Kucing atau Anjing Liar Sering Datang ke Rumah? Ini 4 Risiko Penyakit yang Perlu Diwaspadai

Sedang Trending 2 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kucing atau anjing liar yang sering datang ke rumah memang kerap membuat suasana terasa lebih hidup. Tidak sedikit orang merasa iba lalu memberikan makanan atau membiarkan hewan-hewan tersebut beristirahat di teras maupun halaman rumah. Namun di balik tingkahnya yang terlihat lucu dan menggemaskan, hewan liar tetap berpotensi membawa berbagai risiko kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama jika mereka sering berkontak langsung dengan penghuni rumah.

Banyak orang belum menyadari bahwa kucing dan anjing liar bisa menjadi pembawa kutu, jamur, bakteri, hingga parasit tertentu yang dapat menular ke manusia maupun hewan peliharaan lain. Risiko ini bisa meningkat apabila lingkungan rumah kurang terjaga kebersihannya atau hewan liar bebas masuk ke area dapur, ruang tamu, hingga tempat bermain anak. Bahkan, beberapa penyakit dapat menular tanpa disadari hanya melalui bulu, air liur, atau kotoran hewan yang tertinggal di sekitar rumah.

Karena itu, penting bagi masyarakat untuk memahami berbagai risiko penyakit yang mungkin muncul akibat keberadaan kucing atau anjing liar di sekitar rumah. Dengan mengetahui potensi bahayanya sejak awal, penghuni rumah tetap bisa bersikap bijak terhadap hewan liar tanpa mengabaikan aspek kesehatan dan kebersihan lingkungan. Berikut penjelasan lebih lengkap dan mendalam dari drh. Winda Hermin Ayulian (30) secara khusus kepada Liputan6.com.

1. Penularan Kutu dan Scabies yang Menyebabkan Gatal Berlebih

Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, salah satu risiko penyakit yang paling sering muncul dari kucing atau anjing liar adalah penularan kutu maupun scabies atau tungau. Hewan liar yang hidup di jalanan umumnya memiliki kebersihan tubuh yang kurang terjaga sehingga sangat rentan menjadi tempat berkembangnya parasit. Ketika hewan tersebut sering tidur di teras, masuk ke rumah, atau melakukan kontak langsung dengan manusia, kutu dan tungau bisa berpindah ke pakaian, sofa, karpet, maupun kulit manusia.

"Penyakit dari anjing dan kucing ada beberapa yang bisa menular ke manusia. Jika melalui kontak langsung dengan hewan yang tertular kutu ataupun scabies (tungau) bisa menular ke manusia menyebabkan gatal yang berlebih efek dari gigitan kutu," ujar dokter hewan yang praktik di Sukowati Petshop Sragen.

Gigitan kutu biasanya menimbulkan rasa gatal yang cukup mengganggu, terutama pada bagian kaki, tangan, dan area tubuh yang sering bersentuhan langsung dengan hewan. Dalam beberapa kasus, kulit bisa mengalami kemerahan, bentol, hingga iritasi akibat garukan berlebihan. Sementara itu, scabies atau tungau dapat menyebabkan rasa gatal yang lebih intens terutama pada malam hari. Kondisi ini bisa semakin parah jika tidak segera ditangani karena tungau dapat berkembang biak di permukaan kulit.

Risiko penularan akan meningkat apabila penghuni rumah sering memegang hewan liar tanpa mencuci tangan setelahnya. Anak-anak juga termasuk kelompok yang cukup rentan karena sering bermain di lantai atau halaman yang mungkin telah terkontaminasi kutu dan tungau dari hewan liar. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan rumah, rutin mencuci tangan, serta menghindari kontak terlalu dekat dengan hewan liar menjadi langkah penting untuk mencegah penularan parasit tersebut.

2. Cacing dari Kotoran Hewan yang Bisa Menular ke Manusia

Dokter hewan Winda Hermin Ayulian juga menjelaskan bahwa kotoran kucing atau anjing liar berpotensi membawa telur maupun larva cacing yang dapat menular ke manusia. Risiko ini sering kali tidak disadari karena banyak orang menganggap membersihkan kotoran hewan adalah hal sepele. Padahal, ketika seseorang membersihkan kotoran tanpa sarung tangan atau berjalan tanpa alas kaki di area yang terkontaminasi, peluang penularan bisa meningkat.

"Kemudian bisa adanya cacing di kotoran hewan dan kita tidak sengaja kontak langsung tanpa menggunakan alas kaki atau membersihkan dengan tangan tanpa perlindungan tepat bisa ikut tertular," lanjutnya.

Telur cacing yang terdapat di tanah atau permukaan lantai dapat masuk ke tubuh melalui tangan yang tidak bersih maupun kulit yang mengalami luka kecil. Anak-anak yang bermain di halaman rumah menjadi kelompok yang cukup rentan karena mereka sering menyentuh tanah lalu memegang makanan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu. Dalam beberapa kondisi, infeksi cacing dapat menyebabkan gangguan pencernaan, sakit perut, tubuh mudah lelah, hingga penurunan nafsu makan.

Selain itu, lingkungan yang lembap dan jarang dibersihkan dapat membuat telur cacing bertahan lebih lama. Karena itu, penting untuk segera membersihkan area yang terkena kotoran hewan menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan dan disinfektan. Membiasakan penggunaan alas kaki saat berada di luar rumah juga menjadi langkah sederhana tetapi efektif untuk mengurangi risiko penularan cacing dari hewan liar.

3. Risiko Toksoplasma dari Kotoran Kucing Liar

Kucing liar juga dapat membawa parasit toksoplasma yang berasal dari kotorannya. Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, penularan Toksoplasma ke manusia memang tergolong minim, tetapi tetap perlu diwaspadai terutama jika kebersihan lingkungan rumah kurang terjaga. Kotoran kucing yang dibiarkan terlalu lama di area terbuka dapat menjadi sumber penyebaran parasit apabila tidak segera dibersihkan dengan benar.

"Ataupun kotoran yang sudah lama terpapar udara dari kucing liar pembawa toksoplasma juga bisa tertular ke manusia akan tetapi minim penularan karena toxoplasma paling banyak dari makanan mentah atau tidak diolah dengan maksimal seperti sayuran maupun daging," kata drh. Winda saat dihubungi Liputan6.com melalui pesan teks pada Kamis (7/5/2026).

Toksoplasma sering dikaitkan dengan risiko kesehatan pada ibu hamil karena dapat memengaruhi kondisi janin apabila terjadi infeksi serius. Meski demikian, drh. Winda menjelaskan bahwa sumber penularan toxoplasma paling banyak sebenarnya berasal dari makanan mentah atau kurang matang, seperti sayuran yang tidak dicuci bersih maupun daging yang tidak diolah secara maksimal. Namun, kontak dengan kotoran kucing liar tetap dapat menjadi salah satu jalur penularan jika seseorang tidak menjaga kebersihan tangan setelah membersihkannya.

Karena itu, penting untuk menjaga kebersihan area rumah yang sering didatangi kucing liar, terutama taman, halaman, atau sudut tertentu yang sering menjadi tempat buang kotoran. Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan kotoran hewan juga dianjurkan untuk mengurangi risiko paparan. Selain itu, kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan maupun setelah beraktivitas di luar rumah menjadi langkah penting untuk mencegah penularan parasit.

4. Rabies, Risiko Penyakit Paling Berbahaya dari Hewan Liar

Salah satu penyakit paling berbahaya yang perlu diwaspadai dari anjing maupun kucing liar adalah rabies. Dokter hewan Winda Hermin Ayulian menjelaskan bahwa penularan rabies dapat terjadi melalui gigitan hewan yang terinfeksi maupun air liur yang mengenai luka terbuka pada tubuh manusia. Penyakit ini sangat serius karena menyerang sistem saraf dan dapat berakibat fatal apabila tidak segera mendapatkan penanganan medis.

"Kemudian yang berbahaya adalah penularan penyakit rabies pada hewan liar pembawa dan gigitan ke manusia atau air liur yang mengenai luka terbuka bisa menyebabkan penularan," tutupnya.

Hewan liar yang terinfeksi rabies biasanya menunjukkan perilaku tidak biasa seperti lebih agresif, mudah menyerang, takut cahaya, atau mengeluarkan air liur berlebihan. Namun dalam beberapa kasus, gejala pada hewan tidak selalu terlihat jelas sehingga masyarakat perlu tetap berhati-hati ketika berinteraksi dengan hewan liar yang tidak dikenal. Risiko menjadi lebih tinggi apabila seseorang mencoba memegang, mengusir, atau memberi makan hewan liar tanpa perlindungan.

Jika terkena gigitan atau cakaran hewan liar, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera mencuci luka menggunakan air mengalir dan sabun selama beberapa menit. Setelah itu, korban dianjurkan segera mencari pertolongan medis untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut maupun vaksin antirabies jika diperlukan. Pencegahan tetap menjadi langkah terbaik, salah satunya dengan menghindari kontak langsung dengan hewan liar dan menjaga jarak aman ketika hewan menunjukkan perilaku agresif.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Risiko Penyakit Kucing atau Anjing Liar

1. Apakah kucing atau anjing liar benar-benar bisa menularkan penyakit ke manusia?

Jawaban: Ya, beberapa penyakit dari kucing dan anjing liar memang dapat menular ke manusia. Menurut drh. Winda Hermin Ayulian, risiko tersebut bisa berasal dari kutu, scabies, cacing, toxoplasma, hingga rabies yang dibawa hewan liar.

2. Penyakit apa yang paling sering ditularkan dari kucing atau anjing liar?

Jawaban: Penyakit yang paling umum adalah gangguan kulit akibat kutu dan scabies. Gigitan kutu dapat menyebabkan gatal berlebih, bentol, hingga iritasi pada kulit manusia.

3. Apakah scabies dari hewan bisa menular ke manusia?

Jawaban: Bisa. Scabies atau tungau dapat berpindah melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi maupun benda yang sudah terkontaminasi seperti karpet, sofa, atau alas tidur hewan.

4. Bagaimana cara mengetahui rumah sudah terkena kutu dari hewan liar?

Jawaban: Biasanya muncul tanda seperti rasa gatal mendadak, bentol kecil pada kulit, atau adanya kutu kecil yang melompat di lantai, sofa, maupun kasur.

5. Apakah kotoran kucing atau anjing liar berbahaya?

Jawaban: Ya, kotoran hewan liar dapat membawa telur cacing maupun parasit tertentu yang berpotensi menular ke manusia jika terkena tangan atau kulit tanpa perlindungan.