Otto Iskandar Dinata dan Persib: Sepak Bola sebagai Jalan Perjuangan Bangsa
Lahir di Bojongsoang, Bandung, pada 31 Maret 1879, Otto Iskandar Dinata tumbuh sebagai sosok yang dikenal cerdas, berani, dan dekat dengan rakyat. Namun di balik kiprahnya sebagai pejuang nasional, ada sisi lain dari Otto yang begitu melekat dengan masyarakat Bandung, yakni kecintaannya terhadap sepak bola.
Bagi Otto, sepak bola bukan sekadar hiburan, melainkan ruang perjuangan yang mampu membangkitkan harga diri rakyat pribumi di tengah penjajahan kolonial Belanda.
Sejak muda Otto dikenal aktif dalam pendidikan dan organisasi. Ia menempuh pendidikan di HIS Bandung, Kweekschool Onderbouw Bandung, hingga Hogere Kweekschool di Purworejo sebelum menjadi guru di Banjarnegara dan kembali mengajar di Bandung.
Meski sibuk sebagai guru dan aktivis, Otto memiliki kecintaan besar terhadap olahraga, terutama sepak bola. Pada dekade 1930-an, sepak bola mulai menjadi olahraga rakyat yang sangat populer di Hindia Belanda.
Di lapangan-lapangan sederhana, kaum pribumi menemukan rasa percaya diri untuk melawan dominasi bangsa Eropa. Otto melihat sepak bola sebagai alat pemersatu rakyat.
Menurut catatan sejarah, ia bahkan gemar bermain sepak bola dengan posisi gelandang. Di lapangan, Otto dikenal aktif mengatur ritme permainan sekaligus membakar semangat rekan-rekannya. Karakter itu sama seperti perjuangannya di dunia politik: berani, lantang, dan tidak mudah menyerah.
Keberanian Otto dalam menyuarakan kritik terhadap pemerintah kolonial membuatnya mendapat julukan “Si Jalak Harupat”. Julukan itu menggambarkan sosok yang keras, tangguh, dan selalu siap melawan ketidakadilan. Semangat tersebut pula yang kemudian membuat Otto begitu dekat dengan dunia sepak bola yang kala itu juga menjadi simbol perjuangan kaum pribumi.
Perjuangan Otto Membesarkan Persib di Masa Kolonial
Kedekatan Otto dengan Persib Bandung menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah sepak bola nasional. Persib lahir pada 14 Maret 1933 dari peleburan beberapa klub di Bandung. Sejak awal berdirinya, Persib bukan hanya klub sepak bola, tetapi juga simbol kebanggaan masyarakat Sunda dan pribumi. Otto menjadi salah satu tokoh yang memberi perhatian besar terhadap perkembangan klub tersebut.
Banyak tulisan di internet menyebut Otto sebagai Ketua Umum Persib. Namun faktanya, ia tidak pernah menjabat posisi tersebut. Meski begitu, pengaruhnya terhadap Persib sangat besar. Otto selalu terlibat dalam berbagai kegiatan Persib, bahkan pernah menjadi salah seorang ofisial tim ketika Persib meraih gelar juara Kejurnas PSSI tahun 1937 di Solo.
Sebagai wartawan dan aktivis pergerakan, Otto juga menggunakan media untuk membangun sepak bola Indonesia. Surat kabar Sipatahoenan yang dipimpinnya menjadi media yang aktif memberitakan Persib dan perkembangan sepak bola nasional.
Otto juga menerbitkan majalah “Olahraga” yang kemudian dikenal sebagai salah satu media resmi PSSI pada masa awal organisasi tersebut berdiri. Melalui tulisan-tulisannya, Otto menanamkan semangat nasionalisme kepada rakyat lewat sepak bola.
Pada tahun 1936, Otto dipercaya menjadi Ketua Panitia Kongres PSSI di Bandung. Hal itu membuktikan bahwa dirinya memiliki peran penting dalam perkembangan sepak bola nasional. Baginya, sepak bola bukan hanya permainan, tetapi alat perjuangan bangsa untuk menunjukkan bahwa rakyat Indonesia mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain.
Pada 1938, Otto resmi masuk dalam jajaran pengurus Persib bersama sejumlah tokoh lain. Di masa kepengurusannya, Persib berkembang menjadi kekuatan besar sepak bola Jawa Barat. Otto membantu membangun semangat bahwa Persib harus menjadi simbol kebanggaan rakyat Bandung dan tanah Pasundan.
Si Jalak Harupat: Warisan Otto untuk Persib dan Indonesia
Nama Otto Iskandar Dinata kini diabadikan menjadi Stadion Si Jalak Harupat di Kabupaten Bandung. Nama itu bukan sekadar simbol olahraga, tetapi penghormatan atas jasa seorang tokoh yang menjadikan sepak bola sebagai bagian dari perjuangan bangsa.
Setiap kali stadion dipenuhi ribuan Bobotoh, semangat perjuangan Otto seakan kembali hidup di tengah masyarakat. Periset sejarah dan budaya Islam, Sopaat Rahmat Selamet, pernah menulis bahwa Otto Iskandar Dinata bukan hanya pejuang kemerdekaan, tetapi juga tokoh yang meninggalkan spirit keberanian dan persatuan melalui sepak bola.
Sementara penulis sejarah Persib, Iip D. Yahya, menyebut Otto sebagai tokoh yang selalu hadir dalam perkembangan Persib sejak masa awal. “Otto bukan hanya pengurus, tetapi juga pemain dan propagandis sepak bola yang menjadikan Persib bagian dari identitas perjuangan rakyat Bandung,” tulisnya.
Hingga kini, nama Otto Iskandar Dinata tetap hidup dalam sejarah Indonesia dan Persib Bandung. Ia bukan sekadar nama jalan atau stadion, melainkan simbol keberanian dan kecintaan terhadap rakyat.
Dari lapangan sepak bola hingga perjuangan kemerdekaan, Otto menunjukkan bahwa olahraga dapat menjadi alat pemersatu bangsa dan membangkitkan harga diri masyarakat Indonesia.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·