Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan sejumlah temuan teknis terkait kecelakaan beruntun antara taksi listrik, Rangkaian KRL, dan Kereta Api (KA) Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur yang terjadi pada akhir April lalu.
Pemaparan hasil investigasi tersebut dilansir dari Detikcom saat Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono menghadiri rapat kerja bersama Komisi V DPR RI, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, dan perwakilan PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Insiden bermula saat sebuah taksi listrik tersangkut di perlintasan liar dan tertabrak KRL 5181B, lalu disusul kecelakaan kedua ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak bagian belakang KRL Perjalanan Luar Biasa (PLB) 5568A yang sedang berhenti di jalur sebelah untuk menunggu instruksi keselamatan.
Kecelakaan kedua yang melibatkan sesama rangkaian kereta tersebut berdampak fatal hingga mengakibatkan belasan korban meninggal dunia serta puluhan orang lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan pemeriksaan kotak hitam (black box) taksi listrik bernomor polisi B 2864 SBX, KNKT memastikan tidak ditemukan adanya gangguan maupun kesalahan sistem pada kendaraan sebelum tabrakan pertama terjadi.
"Data dari perangkat pemantauan kendaraan B 2864 SBX tidak menunjukkan adanya kesalahan sistem berdasarkan data yang dikumpulkan dalam satu jam sebelum kejadian," ujar Soerjanto, dalam keterangan tertulis, Jumat (22/5/2026).
Soerjanto memaparkan bahwa taksi tersebut awalnya melaju normal 15 km/jam di posisi transmisi D (Drive), namun entah mengapa berpindah ke posisi N (Neutral) pada pukul 12.08 sehingga mobil meluncur bebas tanpa tenaga motor meski pengemudi sudah menginjak pedal gas.
"Pengemudi mencoba menekan pedal gas hingga 25%. Namun karena kendaraan masih berada di posisi N, tidak ada tenaga yang diteruskan ke roda dan kendaraan terus meluncur bebas," ujar Soerjanto.
Pengemudi sempat menaikkan tekanan gas ke 51% hingga mobil berhenti total di atas rel, lalu memindahkan transmisi ke posisi P (Park) serta menekan tombol start/stop berulang kali yang justru membuat kendaraan sama sekali tidak bisa bergerak maju.
Selain faktor taksi, KNKT menyoroti kegagalan sistem operasional dan persinyalan karena KA Argo Bromo Anggrek tetap mendapat sinyal hijau di Stasiun Bekasi pada pukul 20.50.43, atau dua menit setelah tabrakan pertama terjadi pada pukul 20.48.29.
Kondisi visual malam hari yang terganggu oleh paparan cahaya dari kios pasar dan rumah warga di sekitar rel juga membuat masinis kesulitan melihat visual lampu indikator sinyal dengan jelas.
"Masinis mengalami kesulitan membedakan sinyal sebenarnya karena cahaya putih di sekitar berasal dari kios pasar dan rumah-rumah di dekat rel," jelas Soerjanto.
Faktor lain yang memperparah keadaan adalah adanya gangguan visual pada sinyal UB104 (Ulang Blok) akibat intensitas warna lampu jalanan yang mirip, sehingga deteksi dini tidak berjalan optimal.
"Jika masinis dapat melihat sinyal tambahan dengan jelas, kecelakaan mungkin bisa dihindari. Namun karena adanya gangguan visual, masinis dan asisten masinis tidak dapat melihat sinyal dengan baik, sehingga terdapat masalah pada sinyal UB," jelas Soerjanto.
Investigasi KNKT turut menemukan lambatnya koordinasi akibat rantai komunikasi birokratis yang panjang, mengingat kereta perawatan PLB 5568 dan KA Argo Bromo Anggrek dikendalikan oleh unit operasional berbeda.
"PK (Pengendali Kereta) Selatan harus melapor ke supervisor terlebih dahulu, kemudian supervisor menyampaikan ke PK Timur, dan setelah itu PK Timur baru dapat menghubungi masinis," kata Soerjanto.
Masalah terakhir yang dicatat KNKT adalah keterbatasan sistem pengaturan perjalanan kereta di Stasiun Bekasi yang hanya mengover hingga titik 14T, sehingga sinyal J12 tetap berwarna hijau walaupun PLB 5568 masih mandek di jalur tersebut.
34 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·