Kuwait Tawarkan Minyak Mentah ke Kilang Asia Melalui Selat Hormuz

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pasar energi Asia mulai menerima penawaran penjualan minyak mentah secara langsung dari Kuwait untuk pertama kalinya sejak perang Iran pecah pada Rabu (10/6/2026). Langkah ini menjadi indikasi terbaru mengenai pulihnya arus pengiriman komoditas energi melalui Selat Hormuz.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, sedikitnya 4 juta barel ekspor minyak utama Kuwait disiapkan untuk dikirim ke sejumlah kilang di China dan Korea Selatan. Muatan tersebut diangkut menggunakan dua kapal tanker raksasa jenis very large crude carrier (VLCC).

Penjualan komoditas ini mengindikasikan bahwa jalur pelayaran Selat Hormuz mulai terbuka kembali berkat peningkatan koordinasi Amerika Serikat dalam mengawal lintasan kapal. Produsen minyak di kawasan Teluk Persia kini tetap mampu mengirimkan tanker mereka meskipun ancaman dari Teheran masih membayangi jalur tersebut.

Sebagian besar kapal dilaporkan melintasi Selat Hormuz dengan mematikan transponder agar posisi mereka tidak terlacak dan terhindar dari potensi target serangan. Hambatan pada transmisi sinyal satelit ini menyebabkan jumlah pelayaran yang tercatat saat ini terlihat lebih rendah dibandingkan kondisi di lapangan.

Minyak dari Kuwait, selaku produsen terbesar kelima di kawasan Teluk Persia, harus melewati Selat Hormuz untuk menjangkau pasar global karena posisi pemuatan berada jauh di dalam teluk. Selain Kuwait, Uni Emirat Arab dikabarkan telah menjual jutaan barel minyak mentah dari kawasan tersebut ke kilang-kilang di Asia.

Minyak mentah tersebut ditawarkan langsung oleh perusahaan milik negara, Kuwait Petroleum Corp., tanpa melibatkan perantara dagang. Pasokan minyak yang ditawarkan dilaporkan telah keluar dari Selat Hormuz sehingga siap dikirim segera ke pelabuhan Asia, meskipun rincian mengenai syarat penjualan tidak dipublikasikan.

Penutupan efektif Selat Hormuz sebelumnya sempat memicu gangguan pasokan energi paling parah dalam sejarah dunia. Hambatan tersebut memutus pasokan minyak berkadar sulfur tinggi ke berbagai kilang di Asia yang secara khusus dirancang untuk mengolah jenis minyak tersebut.

Aktivitas pengiriman minyak secara senyap dengan mematikan sinyal kapal sebelumnya juga dilakukan oleh Aramco Trading Co. dari Arab Saudi dan Abu Dhabi National Oil Co. dari Uni Emirat Arab. Dua super tanker milik Kuwait, Al Riqqa dan Dar Salwa, sempat terlihat bersandar di terminal Mina Al Ahmadi pada akhir Mei dan awal Juni sebelum akhirnya mematikan transponder mereka.

Sebelumnya, super tanker Universal Winner terpantau melintasi Selat Hormuz pada Mei lalu untuk membawa minyak Kuwait ke Korea Selatan melalui jalur yang diduga mendapat persetujuan otoritas Iran. Pada bulan yang sama, kapal Eneos Endeavor yang terafiliasi dengan Jepang juga berhasil melewati selat sempit tersebut dengan membawa muatan minyak dari Kuwait dan Uni Emirat Arab.