Ekonom Sebut Narasi Rupiah Melemah Untungkan Ekonomi Menyesatkan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Narasi dari pembuat konten media sosial yang menyebutkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah menguntungkan perekonomian Indonesia karena mendongkrak ekspor dinilai keliru dan menyesatkan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede dalam acara pengarahan media di Makassar pada Jumat (21/6/2026), sebagaimana dilansir dari Money.

Menurut Josua, keuntungan dari depresiasi rupiah hanya dirasakan oleh sebagian sektor seperti eksportir komoditas, sementara mayoritas industri manufaktur nasional justru tertekan akibat ketergantungan pada bahan baku impor.

"Sudah banyak pernyataan-pernyataan yang sangat tidak mengedukasi terkait dengan pelemahan ini. Pelemahan rupiah disebut bisa mendukung perekonomian kita melalui pengeluaran ekspor. Ini sangat keliru, totally wrong," tegas Josua saat media briefing di Makassar, Jumat (21/6/2026).

Josua menambahkan bahwa anggapan Indonesia diuntungkan oleh situasi ini tidak tepat secara keseluruhan.

"Pada intinya itu adalah pernyataan yang menyesatkan kalau kita bicara bahwa Indonesia diuntungkan dengan adanya pelemahan rupiah," imbuhnya.

Manfaat dari pelemahan mata uang ini memang dirasakan pelaku usaha komoditas karena pendapatan dollar AS mereka bernilai lebih besar saat dikonversi, tetapi sebaliknya memberatkan industri manufaktur yang membeli bahan baku dari luar negeri menggunakan dollar AS.

"It's good kalau kita bicara si pengekspor komoditas, ya memang pasti akan sangat diuntungkan. Tapi kalau kita bicara industri manufaktur yang mesti mengimpor dulu bahan baku, ini pasti akan memberatkan," ucapnya.

Para pelaku industri sebenarnya membutuhkan nilai tukar yang stabil untuk menyusun perencanaan usaha jangka menengah serta menghitung beban biaya impor secara pasti bersama pemasok di negara asal.

"Bagi para pebisnis itu pun yang diharapkan adalah dia men-set dia mau impor 3 bulan lagi, 6 bulan lagi, dia men-set. Kalau rupiah stabil, dia akan set rupiahnya atau dollarnya di level berapa. Dia pasti kan butuh perencanaan dan dia akan kontakt, dia akan komunikasikan juga kepada suppliernya di negara asal barang tersebut. Jadi itu pasti akan dikomunikasikan dengan baik," jelasnya.

Bank Indonesia memiliki peran penting selaku bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar agar volatilitasnya tidak terlalu tinggi.

"Tugasnya Bank Indonesia adalah bukan mengarahkan nilai tukar rupiah ke level tertentu, tapi adalah menjaga stabilitas," tuturnya.

Berdasarkan data Permata Bank per 22 Mei 2026, rupiah mencatat pelemahan lebih dari 5 persen terhadap dollar AS secara year to date, sementara indeks dollar AS menguat sekitar 0,9 persen.