Pelatih tim bola basket Universitas Kentucky, Mark Pope, bergerak cepat mengamankan talenta muda berbakat angkatan 2027 dengan mendekati senter bintang Darius Wabbington dan point guard Jason Gardner Jr.
Dilansir dari laporan sports.yahoo.com dan 247sports.com, Wabbington yang memiliki tinggi badan 210 sentimeter telah resmi menerima tawaran beasiswa dari Kentucky dan kini tengah menjadwalkan kunjungan resmi ke Lexington.
Pemain bertahan dari Phoenix Sunnyslope High School ini merupakan salah satu prospek elite nasional yang menempati peringkat ke-23 dalam daftar pemain terbaik Amerika Serikat versi 247Sports.
Selain Kentucky, Wabbington juga menjadi incaran utama bagi tim Universitas Louisville karena dia menjadi satu-satunya pemain berposisi senter di angkatannya yang mendapatkan penawaran resmi dari staf kepelatihan pimpinan Pat Kelsey.
Asisten pelatih Louisville, John Andrzejek, bahkan memantau langsung performa Wabbington saat mencetak rata-rata 13,6 poin dan 5,9 rebound bersama tim Compton Magic pada turnamen Adidas 3SSB di Mishawaka.
Wabbington mengonfirmasi bahwa Louisville menjadi salah satu target kunjungan utamanya selain Indiana, Purdue, Arizona, dan Texas, setelah sebelumnya sempat berkunjung ke Universitas Washington.
"Coach (Ronnie) Hamilton and coach (Pat) Kelsey were on me really young," kata Wabbington, Senter Phoenix Sunnyslope High School.
Kondisi roster tim yang menjanjikan membuat pebasket muda ini antusias dengan perkembangan komunikasi yang berjalan.
"I like them a lot, and I like what they do and how they do it. They're going to have a really good roster this year, and I am excited to watch them," ujar Wabbington, Senter Phoenix Sunnyslope High School.
Ia juga mengaku terus mengamati taktik permainan beberapa kampus besar pada musim lalu untuk melihat kesesuaian gaya bermain.
"I love how they use their bigs," kata Wabbington, Senter Phoenix Sunnyslope High School.
Pebasket bertubuh besar ini merasa kemampuannya berkembang pesat jika dibandingkan dengan penampilannya pada musim panas tahun lalu.
"I just need to keep getting better," ujar Wabbington, Senter Phoenix Sunnyslope High School.
Wabbington menegaskan bahwa fokus utamanya saat ini adalah meningkatkan kondisi fisik demi performa di lapangan.
"I need to continue to work on my body and my explosiveness," kata Wabbington, Senter Phoenix Sunnyslope High School.
Meskipun proses rekrutmennya berjalan sangat dinamis, sang pemain mengaku belum menetapkan tenggat waktu untuk mengambil keputusan final.
"There's always stuff that I can do to get better at," ujar Wabbington, Senter Phoenix Sunnyslope High School.
Di sisi lain, perburuan Kentucky untuk posisi guard tertuju kepada Jason Gardner Jr asal Fishers, Indianapolis, yang dilaporkan oleh on3.com sedang menanti kepastian tawaran resmi dari Mark Pope.
Gardner Jr yang merupakan putra dari Direktur Hubungan Pemain Universitas Arizona, Jason Gardner Sr, telah dipantau intensif oleh asisten pelatih Kentucky, Mikhail McLean, dalam setahun terakhir.
Pemain bintang empat bertinggi 185 sentimeter tersebut sudah sempat melihat fasilitas kampus Kentucky dan bertemu langsung dengan Mark Pope pada musim kompetisi 2025-2026.
"I’ll hopefully get up there soon. I know it’s a busy time for them. Now that the portal has died down and the 2026 class is over, they can focus on the 2027 class," kata Gardner, Point Guard Fishers.
Ia berharap pihak kampus segera memberikan kepastian penawaran resmi saat dirinya melakoni kunjungan resmi nanti.
"They always say they’ll offer on the official, so hopefully," ujar Gardner, Point Guard Fishers.
Pertemuan pertamanya dengan suksesor John Calipari di Kentucky tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Gardner Jr.
"Mark Pope is a really good coach. I had a really good meeting with him," kata Gardner, Point Guard Fishers.
Gaya permainan dan lingkungan kampus menjadi poin krusial yang dipelajarinya selama kunjungan tidak resmi ke sana.
"The overall facilities and everything about their campus [stood out]," ujar Gardner, Point Guard Fishers.
Terbiasa dengan atmosfer bola basket kampus sejak kecil membuat Gardner Jr tidak merasa canggung menghadapi perhatian dari tim-tim besar.
"I’ve been around it my whole life. When I see the coaches, it’s not anything new to me, but it’s still pretty cool to see all the types of schools," kata Gardner, Point Guard Fishers.
Meski demikian, ia menyadari bahwa waktu penentuan masa depan karier akademis dan olahraganya kini sudah semakin dekat.
"Now, you’re talking about official visits. That’s when you have to really think about where you want to go. It’s not like you have two years left. You only have a couple of months left," ujar Gardner, Point Guard Fishers.
Sejauh ini, Gardner Jr juga menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah kampus besar lain seperti Auburn, Texas, Stanford, Indiana, Florida, dan Texas Tech.
"For officials, I definitely want to take them in July or August," kata Gardner, Point Guard Fishers.
Terkait komitmen awal, guard yang kini bermain di kompetisi Nike EYBL tersebut memilih untuk tetap fleksibel mengikuti momentum.
"In terms of making a decision, I don’t really have a time when I want to commit, but whenever the time is right, is when I’ll make a decision," ujar Gardner, Point Guard Fishers.
Hubungan emosional dan kecocokan dengan jajaran staf kepelatihan menjadi faktor penentu paling utama bagi Gardner Jr dalam memilih pelabuhan baru.
"When you’re at a college, that’s who you’re around 95 percent of the time," kata Gardner, Point Guard Fishers.
Faktor kenyamanan lingkungan tim akan sangat memengaruhi proses adaptasi dan performa pemain di atas lapangan pertandingan.
"Being able to have a really good connection with the staff," ujar Gardner, Point Guard Fishers.
Pemain peringkat ke-40 nasional versi Rivals Industry Ranking ini mengaku terus menyesuaikan diri dengan level kompetisi yang lebih mengandalkan fisik.
"My first session was my first time on the EYBL. I was just getting adjusted to the speed, athleticism, play style, and physicality," kata Gardner, Point Guard Fishers.
Pengalaman bertanding pada sesi-sesi awal liga remaja tersebut membantunya meningkatkan kualitas performa dalam menyerang.
"During session two, I’m getting more prepared for it, which has led to better play," ujar Gardner, Point Guard Fishers.
Gardner Jr menilai transisinya dari kompetisi Adidas 3SSB ke Nike EYBL telah membentuknya menjadi pemain yang lebih tangguh saat berduel di area bawah ring.
"I’m a very athletic guard who plays above the rim," kata Gardner, Point Guard Fishers.
Kemampuan melompat dan kelincahan menjadi senjata utama bagi sang guard untuk menembus pertahanan lawan yang dijaga pemain bertubuh besar.
"Being able to finish above all these athletes and bigs, I’m using it in different ways," ujar Gardner, Point Guard Fishers.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·