Mengapa Banyak Perempuan Percaya Laki-Laki Bisa Berubah karena Cinta?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi: Perempuan yang percaya bahwa laki-laki bisa berubah foto:ChatGPT

Banyak perempuan tetap percaya bahwa laki-laki bisa berubah karena cinta, bahkan setelah diselingkuhi, dibohongi, direndahkan, atau diperlakukan secara toksik dalam hubungan. Dari luar, hal ini sering dianggap aneh. Tidak sedikit orang langsung berkata, kenapa masih bertahan? Atau kalau sudah disakiti berkali-kali, kenapa tidak pergi saja? Padahal kenyataannya jauh lebih rumit daripada sekadar persoalan tidak bisa move on atau terlalu cinta. Ada proses emosional, pengalaman hidup, dan konstruksi sosial yang membuat banyak perempuan percaya bahwa cinta mampu mengubah seseorang.

Sejak kecil, perempuan sering tumbuh dengan cerita bahwa cinta adalah kesabaran dan pengorbanan. Dalam film, novel, lagu, bahkan sinetron, perempuan yang tetap bertahan menghadapi laki-laki “bermasalah” sering digambarkan sebagai sosok yang setia dan berhati besar. Laki-laki dingin dipercaya akan luluh oleh kelembutan perempuan. Laki-laki nakal dianggap akan berubah jika menemukan perempuan yang tepat.

Misalnya dalam film Ada Apa dengan Cinta? Sosok Rangga digambarkan dingin, tertutup, dan sulit dekat dengan orang lain, tetapi perlahan menjadi lebih terbuka karena kehadiran tokoh Cinta dalam hidupnya. Dalam Twilight, Bella tetap bertahan dalam hubungan yang penuh risiko dan posesivitas karena percaya cintanya mampu mempertahankan Edward.

Bahkan dalam banyak lagu populer Indonesia, perempuan sering digambarkan tetap menunggu dan memaafkan laki-laki yang menyakitinya demi mempertahankan cinta. Akibatnya, banyak perempuan tanpa sadar tumbuh dengan keyakinan bahwa tugas mereka dalam hubungan adalah menyembuhkan dan memperbaiki laki-laki yang mereka cintai.

Padahal hubungan bukan tempat rehabilitasi satu arah. Cinta memang bisa memberi dukungan emosional, tetapi cinta saja tidak cukup untuk mengubah seseorang yang tidak benar-benar ingin berubah. Dalam buku "The Will to Change: Men, Masculinity, and Love" karya Bell Hooks tahun 2004, dijelaskan bahwa budaya patriarki membentuk laki-laki untuk menekan emosi, menghindari kerentanan, dan merasa harus dominan dalam hubungan. Karena itulah, banyak laki-laki tumbuh tanpa kemampuan emosional yang sehat untuk membangun relasi yang setara. Masalahnya bukan sekadar kurang dicintai, melainkan ada pola sosial yang sudah tertanam sejak lama.

Namun, banyak perempuan tetap berharap karena mereka sering jatuh cinta bukan hanya pada siapa laki-laki itu sekarang, tetapi pada kemungkinan tentang siapa dia “bisa jadi.” Mereka melihat sisi lembut yang kadang muncul sesekali lalu menjadikannya harapan besar. Ketika laki-laki toxic meminta maaf, menangis, bersikap romantis, atau berkata ingin berubah, perempuan sering merasa bahwa sebenarnya masih ada harapan. Mereka berpikir bahwa di balik semua sikap buruk itu ada laki-laki baik yang belum sepenuhnya muncul.

Contoh paling sederhana bisa dilihat dari hubungan yang penuh drama putus-nyambung. Misalnya seorang perempuan sudah beberapa kali memergoki pasangannya chatting dengan perempuan lain. Setiap ketahuan, laki-laki itu menangis, meminta maaf, mengaku khilaf, lalu berubah menjadi sangat perhatian selama beberapa minggu. Ia mulai memberi kabar terus-menerus, mengantar jemput, bahkan berkata bahwa hanya perempuan itu yang bisa membuat dirinya berubah.

Pada fase seperti ini, banyak perempuan akhirnya luluh lagi karena merasa usahanya selama ini mulai membuahkan hasil. Mereka mulai percaya bahwa kesabaran dan pengorbanannya tidak sia-sia. Padahal, perubahan itu sering kali hanya muncul sementara sampai keadaan kembali tenang. Setelah laki-laki dimaafkan dan hubungan terasa aman kembali, pola lama pun terulang berbohong lagi, menghilang lagi, atau kembali mencari perhatian perempuan lain.

Di sinilah hubungan toksik sering menjadi rumit. Hubungan seperti ini biasanya tidak selalu buruk setiap saat. Ada momen-momen manis yang membuat seseorang bertahan. Kadang pasangan sangat perhatian, sangat romantis, dan membuat perempuan merasa dicintai dengan luar biasa. Namun, di lain waktu ia bisa menjadi dingin, manipulatif, posesif, bahkan menyakitkan secara emosional. Pola tarik-ulur seperti ini justru membuat hubungan semakin sulit dilepaskan karena perempuan terus berharap versi “baik” dari laki-laki itu akan kembali lagi.

Dalam buku "Attached: Are You Anxious, Avoidant or Secure?" karya Amir Levine dan Rachel Heller tahun 2010, dijelaskan bahwa banyak orang bertahan dalam hubungan tidak sehat karena terjebak pola emosional yang membuat mereka terus mencari validasi dan rasa aman dari pasangan. Ketika pasangan tiba-tiba memberi perhatian setelah sebelumnya menjauh, otak merespons itu sebagai harapan. Akibatnya, seseorang menjadi semakin terikat secara emosional meskipun hubungan tersebut membuatnya menderita.

Banyak perempuan akhirnya hidup dalam siklus menunggu perubahan. Hari ini disakiti, besok diberi perhatian kecil lalu kembali percaya. Mereka mengingat janji-janji pasangan lebih kuat daripada luka yang mereka alami sendiri. Ketika laki-laki berkata, "Aku janji berubah", kalimat itu sering terdengar lebih besar daripada semua kebohongan sebelumnya. Harapan kecil menjadi alasan untuk bertahan lebih lama.

Lundy Bancroft dalam buku "Why Does He Do That?: Inside the Minds of Angry and Controlling Men" tahun 2002 menjelaskan bahwa laki-laki manipulatif sering tahu kapan harus meminta maaf dan kapan harus menunjukkan penyesalan agar pasangannya tidak pergi. Mereka bisa sangat meyakinkan ketika takut kehilangan pasangan, tetapi penyesalan tidak selalu berarti perubahan karakter. Banyak orang salah membedakan antara rasa bersalah sesaat dengan perubahan yang benar-benar konsisten.

Yang membuat keadaan semakin sulit adalah banyak perempuan merasa hubungan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka. Ketika pasangan marah-marah, selingkuh, atau bersikap kasar, perempuan sering justru menyalahkan dirinya sendiri. Mereka mulai berpikir bahwa dirinya belum cukup sabar, belum cukup pengertian, kurang menarik, atau kurang mampu memenuhi harapan pasangan. Akibatnya, energi mereka habis untuk terus memperbaiki hubungan sendirian.

Padahal hubungan sehat tidak seharusnya membuat satu orang terus bekerja keras menyelamatkan hubungan sementara yang lain terus melukai tanpa usaha berubah. Sayangnya, budaya masih sering memuliakan perempuan yang bertahan. Perempuan yang tetap setia meskipun disakiti dianggap kuat dan tulus. Sebaliknya, perempuan yang memilih pergi kadang dicap egois, tidak sabaran, atau gagal mempertahankan hubungan. Tekanan sosial seperti ini membuat banyak perempuan merasa pergi dari hubungan adalah bentuk kegagalan moral.

Selain itu, rasa takut kehilangan juga memainkan peran besar. Banyak perempuan takut sendirian. Takut memulai ulang. Takut tidak menemukan pasangan lagi. Takut dianggap gagal oleh lingkungan. Dalam kondisi seperti itu, hubungan yang menyakitkan tetap terasa lebih aman dibanding ketidakpastian setelah berpisah. Akibatnya, mereka memilih bertahan sambil terus berharap pasangan akan berubah suatu hari nanti.

Bell Hooks dalam "All About Love: New Visions" tahun 2000 menjelaskan bahwa banyak orang dewasa sebenarnya membawa luka kehilangan kasih sayang sejak masa kecil. Karena itu, ketika mereka menemukan seseorang yang memberi rasa dicintai, mereka akan berusaha mempertahankannya sekuat mungkin, bahkan ketika hubungan itu mulai menyakitkan. Banyak perempuan akhirnya tidak benar-benar bertahan karena bahagia, tetapi karena takut kehilangan rasa dicintai tersebut.

Masalahnya, cinta sering dipahami secara keliru. Banyak orang percaya bahwa jika cintanya cukup besar, maka pasangan akan berubah dengan sendirinya. Padahal perubahan tidak terjadi hanya karena dicintai. Perubahan membutuhkan kesadaran diri, tanggung jawab, dan kemauan nyata dari orang itu sendiri. Seseorang tidak berubah hanya karena pasangannya sabar menangis setiap malam.

Dalam "Why Does He Do That?" (2002), Lundy Bancroft menjelaskan bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika seseorang benar-benar mengakui perilakunya dan secara konsisten berusaha memperbaikinya. Selama seseorang masih terus menyalahkan pasangan, keadaan, masa lalu, atau emosinya sendiri, perubahan biasanya hanya berhenti di janji.

Inilah kenyataan yang sering menyakitkan, tidak semua orang mau berubah. Ada orang yang menikmati kontrol dalam hubungan. Ada yang merasa permintaan maaf sudah cukup tanpa perlu benar-benar memperbaiki diri. Ada juga yang hanya berubah sementara ketika takut ditinggalkan, lalu kembali mengulang pola yang sama setelah pasangannya bertahan.

Karena itu, banyak perempuan sebenarnya tidak kekurangan cinta. Mereka justru terlalu banyak memberi cinta kepada orang yang tidak mampu menghargainya secara sehat. Mereka diajarkan untuk memahami laki-laki, tetapi jarang diajarkan untuk melindungi dirinya sendiri. Mereka diajarkan bertahan, tetapi tidak diajarkan kapan harus berhenti menyelamatkan orang lain demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Banyak perempuan tidak bertahan karena mereka lemah. Mereka bertahan karena sejak lama diajarkan bahwa cinta berarti menunggu, memaafkan, dan percaya pada perubahan. Padahal tidak semua orang berubah hanya karena dicintai dengan tulus. Ada laki-laki yang menangis setelah menyakiti, lalu mengulanginya lagi keesokan hari.

Ada yang meminta maaf bukan karena sadar telah melukai, tetapi karena takut kehilangan seseorang yang selalu memaafkannya. Dan di situlah banyak perempuan perlahan kehilangan dirinya sendiri, bukan karena kurang pintar, melainkan karena terlalu lama percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak ingin menyelamatkan dirinya sendiri.