Stabilitas keuangan Chelsea kini dipertaruhkan jelang pertandingan pamungkas Premier League melawan Sunderland di Stadium of Light pada Minggu mendatang.
Klub berjuluk The Blues tersebut wajib meraih kemenangan demi mengamankan tiket menuju kompetisi Liga Europa musim depan.
Langkah ini menjadi krusial setelah Chelsea dipastikan absen dari Liga Champions karena tertinggal empat poin dari Bournemouth di peringkat keenam.
Meskipun baru saja menang 2-1 atas Tottenham Hotspur, Chelsea saat ini masih tertahan di peringkat kedelapan klasemen sementara Premier League.
Posisi kedelapan tersebut hanya memberikan jatah untuk tampil di UEFA Conference League, kompetisi yang mereka juarai pada musim lalu.
Mantan pemain sayap Chelsea, Pat Nevin, menilai kompetisi kasta ketiga Eropa tersebut tidak lagi memadai dan berisiko menjadi beban bagi finansial serta gengsi klub.
"Liga Champions adalah target utama karena di situlah uang terbesar berada. Liga Europa masih layak, tetapi Conference League tidak cukup untuk klub seperti Chelsea," ujar Pat Nevin, Mantan Pemain Sayap Chelsea.
Manajemen klub dilaporkan terpaksa harus melepas beberapa pemain bintang mereka jika gagal meraup pemasukan besar dari kompetisi Eropa yang lebih prestisius.
Berdasarkan data komersial, jurang pendapatan antara kedua kompetisi tersebut memang sangat besar, di mana total hadiah Liga Europa musim ini mencapai 488 juta pound, sedangkan Conference League hanya menyediakan 246 juta pound.
Selain hadiah utama, tim di Liga Europa mendapatkan keuntungan masif dari hak siar televisi, sponsor, tiket pertandingan, serta tiket otomatis lolos ke Liga Champions bagi sang juara.
Secara akumulatif, selisih total pendapatan antara finalis Liga Europa dan Conference League diperkirakan mencapai £50 juta atau setara Rp1 triliun, nominal yang setara dengan biaya mendatangkan satu pemain bintang baru.
32 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·