Ginandjar Kartasasmita Ungkap Fakta Pertemuan Menteri Sebelum Soeharto Mundur

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Mantan Menko Ekuin Ginandjar Kartasasmita membeberkan kronologi pertemuan 14 menteri di Kantor Bappenas pada 20 Mei 1998 yang menjadi pemicu mundurnya Presiden Soeharto. Ginandjar menegaskan dalam siniar Gaspol! Kompas.com pada Kamis (14/5/2026) bahwa para menteri tidak berniat membelot, melainkan berupaya menyelamatkan negara dan posisi Presiden dari krisis yang kian memuncak.

Situasi Jakarta yang kacau akibat kerusuhan dan gelombang demonstrasi mahasiswa memaksa para pembantu presiden merumuskan langkah strategis. Ginandjar menjelaskan bahwa legitimasi Soeharto menurun drastis setelah pimpinan DPR/MPR Harmoko meminta sang presiden mundur, sementara massa telah mendekati Jalan Cendana.

Upaya menyelamatkan Soeharto dilakukan agar Indonesia tidak mengalami nasib serupa dengan Filipina saat Ferdinand Marcos digulingkan rakyat pada 1986. Ginandjar menekankan bahwa transisi rezim otoriter menuju demokrasi merupakan fenomena global yang sedang melanda berbagai belahan dunia kala itu.

"Demi loyalitas kita saya tentu ingin Pak Harto bisa terus, ya. Tapi sebagai seorang intelektual, sebagai seorang yang berpikir, kita lihat kejadian di mana-mana kan tidak bisa melawan arus sejarah," kata Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Ia menambahkan bahwa pergeseran menuju keterbukaan politik sudah tidak mungkin dihindari lagi karena telah terjadi di negara tetangga seperti Korea Selatan dan Filipina.

"Seluruh dunia itu ada gerakan untuk ke arah keterbukaan, demokratisasi," imbuh Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Ketidakmampuan melawan dinamika zaman ini dinilai sebagai faktor penentu berakhirnya kekuasaan Orde Baru yang telah bertahan selama tiga dekade.

"Cuma kita yang masih bertahan. Nah, itu yang saya pikir, nggak mungkin kita melawan sejarah, tidak mungkin melawan gejolak zaman. Kalau ada yang bilang, itu sunnatullah. Sudah nggak bisa lagi kita melawan itu, sudah terjadi di mana-mana, sudah kehendak alam lah. Jadi tinggal tunggu waktu," ujar Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Terkait isi pertemuan di Bappenas, Ginandjar meluruskan informasi yang menyebut adanya pengunduran diri massal menteri dalam surat yang disusun untuk presiden.

"Jadi memang pendirian para menteri ini, ya, sebaiknya Pak Harto mencari jalan keluar. Kita tidak bilang mundur, kan, mencari jalan keluar saja, mencari jalan untuk bisa menyelesaikan masalah itu," kata Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Meskipun berniat menyelamatkan posisi presiden, para menteri mengakui bahwa situasi ekonomi saat itu sudah berada di ambang keruntuhan total.

"Kita tidak bilang (meminta) beliau mundur. Sama sekali tidak ada dan tidak ada dalam pemikiran kita (meminta Soeharto mundur)," kata Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Surat tersebut juga tidak memuat penolakan para menteri untuk bergabung dalam struktur Kabinet Reformasi yang rencananya akan dibentuk melalui perombakan.

"Kita harus lapor bahwa dalam seminggu bisa kolaps ekonomi ini," ujar Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Pertemuan fisik terakhir antara Ginandjar bersama Menko Kesra dan Menko Polkam dengan Soeharto terjadi di Jalan Cendana pada malam sebelum pengunduran diri diumumkan.

"Beliau bicara macam-macam, tapi sama sekali tidak berhubungan dengan kondisi saat itu," ujar Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Kondisi yang canggung membuat para menteri tidak sempat menyampaikan isi surat dan aspirasi dari pertemuan Bappenas secara langsung kepada Soeharto.

"Dan kita nggak bisa ngomong lagi, jujur saja," lanjut Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Meskipun surat tidak sampai ke tangan presiden, Ginandjar meyakini substansi perundingan menteri telah didengar Soeharto melalui sambungan telepon kepada Siti Hardijanti Rukmana dan Panglima ABRI Wiranto.

"Jadi waktu itulah ada pemikiran bagaimana menyelamatkan Pak Harto, utamanya kan menyelamatkan Pak Harto. Saat itu kita bicara sama Mbak Tutut dengan segalanya. Tapi, ya, kejadian akhirnya begitu. Akhirnya beliau mundur," jelas Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Keputusan mundur akhirnya diambil Soeharto setelah menyadari dukungan politik dari parlemen telah hilang dan kabinet yang ada tidak lagi bisa diterima publik.

"Pak Harto itu memutuskan mundur karena mungkin merasa sudah tidak didukung. DPR kan sudah menyatakan mundur. Kita menteri-menterinya sudah meminta membentuk kabinet baru, lah, suratnya begitu. Membentuk kabinet reformasi, karena kabinet ini tidak bisa diterima oleh masyarakat," ujar Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.

Mensesneg Saadilah Mursjid kemudian memberi tahu B.J. Habibie bahwa rencana pertemuan untuk menyerahkan surat sudah tidak relevan karena Soeharto sudah membulatkan tekad.

"Enggak usah lagi, Pak, karena Bapak Presiden meminta Pak Habibie besok datang jam 7 pagi. Beliau akan menyerahkan tanggung jawab kepada Pak Habibie," beber Ginandjar Kartasasmita, Mantan Menko Ekuin.