Malang -
Di Malang ada kuliner soto bening legendaris yang sudah bertahan lebih dari 7 dekade, sejak 1951. Racikan sotonya yang sederhana justru jadi daya pikat bagi pelanggan.
Tungku kayu bakar masih setia menyala mengirimkan uap tipis dari panci besar yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu selama lebih dari 7 dekade. Kesederhanaan ini seolah nyawa dari warung yang kini dikelola oleh Rahmad Ardiansyah.
Dinding kuning yang mulai memudar dan tatanan meja kursi yang ala kadarnya justru menjadi identitas Soto Basket di tengah gempuran kafe modern yang menjamur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Warung soto di Jalan Majapahit, Nomor 38, Malang ini masih mempertahankan proses masak tradisional hingga dipegang generasi ketiga.
Nama 'Basket' sendiri ternyata tidak lahir dari meja pemasaran, tetapi dari sebuah romantisme masa lalu. Rahmad mengisahkan bahwa nama itu merupakan hadiah dari pelanggan setia di masa lampau ketika warung mereka masih berdekatan dengan sebuah lapangan basket.
Nama itu terus dijaga sebagai komitmen terhadap sejarah, sebuah identitas yang membuat para penikmat setianya tak pernah kehilangan jejak meski zaman berganti.
Waroeng Soto Basket di Malang yang masih eksis sejak 1951. Foto: Muhammad Aminudin/ detikjatim)
Berbeda dengan soto daging kebanyakan yang kerap tampil dengan kuah kental atau taburan koya yang melimpah, Soto Basket justru memikat lewat kejujuran rasa. Kuahnya bening, ringan, dan membawa kesegaran yang tulus dari kaldu tulang sapi asli.
Rahmad menegaskan bahwa rahasia kelezatannya terletak pada konsistensi bahan dan teknik pengolahan yang tidak pernah berubah sejak milenium baru menyapa.
"Soto kami tidak menggunakan tambahan koya. Rasa gurihnya berasal dari kaldu tulang sapi yang direbus langsung bersama kuah. Untuk taburan, hanya bawang putih dan bawang merah goreng," ungkap Rahmad kala ditemui di lapak usahanya, Rabu (13/5/2026).
Soto Basket dibanderol Rp15ribu dengan komposisi yang lengkap. Seporsinya terdiri dari nasi putih, irisan daging sapi tipis yang empuk, toge segar, serta taburan daun bawang dan bawang goreng yang memberikan tekstur kontras.
Soto Basket mulai buka pukul 7 pagi dan tutup hingga kuah dalam panci besar habis terjual.
Meski sederhana, daya pikatnya mampu menembus batas geografis. Tak jarang, pelancong dari mancanegara turut mengantre di antara warga lokal, hanya untuk merasakan sensasi kuliner yang sanggup bertahan lintas generasi ini.
Karena menikmati Soto Basket bukan hanya soal mengenyangkan perut, melainkan juga tentang menghargai warisan kuliner yang dimasak dengan penuh rasa dan kayu bakar yang tak pernah padam.
Artikel ini sudah tayang di detikjatim dengan judul "Soto Basket, Kuliner Ikonik di Kota Malang yang Bertahan Melintasi Zaman"
(adr/adr)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·