oleh Pemerintah melalui Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pasca Bencana Sumatra. Salah satu fokus utama yang dikejar adalah penyediaan air bersih melalui penggalian sumur bor.
Penghuni Huntara di Kapalo Koto, Padang, telah merasakan kerja keras pemulihan ini. Namun, kondisi geologis pascabencana memberikan tantangan tersendiri di lapangan. Air yang dihasilkan pada fase awal ini masih memiliki kandungan sedimen lumpur yang cukup tinggi, atau yang dikenal warga sebagai “air batindagan”.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Situasi ini disikapi oleh Fitri, penghuni unit Huntara Kapalo Koto, dengan menyediakan air galon isi ulang demi memastikan kualitas air minum dan memasak bagi keluarganya tetap terjaga. “Sekitar dua galon sehari,” ujarnya kepada Tempo, 18 Mei 2026.
Namun, air dari sumur bor yang menguning itu tetap digunakan penghuni Huntara untuk keperluan Mandi, Cuci, dan Kakus (MCK).
Penghuni lain, Nelrayeni dan Jhon Kenedy, mengakui hal serupa. Mereka berharap pemerintah mengembangkan optimalisasi teknologi filtrasi lebih lanjut agar air yang mengalir ke huntara benar-benar bersih dan ramah bagi kulit, terutama untuk anak-anak dan lansia.
Sekujur tubuh Nelrayeni kini dipenuhi bercak-bercak merah. Menurut dia, imbas menggunakan air berlumpur kuning di Huntara untuk mandi dan mencuci. "Takut juga, kalau Aira nanti gatal-gatal juga," ucap perempuan 53 tahun itu sambil mengelus cucu yang dipanggil Aira.
Penyediaan kebutuhan air sebenarnya sudah dilakukan oleh Satgas PRR bersama Kementerian PU, TNI AD, POLRI, dan BNPB. Berdasarkan data laporan progres infrastruktur Satgas PRR pada 21 Mei 2026, upaya penyediaan air bersih dan sanitasi ini terus dikebut secara simultan di tiga provinsi terdampak.
Secara total, Satgas PRR menargetkan pembangunan 1.524 titik sumur bor dan 231 unit MCK. Hingga 21 Mei 2026, sebanyak 1.016 sumur bor dan 208 unit MCK telah sukses diselesaikan, sementara sisanya terus diproses tanpa henti.
Khusus untuk wilayah Sumatera Barat, Satgas PRR bersama para pelaksana di lapangan telah menetapkan sasaran sebanyak 221 unit sumur bor. Dari target tersebut, sebanyak 136 unit sumur bor telah berhasil diselesaikan dan 85 unit lainnya kini sedang dalam tahap pengerjaan intensif.
Dari sisi teknis di Huntara Kapalo Koto, Satgas telah menyediakan tandon-tandon air untuk melayani 35 kepala keluarga. Namun, tingginya intensitas penggunaan harian membuat mesin pompa membutuhkan perawatan ekstra. Ketua warga huntara, Iim Safari, menyebutkan bahwa koordinasi aktif antarwarga menjadi kunci penting dalam menjaga keberlangsungan fasilitas ini.
“Warga di sini sangat aktif bergotong royong. Jika ada kendala teknis atau endapan lumpur yang menyumbat paralon, kami segera bersihkan bersama-sama agar aliran air dari tandon kembali lancar,” tutur Iim Safari.
Semangat swadaya ini menjadi mesin penggerak kehidupan di huntara, mendampingi pembenahan sistem distribusi makro yang sedang dimaksimalkan oleh Satgas.
Ke depannya, warga berharap komitmen pemerintah sejalan dengan semangat pemulihan. “Harapan kami tentu kualitas airnya bisa semakin jernih. Jika distribusinya bisa diperbanyak per gang, tentu akan sangat membantu kenyamanan warga,” kata Iim. (*)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·