Bank Indonesia gencar mengoptimalkan skema Local Currency Transaction atau LCT guna mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat di tengah pelemahan nilai tukar rupiah. Langkah diversifikasi mata uang bilateral ini disampaikan dalam pelatihan wartawan di Makassar pada Jumat (22/5/2026).
Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia Ruth A. Cussoy menjelaskan bahwa urgensi penggunaan mata uang lokal meningkat signifikant terutama setelah Amerika Serikat mengumumkan tarif impor baru pada 2025. Skema ini terbukti mencatatkan kenaikan volume transaksi sebesar 309 persen secara tahunan hingga mencapai setara 22,61 miliar dolar AS pada Januari sampai April 2026.
"Bukan kami menghindari dolar AS, karena kami tahu global itu masih [menggunakan dolar]. Tetapi untuk negara-negara yang memang transaksinya banyak langsung dengan domestik, kenapa harus pakai dolar dulu, karena kalau muter sudah pasti ada middle-man, sudah pasti enggak efisien. Itu inti dari LCT sebenarnya," jelas Ruth A. Cussoy, Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia.
Otoritas moneter mencatat bahwa mitra dagang utama yang mendominasi transaksi LCT dengan Indonesia saat ini adalah China sebesar 89 persen, disusul Jepang enam persen, dan Malaysia tiga persen. Tren pertumbuhan ini membuat Bank Indonesia bersiap memperluas jaringan kerja sama ke wilayah baru dalam waktu dekat.
"Ini to be implemented dalam waktu dekat adalah SGD, [Rupee] India dan [Riyal] Arab Saudi," pungkas Ruth A. Cussoy, Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan Bank Indonesia.
Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede mendukung penuh langkah penguatan skema LCT tersebut karena nilai tukar rupiah sudah terdepresiasi lebih dari lima persen secara tahun berjalan tahun ini. Berdasarkan catatan perbankan, pelemahan kurs garuda terjadi di hadapan sebagian besar mata uang utama Asia kecuali rupee India.
"Yang paling dalam kita melemah terhadap Ringgit Malaysia, lalu yang kedua terhadap Singapura dolar, yang berikutnya terhadap Hong Kong, terhadap Yuan," jelas Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk.
Faktor domestik yang bersifat musiman seperti tingginya permintaan valas untuk musim haji, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi dividen korporasi pada kuartal II/2026 turut memicu pelemahan rupiah. Implementasi transaksi bilateral nontransaksional dolar AS dinilai mendesak untuk segera diterapkan pada negara tujuan seperti Arab Saudi guna menahan tekanan kurs.
"Makanya memang kita juga perlu menggalakkan tadi namanya LCT, jadi saya juga menyuarakan juga LCT. Sekalipun memang juga harapannya pun kita juga mendorong Bank Indonesia menyuarakan ke peers central bank lain juga," ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·