Melihat Hangatnya Rumah Perlindungan Anak ADHA di Tambora

Sedang Trending 31 menit yang lalu

Di sebuah rumah sederhana di Gang Panca Krida 1, Duri Utara, Tambora, Jakarta Barat, tawa anak-anak terdengar bersahutan menjelang pagi. Sebagian bersiap ke sekolah, sebagian lain menunggu waktu minum obat. Di rumah itulah anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) menjalani hari-hari mereka bersama dalam hangatnya kasih sayang dan perhatian.

Rumah itu adalah Yayasan Vina Smart Era. Sejak 2007, Bidan Ropina Tarigan atau akrab disapa Bu Pina mendedikasikan hidupnya untuk merawat dan membesarkan anak-anak dengan HIV. Bersama suami, kedua anaknya, dan seorang pendamping bernama Bu Ambar, ia menghadirkan lingkungan yang aman bagi mereka untuk tumbuh tanpa rasa takut dan stigma.

Saat ini tujuh anak tinggal bersama di yayasan tersebut. Mereka hidup layaknya keluarga, belajar saling membantu dan memahami arti kebersamaan sejak dini. Rutinitas mereka dimulai setiap pukul 06.00 WIB dan 18.00 WIB. Pada jam-jam itu, anak-anak mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) yang harus minum rutin seumur hidup untuk menjaga kesehatan mereka. Di sela aktivitas sekolah dan bermain, Bu Pina juga memastikan kebutuhan gizi anak-anak terpenuhi melalui makanan bergizi yang disiapkan setiap hari.

Tak hanya menjaga kesehatan, yayasan itu juga mengajarkan kemandirian. Anak-anak dibiasakan mencuci piring sendiri, memasak nasi, merapikan kebutuhan pribadi, hingga saling membantu satu sama lain. Hal-hal sederhana itu menjadi bagian penting dalam membangun rasa percaya diri mereka.

Sebagian besar anak di Yayasan Vina Smart Era merupakan yatim piatu yang kehilangan orang tua akibat HIV/AIDS. Mayoritas tertular sejak lahir dari ibu yang terinfeksi HIV. Meski hidup dengan kondisi yang tidak mereka pilih, anak-anak itu tetap tumbuh dengan mimpi yang sama seperti anak lainnya.

"Anak-anak ini tidak bersalah. Mereka punya hak untuk hidup sehat, bermain, sekolah, dan meraih cita-cita," ujar Bu Pina, Pendiri Yayasan Vina Smart Era.

Di yayasan tersebut, anak-anak tetap menjalani pendidikan formal mulai dari tingkat SD hingga perguruan tinggi. Sepulang sekolah, mereka kembali belajar bersama, bermain, dan berbagi cerita di lorong rumah yang sempit namun hangat oleh kebersamaan. Melalui Yayasan Vina Smart Era, Bu Pina berharap stigma terhadap HIV/AIDS perlahan berkurang. Ia mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pencegahan HIV sekaligus memberi dukungan kepada anak-anak yang hidup dengan HIV agar mereka dapat tumbuh dan diterima di lingkungan sosialnya.

"Jangan jauhi orangnya, tapi jauhi penyakitnya. Anak-anak ini butuh diterima, dirangkul, dan diberi kesempatan untuk hidup lebih baik," kata Bu Pina, Pendiri Yayasan Vina Smart Era.

Seorang anak perempuan bersiap berangkat sekolah dengan semangat untuk terus tumbuh dan belajar seperti anak-anak lainnya. Relawan menceritakan sebuah cerita kepada anak-anak yang menghadirkan suasana hangat dan penuh keceriaan di lingkungan belajar mereka. Kegiatan belajar bersama berlangsung dengan pendampingan sukarelawan.

Aktivitas dan Cita-cita Tanpa Batas

Suasana interaktif terlihat saat anak-anak dalam kegiatan bermain puzzle yang melatih kemampuan berpikir. Kegiatan ini menjadi sarana melatih konsentrasi dan kemampuan berpikir mereka. Di dalam kamar, dua anak ADHA yang berbeda keyakinan terlihat membaca kitab suci mereka masing-masing.

Anak-anak dengan HIV/AIDS (ADHA) memperlihatkan mimpi dan harapan mereka melalui gambar karakter di kertas serta tulisan. Lewat coretan sederhana itu, mereka menunjukkan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk bermimpi dan meraih cita-cita. Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) tampak menunjukkan obat ARV yang menjadi bagian dari rutinitas pengobatan harian. Obat tersebut dikonsumsi secara terjadwal pada pagi hari pukul 06.00 WIB dan sore hari pukul 18.00 WIB.

Seorang anak menunjukkan pita merah sebagai simbol dukungan dan kepedulian terhadap HIV/AIDS. Seorang anak ADHA tampak menundukkan kepala dan berdoa dengan khusyuk di sela kegiatannya. Simbol dua anak bergandengan tangan di yayasan pendampingan ODHIV anak menjadi representasi dukungan, harapan, dan perjuangan hidup tanpa stigma. Sore hari dengan bermain di taman. Seorang anak tampak antusias menaiki wahana permainan yang ada sambil menikmati waktu luang. Anak dengan HIV/AIDS (ADHA) tampak melihat anak-anak lain bermain di lingkungannya.