Liputan6.com, Yogyakarta - Sudah berdiri sejak tahun 2007, Warung Kusuma Buah tetap bertahan di tengah banyaknya penjual buah dengan skala yang lebih besar. Berada di kawasan Jalan Kusumanegara, warung buah tersebut tampak ramai didatangi pembeli hingga pengemudi ojek online.
Selain menjual buah, Kusuma Buah juga menyediakan aneka jus buah. Kedua jenis usaha tersebut saling berkaitan karena buah yang dijual turut digunakan sebagai bahan dasar pembuatan jus sehingga stok buah dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal.
Ditemui pada (16/5/2026), Diana (40), pemilik Warung Kusuma Buah, menceritakan perjalanan usahanya yang telah dirintis sejak 2007. Sejak awal berjualan, warung buah tersebut memang berada di Jalan Kusumanegara, hanya saja lokasi sebelumnya berada di seberang tempat usahanya saat ini.
"Dulu seberang jalan sana. Terus kita pindah sini," kata Diana singkat.
Berlokasi dekat dengan Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, Universitas Teknologi Yogyakarta, hingga Pamela Supermarket yang cukup dikenal masyarakat, Jalan Kusumanegara, Kota Yogyakarta selalu ramai dilalui pengguna jalan. Ini membuat lokasi Warung Kusuma Buah dinilai cukup strategis.
Berangkat dari Kudus, Menjalani Usaha di Yogyakarta
Di tengah suara hujan yang mulai turun, Diana bercerita bahwa usaha warung buah dan jus buah yang dijalankannya bersama sang suami merupakan bagian dari usaha keluarga. Pasalnya, beberapa anggota keluarganya yang tinggal di Yogyakarta juga menjalankan usaha serupa di lokasi yang berbeda.
Diana merupakan perantau asal Kudus. Bersama sang suami, ia merantau ke Yogyakarta dan membangun usaha warung buah yang kini telah dijalani hampir 20 tahun sejak 2007. Tak hanya berdua, dua adiknya pun kini turut tinggal di Yogyakarta.
"Memang keluarga suami semuanya bisnisnya buah sih. Ada adik, ada adik dua di sini (Yogyakarta)," cerita Diana.
Di Yogyakarta, Diana tinggal di rumah kontrakan yang sekaligus digunakan sebagai tempat usaha warung buahnya. Usaha warung buah yang dijalani Diana bersama suaminya pun menjadi satu-satunya usaha yang mereka tekuni.
Setiap hari, buah yang dijual selalu diperbarui agar tetap segar. Sang suami mengambil pasokan buah langsung dari Pasar Gamping dan memilih tidak menyetok dalam jumlah besar. Buah dijual sedikit demi sedikit agar perputaran uang tetap cepat.
"Ada yang disetor, ada yang kita ambil dari pasar buah. Kita gak nyetok banyak ya. Kita memang sedikit-sedikit biar cepat puternya." Jelas Diana.
Setiap harinya, harga buah dapat berubah mengikuti kondisi pasar. Ketersediaan stok buah yang dijual pun bergantung pada pasokan di pasaran. Saat musim panen tiba, harga buah biasanya menjadi lebih murah karena stok yang melimpah.
"Tapi kan stok buah juga nggak bisa dipastikan. Kalau buah itu tergantung stok di pasaran kan," kata Diana.
"Kadang-kadang kalau buah lagi mahal-mahal, harganya berubah. Harga berubah berubah terus, tiap hari berubah," ujar Diana menambahkan soal harga buah yang bisa berubah setiap hari.
Melek Digitalisasi, Inisiatif Pasang QRIS BRI
Mulai melek digitalisasi, Diana inisiatif memasang Quick Response Code Indonesian Standard atau QRIS di warung buahnya. Sebelumnya sudah mempunyai rekening dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), Diana pun memutuskan untuk mengurus QRIS BRI sekitar tiga atau 4 tahun yang lalu.
"BRImo itu dari kapan ya? Tepatnya saya enggak terlalu inget sih. Beberapa tahun terakhir lah 3-4 tahun," kata Diana sembari mengingat kapan tepatnya mulai memasang QRIS di warung buahnya.
Beberapa pelanggan mulai menanyakan metode pembayaran secara online, sehingga Diana pun kemudian mengurus pemasangan QRIS. Kehadiran metode tersebut memudahkan pembeli, terutama anak muda yang lebih sering memilih pembayaran non-tunai menggunakan QRIS.
"Saya yang nyari sih karena banyak yang butuh kan. Sekarang anak muda kan jarang pake cash ya, maunya QRIS. Karena saya sudah lama pake BRI, akhirnya ya minta QRIS-nya," ujar Diana.
Daftarkan Usahanya di Layanan Pesan Antar
Sebelum pandemi Covid-19 dan sebelum memasang QRIS di warung buahnya, Diana telah lebih dulu mendaftarkan usahanya di layanan pesan antar atau online food delivery seperti GoFood dan ShopeeFood.
"Saya ga ingat tepatnya ya. Kalau lebih dulu itu, saya pakai Grab dulu. Ya sejak covid itu lah kayaknya. Lebih dulu GrabFood (daripada QRIS)," cerita Diana sembari mengingat-ingat.
Untuk layanan pesan antar di beberapa aplikasi Diana mendaftarkannya secara bertahap. Setelah GrabFood berjalan, kemudian Diana mendaftarkan usahanya di ShopeeFood. Shopee resmi meluncurkan layanan pesan antar makanan ShopeeFood di Indonesia pada April 2020.
"Pas ada Shopee, Shopee kan sebelumnya tidak melayani ShopeeFood ya, cuma Shopee Market. Terus Shopee mulai buka ShopeeFood kita ikut," ujar Diana.
Belum lama ini, Diana memperluas jangkauan usahanya dengan mendaftarkan warung buahnya di layanan GoFood. Kehadiran layanan pesan antar tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengembangkan usaha sekaligus menjangkau lebih banyak pelanggan.
"Kalau GoFood belum lama," kata Diana singkat.
Pelanggan Lama Masih Memilih Tunai
Diselingi kesibukan melayani pembeli yang membeli jus stroberi, cerita Diana sempat terhenti sejenak. Berlokasi di jalan besar dan tepat di pinggir jalan, warung buah miliknya mudah dijangkau oleh pengendara maupun warga sekitar yang tinggal tidak jauh dari lokasi tersebut.
Dirintis sejak tahun 2007, Kusuma Buah tentunya sudah mempunyai banyak pelanggan. Diungkap oleh Diana jika pelanggan lama masih memilih menggunakan tunai, sementara pelanggan baru yang kebanyakan mahasiswa menggunakan QRIS.
"Masih lebih banyak pake cash. Tapi ada lah yang minta QRIS. Anak-anak muda biasanya yang pake QRIS. Kalau yang pelanggan-pelanggan lama, itu ya pake cash," jelas Diana.
Alfi (29), salah satu pengguna QRIS, mengungkapkan bahwa ia tetap membawa uang tunai saat bepergian. Namun, pada momen tertentu, ia lebih memilih menggunakan uang tunai dibandingkan pembayaran melalui QRIS.
"Sesuai kondisi aja. Kalau berpergian jauh harus ada uang cash. Tapi kalau belanja biasa lebih ke bayar pakai QRIS," katanya singkat.
Untuk kendala, rata-rata pengguna QRIS biasa terkendala jaringan, apalagi jika lebih mengutamakan memakai WiFi daripada paket internet. Pasalnya tidak semua toko atau warung menyediakan akses WiFi.
"Kalau kendala pakai QRIS sih lebih ke jaringan, itu yang bikin gagal dan lelet," tambah Alfi.
Pertumbuhan Signifikan Transaksi Merchant dan QRIS
Mengutip unggahan Instagram resmi Bank BRI yang diunggah pada 9 Mei 2026, BRI mencatat pertumbuhan signifikan pada transaksi merchant dan QRIS seiring dengan akselerasi transformasi BRIVolution Reignite. Jumlah merchant tercatat mencapai 323,7 ribu dengan volume transaksi sebesar Rp67,9 triliun atau tumbuh 26,5 persen secara tahunan (year on year/yoy)
Sementara itu, transaksi QRIS meningkat hingga Rp30,5 triliun atau tumbuh 76 persen (yoy), dengan jumlah transaksi mencapai 253 miliar atau naik 76,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan tersebut menunjukkan semakin luasnya penggunaan transaksi digital di kalangan masyarakat maupun pelaku usaha.
Transformasi digital BRI juga terus diarahkan untuk memperkuat ekosistem pembayaran digital yang inklusif dan terintegrasi. Melalui inovasi QRIS serta penguatan layanan transaksi digital, BRI turut mendorong produktivitas pelaku usaha sekaligus meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
48 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·