Jakarta (ANTARA) - Tiga puluh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk cerita tentang generasi dulu yang menonton Piala Dunia lewat layar TVRI. Mereka kini sudah punya anak cucu. Piala Dunia, dulu, selalu ditonton bareng-bareng di layar kaca, sampai pada satu masa ketika akhirnya menikmati tayangan Piala Dunia harus bayar di layanan streaming berlangganan.
Tapi, untuk Piala Dunia 2026 berbeda. Pemerintah melalui LPP TVRI resmi mencapai kesepakatan dengan FIFA untuk menjadi pemegang hak siar resmi Piala Dunia 2026 yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Seluruh 104 pertandingan, dari fase grup hingga final, ditayangkan secara gratis. Tidak ada paywall, tidak ada paket berlangganan, tidak ada syarat apa pun selain memiliki antena dan televisi.
Keputusan ini menutup periode di mana hak siar Piala Dunia dikuasai oleh entitas swasta dengan model bisnis berbayar. Masyarakat yang tinggal di kota besar dengan daya beli mencukupi memang tidak banyak merasakan hambatan. Namun bagi warga di kabupaten terpencil, wilayah kepulauan, atau daerah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) turnamen empat tahunan itu belum bisa dinikmati secara utuh.
Pelaksanaan mandat ini tidak berjalan sendiri. Masyarakat Indonesia dapat menyaksikan Piala Dunia melalui siaran TVRI, diperkuat dengan siaran Radio Republik Indonesia (RRI), serta LKBN ANTARA melalui pemberitaan secara daring hingga platform media sosial.
Tiga lembaga negara ini mengisi fungsi yang saling melengkapi. TVRI sebagai pemegang lisensi utama menanggung beban terbesar, yakni menargetkan penyiaran berkualitas dunia yang inklusif, mudah diakses, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal.
RRI mengisi celah di daerah-daerah yang sinyal televisi masih belum stabil dan berbagai program lainnya. Sementara ANTARA mengelola arus informasi dan narasi publik, termasuk diseminasi ke tingkat lokal melalui 34 biro regional, termasuk 300 layar LED yang tersebar di berbagai tempat publik.
Dalam era disrupsi digital, kolaborasi semacam ini memiliki nilai lebih dari sekadar logistik. Pengamat sepak bola Mohammad Kusnaeni menilai siaran langsung Piala Dunia 2026 bisa menjadi ajang memperkuat eksistensi bagi lembaga penyiaran publik TVRI, RRI, serta LKBN ANTARA di tengah masyarakat, di era di mana beragam pilihan platform media sosial menjadi tantangan berat bagi lembaga penyiaran publik.
Piala Dunia, dengan daya tariknya yang tidak tertandingi oleh konten lain, menjadi semacam uji tekanan terbaik sekaligus kesempatan terbesar bagi LPP untuk membuktikan relevansinya.
Infrastruktur digital
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
3 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·