Bos Intelijen AS Tulsi Gabbard Mengundurkan Diri

Sedang Trending 34 menit yang lalu

KEPALA intelijen Amerika Serikat (DNI) Tulsi Gabbard mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat 22 Mei 2026. Ini mengakhiri masa jabatane seorang tokoh yang selama ini dikenal sebagai penentang kebijakan dan tampaknya berselisih dengan Presiden Donald Trump terkait perang Iran.

Gabbard mengatakan dalam surat kepada Trump yang diunggah di X bahwa ia mengundurkan diri sebagai Direktur Intelijen Nasional untuk merawat suaminya setelah didiagnosis menderita kanker langka.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Sayangnya, saya harus mengajukan pengunduran diri, efektif 30 Juni,” tulis Gabbard, yang pekerjaannya meliputi koordinasi informasi keamanan global yang disampaikan kepada Trump, dalam surat tersebut, seperti dilansir Bangkok Post.

“Suami saya, Abraham, baru-baru ini didiagnosis menderita kanker tulang yang sangat langka. Ia menghadapi tantangan besar dalam beberapa minggu dan bulan mendatang,” ujar wanita berusia 45 tahun itu.

“Saat ini, saya harus mundur dari pelayanan publik untuk berada di sisinya dan sepenuhnya mendukungnya dalam perjuangan ini.”

“Tulsi telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, dan kami akan merindukannya,” kata Trump di jaringan Truth Social miliknya, menambahkan bahwa dia “dengan tepat” ingin membantu suaminya dalam perjuangannya melawan kanker.

Wakilnya, Aaron Lukas, akan menjabat sebagai Pelaksana Tugas Direktur Intelijen Nasional, tambah presiden.

Tokoh Kontroversial

Sebagai mantan politikus Demokrat, Gabbard adalah pilihan yang mengejutkan untuk memimpin badan mata-mata AS. Hal ini mengingat sejarah Gabbard sebelumnya yang mempertanyakan intelijen dan menentang intervensi militer asing Amerika.

Sebagai anggota Kongres AS, Gabbard secara khusus menyatakan penentangannya terhadap perang melawan Iran.

Ia menghadapi pertanyaan tentang pertemuannya pada 2017 dengan pemimpin Suriah yang kini telah digulingkan, Bashar al-Assad. Ia juga disebut menyebarkan propaganda Kremlin, khususnya teori konspirasi palsu tentang perang Ukraina.

Sebagai veteran Perang Irak, ia juga dipandang dengan curiga oleh kubu konservatif atas pandangannya tentang pengawasan pemerintah AS. Ia juga menyatakan dukungannya terhadap pembocor informasi Badan Keamanan Nasional (NSA), Edward Snowden, yang oleh kedua pihak di Kongres dianggap membahayakan keselamatan warga Amerika.

Menentang Perang di Iran

Trump tetap melanjutkan pengangkatannya. Namun, Gabbard tampaknya semakin terpinggirkan dari pengambilan keputusan dalam beberapa bulan terakhir menjelang perang dengan Iran.

Gabbard dilaporkan tidak hadir ketika Trump berkumpul dengan para penasihat utamanya menjelang peluncuran serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Setelah perang dimulai, Gabbard berulang kali membantah atau gagal sepenuhnya mendukung pembenaran yang diberikan pemerintahan Trump untuk melancarkan perang tersebut.

Ia berulang kali menolak untuk mendukung klaim Trump bahwa Iran menimbulkan ancaman yang nyata—penilaian yang digunakan pemerintahan untuk membenarkan serangan tersebut.

Bersaksi di hadapan Kongres, Gabbard menekankan bahwa keputusan itu adalah “tanggung jawab presiden.”

Gabbard juga mengatakan bahwa intelijen AS telah menyimpulkan bahwa Iran tidak membangun kembali kapasitas pengayaan nuklir yang dihancurkan tahun lalu oleh Amerika Serikat dan Israel—yang juga digunakan sebagai pembenaran utama untuk perang tersebut.

Wanita kelahiran Hawaii ini pernah bertugas di Irak bersama Garda Nasional Angkatan Darat. Pengalaman tersebut membentuk penentangannya terhadap perang asing Amerika yang berkepanjangan, seperti halnya bagi Wakil Presiden JD Vance dan kepala Pentagon Pete Hegseth.

Gabbard menikah dalam upacara Hindu dengan suaminya yang berprofesi sebagai sinematografer di Hawaii.

Mereka bertemu saat syuting iklan kampanyenya dan suaminya melamarnya saat berselancar di saat matahari terbenam.

Ibu Gabbard, yang lahir di daratan AS, memeluk agama Hindu dan membesarkan anak-anaknya dalam tradisi tersebut. Nama depannya, Tulsi, adalah nama tanaman suci dalam agama Hindu, dan ia adalah seorang vegetarian seumur hidup.