Pertandingan final playoff kualifikasi Conference League antara Ajax Amsterdam melawan FC Utrecht pada Minggu, 24 Mei 2026, memicu gelombang kritik dari komentator, jurnalis, hingga suporter akibat kepemimpinan wasit Allard Lindhout yang dinilai tidak meyakinkan.
Kekecewaan terhadap pengadil lapangan memuncak pada babak pertama setelah tekel penggawa FC Utrecht, Dani de Wit, kepada pemain Ajax pada menit ke-32 diabaikan oleh Lindhout, meskipun Lucas Rosa sudah melayangkan protes keras untuk meminta kartu kuning.
Di sisi lain, pelatih Ajax, Óscar García, melakukan perubahan mengejutkan dalam susunan pemain dengan mencadangkan Sean Steur dan Wout Weghorst yang mengalami masalah fisik, lalu memasukkan Youri Regeer serta Kasper Dolberg sebagai starter.
"We speelden drie dagen geleden, dus sommige hadden wat fysieke problemen", vertelt García voor de wedstrijd voor de camera van ESPN.
García memilih komposisi tersebut sebagai strategi terbaik dan menjelaskan bahwa Weghorst sedang mengalami flu, sementara Steur mendapati masalah sejak paruh kedua laga kontra FC Groningen demi menghindari risiko cedera lebih lanjut.
"Wij hebben besloten dat dit de beste opstelling is om te beginnen."
Keputusan García menggantikan Steur dengan Regeer sempat menuai banyak kritik dari para pendukung Ajax, padahal sang pelatih juga tengah fokus mengantisipasi situasi bola mati FC Utrecht yang sempat membobol gawang mereka dua minggu lalu.
"He had toen wat problemen in de tweede helft. We kunnen geen risico nemen in de eerste helft, maar alle spelers zijn klaar om minuten te maken", verzekert de Ajax-trainer, die op veel kritiek kon rekenen van de Ajax-fans door hem te vervangen met Regeer.
García menegaskan bahwa skuadnya harus belajar dari kekalahan sebelumnya dan menganggap laga perebutan tiket Eropa ini layaknya sebuah pertandingan final.
"Daar zijn zij erg sterk in. Ze scoorden tegen ons bijna alle doelpunten uit standaardsituaties. Daar moeten we van leren en we proberen dat niet nog eens te laten gebeuren", vertelt hij.
Pelatih Ajax tersebut menyatakan komitmen penuhnya untuk memperjuangkan kesempatan kedua ini demi mengamankan tempat di kompetisi Eropa musim depan.
"Als coach van Ajax benader ik elke wedstrijd als een finale. Voor mij is het een tweede kans om Europees te halen. Daar zullen we voor vechten", besluit García.
Kritik tajam terhadap jalannya pertandingan justru beralih ke kepemimpinan wasit Lindhout, yang menurut komentator ESPN, Mark van Rijswijk, seharusnya memberikan kartu kuning atas pelanggaran keras yang terjadi.
"Ini adalah pelanggaran pertama di mana Anda benar-benar bisa mempertimbangkan kartu kuning," kata komentator ESPN Mark van Rijswijk.
Van Rijswijk menambahkan bahwa tindakan menghadang pemain lawan tersebut dilakukan secara sengaja untuk memutus momentum serangan yang sedang dibangun oleh tim Ajax.
"De Wit sama eenmaal niet de intentie om de bal te spelen. Het was niet hard, maar hij stopte wel de aanval van Ajax. Rosa was erg overstuur."
Jurnalis senior De Telegraaf, Mike Verweij, turut mempertanyakan keputusan KNVB dalam menunjuk perangkat pertandingan untuk laga krusial ini melalui media sosialnya.
"Mengapa Gözübüyük dan Makkelie, wasit terbaik di Belanda, tidak ditugaskan untuk memimpin final playoff?" tulis Mike Verweij di media sosial X.
Verweij menilai performa Lindhout menambah catatan buruk wasit nasional setelah kejadian serupa pada laga antara Volendam melawan Willem II sehari sebelumnya.
"Setelah Van der Eijk kemarin di Volendam - Willem II, Lindhout membuat kekacauan di laga Ajax - Utrecht. Pilihan yang buruk, KNVB," tulis Mike Verweij.
Ketidakpuasan ini memicu reaksi keras dari netizen dan suporter di dunia maya yang mengkritik lisensi kepemimpinan sang pengadil lapangan.
"Bahwa lisensi Lindhout belum dicabut benar-benar sebuah keajaiban" kata suporter dalam reaksi online yang beredar.
Para pendukung sepak bola di Belanda bahkan membandingkan kualitas Lindhout dengan perangkat pertandingan di level amatir.
"wasit yang tidak kompeten, si Lindhout itu" kata suporter lainnya.
Gelombang protes dari suporter kedua belah pihak terus mengalir deras karena performa Lindhout dianggap merugikan kedua tim yang bertanding.
"Lindhout benar-benar wasit terburuk di lapangan-lapangan Belanda. Bahkan relawan di tim bir lokal pun lebih baik," kata suporter menegaskan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·