Liverpool resmi memastikan diri lolos ke Liga Champions musim depan setelah bermain imbang 1-1 melawan Brentford pada laga pekan terakhir Premier League di Stadion Anfield pada Minggu, 24 Mei 2026.
Hasil satu poin ini menempatkan tim asuhan Arne Slot finis di peringkat kelima klasemen akhir Liga Inggris dengan mengumpulkan 60 poin dari 38 pertandingan.
Pertandingan pamungkas musim 2025/2026 ini juga menjadi momen emosional karena menjadi laga perpisahan bagi Mohamed Salah dan Andy Robertson yang dipastikan hengkang dari Anfield pada bursa transfer musim panas.
Dalam laga ini, Liverpool unggul lebih dulu pada menit ke-58 melalui sontekan Curtis Jones yang memanfaatkan umpan silang luar biasa dari Mohamed Salah sebelum disamakan oleh sundulan Kevin Schade pada menit ke-64.
Lewat satu umpan matang tersebut, Salah resmi memecahkan rekor klub dengan mengemas 93 assist di Premier League, melampaui catatan legendaris milik Steven Gerrard.
Sebelum pertandingan, atmosfer internal klub sempat memanas setelah penyerang asal Mesir tersebut mengkritik pendekatan taktik Arne Slot melalui media sosial pasca kekalahan dari Aston Villa pekan lalu.
"Klub ini segalanya untuk saya. Orang-orangnya, kotanya begitu berarti untuk saya. Saya cinta mati klub ini. Saya akan selalu mendukung mereka," ujar Salah dalam film perpisahan berjudul Salah: Farewell to the King yang dilansir dari sport.detik.com.
Pemain berusia 33 tahun itu juga menyampaikan apresiasi mendalam atas dukungan luar biasa yang ia terima dari para suporter selama sembilan tahun kariernya di Merseyside.
"Ini berarti besar untuk saya. Anda ada di dalam klub, Anda merasakan cinta dan apresiasi fans," sambung Salah.
Pemain yang telah menyumbang 257 gol bagi The Reds ini mengakui rasa syukurnya yang mendalam atas perjalanan karier epik sejak didatangkan dari AS Roma pada 2017 silam.
"Ini berkah buat saya dan saya bersyukur sekali," ucap Salah.
Sebelumnya, dalam sebuah unggahan di platform X, Salah sempat meluapkan kekecewaannya mengenai hilangnya identitas agresif tim dan mendesak pemulihan gaya bermain menyerang cepat.
"I telah menyaksikan klub ini berubah dari tim yang meragukan menjadi tim yang percaya, dan dari tim yang percaya menjadi juara," tulis Salah.
Kritik tersebut memicu diskusi luas mengenai ketidakcocokan sang pemain terhadap strategi penguasaan bola yang diterapkan oleh manajer baru mereka.
"Saya ingin melihat Liverpool kembali menjadi tim penyerang yang garang dan ditakuti lawan, serta kembali menjadi tim yang memenangkan trofi," tulis Salah lagi.
Mantan pemain AS Roma ini menegaskan bahwa karakter bermain menyerang dengan intensitas tinggi merupakan bentuk permainan terbaiknya selama ini.
"Itulah gaya sepak bola yang saya kuasai dan itulah identitas yang perlu dipulihkan dan dipertahankan selamanya," tulis Salah.
Unggahan tersebut serupa dengan pernyataan emosional lainnya di media sosial yang mengkritik hilangnya karakter "heavy metal football" di bawah kepemimpinan Slot.
"Saya ingin melihat Liverpool kembali menjadi tim menyerang bergaya heavy metal yang ditakuti lawan dan kembali menjadi tim yang memenangkan trofi. Itulah sepak bola yang saya pahami dan identitas yang harus dikembalikan serta dipertahankan," ucap Salah.
Kritik terbuka ini langsung memancing reaksi keras dari mantan kapten Manchester United, Wayne Rooney, dalam program Wayne Rooney Show.
"Saya hanya berpikir bahwa bagi Salah untuk keluar dan menyerang Arne Slot lagi, entah Arne Slot ada di sana musim depan atau tidak, bukanlah tujuan bagi dia untuk keluar dan menyerang lagi. Ini benar-benar mengecewakan," ujar Rooney.
Rooney menilai tindakan mengkritik manajer secara terbuka menjelang akhir musim bukanlah langkah yang bijak bagi seorang pemain profesional.
"Ia berbicara tentang ingin bermain sepak bola heavy metal, jadi pada dasarnya dia mengatakan bahwa dia ingin sepak bola ala Juergen Klopp," ujar Rooney.
Mantan striker timnas Inggris tersebut bahkan meragukan kapasitas fisik Salah yang akan menginjak usia 34 tahun untuk mempertahankan intensitas permainan cepat tersebut.
"Sekarang saya tidak yakin Mo Salah bisa menghadapi jenis sepak bola itu lagi, saya pikir kakinya sudah tidak seperti dulu," kata Rooney.
Rooney bahkan menyarankan agar manajemen memberikan tindakan tegas dengan tidak mengikutsertakan Salah dalam pertandingan terakhir melawan Brentford.
"Jika saya Arne Slot, saya tidak akan membiarkannya mendekati stadion di pertandingan terakhir," kata Rooney.
Kendati demikian, manajer Liverpool Arne Slot memilih meredam spekulasi konflik tersebut dalam sesi konferensi pers sebelum pertandingan di pusat latihan klub.
“We tahu apa yang harus dilakukan. Kami harus menang atau minimal meraih hasil imbang. Kami ingin memberikan akhir musim yang baik untuk para fans karena musim ini terlalu banyak kekecewaan,” ujar Slot.
Pelatih asal Belanda itu menegaskan hubungannya dengan Salah tetap profesional dan fokus pada target kolektif klub untuk mengamankan tiket kompetisi Eropa.
“Saya dan Mo memiliki kepentingan yang sama, yaitu ingin yang terbaik untuk klub ini. Kami ingin Liverpool sesukses mungkin,” kata Slot.
Slot menyatakan situasi ruang ganti tetap kondusif dan seluruh skuad menunjukkan dedikasi penuh di sesi latihan harian.
“Saya tidak melihat perubahan apa pun dari para pemain. Mereka berlatih dengan sangat baik minggu ini,” tambah Slot.
Setelah pertandingan usai, Slot memberikan penghormatan tinggi atas kontribusi krusial Salah yang membawa stabilitas dan ketajaman di lini depan sepanjang musim pertamanya melatih.
“Musim lalu mungkin adalah gelar paling spesial yang pernah saya raih,” kata Slot.
Arne Slot menyatakan bahwa memenangkan trofi bersama klub sebesar Liverpool merupakan salah satu pencapaian terbesar dalam lembaran karier profesionalnya.
“Sekarang saya bisa mengatakan trofi Premier League bersama Liverpool adalah salah satu pencapaian terbesar dalam hidup saya, dan Salah memainkan peran yang luar biasa penting,” lanjut sang pelatih.
Di sisi lain, kepergian Salah dari Anfield menyisakan pesan mendalam bagi rekan-rekan setimnya yang ditinggalkan di ruang ganti.
“Saya tidak ingin terlalu emosional hari ini karena besok pasti akan lebih berat,” ujar Salah.
Ia mengungkapkan rasa bangganya bisa menjadi bagian dari sejarah modern klub dan mengapresiasi setiap detik petualangannya di Inggris.
“Saya menikmati setiap momen di klub ini dan semua kenangan itu akan selalu saya bawa,” lanjutnya.
Salah juga mengingatkan para pemain tentang tingginya tekanan serta ekspektasi suporter di Anfield yang menuntut konsistensi performa di setiap laga.
“Ketika Anda menang bersama Liverpool, rasanya seperti bermain di klub terbaik di dunia. Tapi ketika kalah, tekanannya juga sangat besar. Karena itu, kalian harus terus menang musim depan,” tambahnya.
Selain perpisahan Salah, laga ini juga ditandai dengan kembalinya mantan kapten Liverpool, Jordan Henderson, yang kini memperkuat Brentford.
Henderson mendapatkan sambutan hangat berupa standing ovation dari publik Anfield saat digantikan pada menit ke-60, memenuhi harapan yang sebelumnya diutarakan Salah dalam sesi wawancara bersama Steven Gerrard.
"I think for the last game of the season against Brentford, the people in the city know how much it meant to Hendo being here," kata Salah yang dilansir dari liverpoolecho.co.uk.
Salah menilai dedikasi panjang Henderson sebagai pemimpin tim yang memenangkan Liga Champions dan Premier League layak mendapatkan apresiasi terbaik dari para penggemar.
"[He was] captain of the club, here longer than me, Robbo [Andy Robertson] Virg [Virgil van Dijk], he did not get the farewell he deserved," ucap Salah.
Ia berharap pihak klub dan suporter dapat memberikan penghormatan khusus kepada gelandang berpengalaman tersebut di akhir laga.
"I don't know how the club is going to manage it, I have no plan but I really wish they do something special for him because he has been one of the best players at this club and without him, we don't achieve what we achieved," ujar Salah.
Menanggapi pernyataan Salah, Steven Gerrard yang turut hadir memberikan saran agar Henderson dilibatkan langsung dalam momen perayaan di lapangan pasca-pertandingan.
"Listen, the fans I'm sure absolutely idolised Henderson, just like yourself, get him next to you at the end of the game if you can, get him involved," kata Gerrard.
Salah menyetujui pandangan tersebut dan meyakini bahwa seluruh elemen tim sangat memahami besarnya pengaruh kepemimpinan Henderson selama ini.
"I really hope so, maybe people not in the dressing room [know how important he was], but you were aware of it as you played with him and he loved the club," balas Salah.
Henderson sendiri mengakui proses kepindahannya dari Liverpool pada tiga tahun lalu menyisakan kesedihan mendalam hingga membuatnya sempat kesulitan menyaksikan pertandingan mantan klubnya di televisi.
“It was a really tough period when I left Liverpool, I was there for a long period of time, 12 years,” kenang Henderson.
Gelandang tim nasional Inggris itu menggambarkan bahwa meninggalkan klub yang telah menjadi pusat kehidupannya selama satu dekade terasa sangat mengejutkan.
“Leaving Liverpool itself was huge and really difficult and at any point it was going to be hard because it had been my life for so long and then it is just gone like that… so I have struggled for a period after that,” kata Henderson.
Ia mengungkapkan masa-masa awal di Arab Saudi menjadi periode yang berat karena ikatan emosionalnya yang belum sepenuhnya terputus dari Premier League.
“No, I couldn’t watch a lot of games, I certainly couldn’t watch Liverpool. I didn’t watch a lot of Premier League stuff then… probably picked the right place for that, I was half way around the world!” jelas Henderson.
Pemain berusia 35 tahun itu mengibaratkan perpisahan dengan Liverpool seperti sebuah keretakan hubungan asmara yang membutuhkan waktu lama untuk dipulihkan.
“Yeah, it was tough, but when you leave Liverpool because I was there for so long because I had such an attachment and I dedicated a large part of my life there, when I left I found it really difficult and I suppose whatever I did or wherever I went…” tutur Henderson.
Proses adaptasi pasca-kepindahan dari Anfield diakunya berjalan lambat namun seiring berjalannya waktu situasi mulai membaik.
“I don’t know what it felt like; it felt like a break-up. It was just difficult and I think if you asked a lot of players when they left a club, not just Liverpool but when you have been at a club for so long and you have that attachment to them, whether you retire or move on,” kata Henderson.
Ia menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa periode transisi tersebut merupakan fase paling menantang dalam perjalanan karier sepak bola profesionalnya.
“I think for a period of time that was hard, but within time things change; you move on, but I would say that was probably the most difficult time,” pungkas Henderson.
Dengan berakhirnya musim ini, Liverpool bersiap menghadapi era baru tanpa kehadiran Mohamed Salah dan Andy Robertson, sementara Brentford menyudahi kompetisi di peringkat kesembilan klasemen.
57 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·