Komnas Pengendalian Tembakau: Belanja rokok picu kemiskinan keluarga

Sedang Trending 41 menit yang lalu
Pengeluaran untuk rokok sering kali lebih tinggi dibanding kebutuhan pangan bergizi, seperti telur, susu, buah, dan sayur

Makassar (ANTARA) - Sekretaris Jenderal Komnas Pengendalian Tembakau Tulus Abadi mengatakan belanja rokok menjadi salah satu pemicu kemiskinan rumah tangga di Indonesia.

"Pengeluaran untuk rokok sering kali lebih tinggi dibanding kebutuhan pangan bergizi, seperti telur, susu, buah, dan sayur," kata Tulus Abadi pada Lokakarya "Di Balik Layar Cukai" yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, Sabtu.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dipaparkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan pengeluaran rumah tangga untuk rokok kretek filter di perkotaan mencapai 11,30 persen dari total pengeluaran per kapita. Kondisi tersebut jauh lebih tinggi dibanding belanja telur ayam ras yang hanya 4,30 persen.

Sementara di pedesaan, pengeluaran untuk rokok mencapai 10,78 persen, sedangkan telur ayam ras hanya 3,69 persen.

Menurut dia, kondisi tersebut dinilai memperburuk kesejahteraan kelompok rentan dan berkontribusi terhadap turunnya kelas menengah di Indonesia. Tingginya pengeluaran rumah tangga untuk rokok disebut mengurangi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar, termasuk pangan bergizi, pendidikan, dan kesehatan.

Baca juga: FAKTA: Perlu peta jalan regulasi teknis terkait pengendalian tembakau

“Pengendalian konsumsi rokok harus menjadi prioritas utama, karena dampaknya sangat luas, bukan hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi dan kualitas sumber daya manusia,” ujar Tulus Abadi.

Selain itu dia juga menyoroti kebijakan cukai rokok 2026 yang dinilai masih memunculkan pertanyaan apakah benar untuk pengendalian konsumsi atau justru kompromi terhadap kepentingan industri.

Materi yang dipresentasikan menunjukkan konsumsi rokok berdampak multisektoral. Dari sisi kesehatan, nikotin pada rokok dan vape disebut dapat menyebabkan kerusakan permanen pada otak anak dan remaja yang masih dalam masa pertumbuhan.

Baca juga: Pemerintah didesak terbitkan peraturan turunan PP 28/2024

Sementara itu rokok juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit kronis seperti kanker, stroke, penyakit jantung, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis) hingga diabetes.

Paparan asap rokok pada anak juga disebut meningkatkan risiko stunting lebih tinggi dibanding anak dari keluarga non-perokok.

Dalam paparan pada lokarya tersebut juga disebutkan kerugian ekonomi akibat konsumsi rokok mencapai ratusan triliun rupiah setiap tahun, termasuk beban pembiayaan kesehatan yang sebagian besar ditanggung negara melalui layanan kesehatan nasional.

Fenomena tingginya belanja rokok juga tercermin dalam data pengeluaran masyarakat. Sejumlah laporan BPS menunjukkan rokok dan tembakau masih menjadi salah satu komponen pengeluaran terbesar rumah tangga Indonesia, bahkan melampaui sejumlah kebutuhan pangan bergizi seperti ikan, telur dan susu.

Baca juga: IAKMI tekankan pentingnya ratifikasi pengendalian tembakau

Pewarta: Suriani Mappong
Editor: Risbiani Fardaniah
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.