Empat Saham Indonesia Keluar dari Indeks FTSE Global Equity

Sedang Trending 5 jam yang lalu

Aksi jual asing lanjutan di pasar saham domestik berpotensi dipicu oleh keputusan FTSE Russell yang mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeks FTSE Global Equity Index Series (GEIS). Hal ini dilansir dari Money pada Sabtu (23/5/2026).

Dampak dari perombakan indeks ini tidak hanya menyasar saham yang terdepak. Sejumlah saham dengan kapitalisasi pasar jumbo di sektor perbankan serta telekomunikasi juga rentan menghadapi tekanan aliran dana keluar (outflow).

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim menilai tekanan jual asing setelah pengumuman tersebut berpotensi merembet ke sejumlah saham unggulan. Selama ini, saham-saham tersebut menjadi portofolio utama dana asing yang berbasis indeks FTSE.

Dominasi saham sektor perbankan seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), serta saham telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) terlihat jelas dalam komposisi beberapa fund fact sheet manajer investasi yang menggunakan FTSE sebagai acuan.

“Jika kita lihat beberapa fund fact sheet MI (manager investasi) dengan benchmark FTSE sahamnya cenderung dominan di sektor perbankan seperti BBRI, BMRI, BBCA serta TLKM, maka jika ada pengurangan bobot saham tersebut berpotensi mengalami outflow,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Sabtu (23/5/2026).

Penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan mulai terbatas di area level 5.800. Faris melihat pelemahan pasar saat ini justru dapat dimanfaatkan oleh para investor untuk melakukan akumulasi pembelian secara bertahap dengan tetap selektif memilih emiten yang berfundamental baik.

“Dengan downside IHSG yang mulai terbatas di level 5800, maka ini menjadi kesempatan akumulasi bertahap bagi investor. Betul, dengan memastikan saham tersebut memiliki proyeksi kinerja yang baik kedepannya,” paparnya.

Dalam laporan June 2026 Quarterly Review yang dirilis Sabtu (23/5/2026), FTSE Russell mendepak empat saham Indonesia. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dikeluarkan dari kategori large cap GEIS karena masuk dalam kategori saham dengan struktur kepemilikan terkonsentrasi tinggi atau high shareholding concentration (HSC).

“Failed high shareholding concentration,” tulis FTSE Russell dalam pengumumannya.

Saham kedua yang dikeluarkan adalah PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) dari kategori micro cap karena tingkat free float di bawah batas minimum. Sementara itu, saham PT Hillcon Tbk (HILL) dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) didepak karena tidak memenuhi kriteria pemantauan saham.

Keputusan perombakan ini dijadwalkan efektif berlaku setelah penutupan perdagangan pada 19 Juni 2026. Namun, hasil tinjauan indeks ini masih memiliki peluang untuk mengalami revisi hingga penutupan perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.

“Harap diperhatikan, perubahan hasil tinjauan indeks yang tercantum dalam file lampiran masih dapat mengalami revisi hingga penutupan perdagangan pada Jumat, 5 Juni 2026. Mulai Senin, 8 Juni 2026, perubahan hasil tinjauan indeks akan dianggap final. Setiap perubahan selanjutnya umumnya hanya akan dipertimbangkan dalam kondisi luar biasa, sesuai dengan kebijakan dan pedoman perhitungan ulang indeks FTSE Russell,” tulis FTSE Russell dalam pengumuman resminya.