Ramai Klaim Sarden Kalengan Bukan UPF, Risiko Paparan BPA Kembali Mencuat

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Sarden kalengan mendadak banyak diperbincangkan lantaran disebut bukan termasuk produk ultra processed food (UPF). Seolah dengan label non-UPF, produk ini jadi jauh lebih sehat dibanding anggapan sebelumnya.

Ini yang salah kaprah, karena risiko kesehatan dari sebuah produk tidak hanya dilihat dari tingkat pemrosesan sebagaimana pada sistem klasifikasi NOVA. Ada banyak faktor lain yang mempengaruhi penilaian sehat atau tidaknya suatu produk.

Selain karena kandungan natriumnya yang tinggi, risiko kesehatan dari produk sarden kalengan selama ini juga banyak disorot karena risiko paparan BPA (Bisphenol A). Polimer yang dikenal sebagai campuran plastik policarbonate ini ternyata dipakai juga sebagai resin epoksi untuk melapisi kaleng makanan, termasuk pada kemasan sarden.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada kondisi tertentu seperti pemanasan dan kerusakan, partikel BPA bisa terlepas dari lapisan tersebut dan bermigrasi ke bahan makanan. Paparan partikel BPA yang bermigrasi ini jika melebihi takaran tertentu, dapat menyebabkan dampak negatif bagi kesehatan.

Risiko migrasi BPA dari kaleng kemasan makanan diteliti antara lain dalam sebuah riset yang dipublikasikan di Jurnal Keteknikan Pertanian tahun 2023. Dalam riset ini, migrasi partikel BPA ditemukan pada kadar yang kecil, di bawah Tolerable Daily Intake (TDI) sebesar 4 μg/kgBB/hari.

Paparan di bawah takaran yang diatur dalam regulasi diyakini memang tidak menyebabkan dampak kesehatan. Namun demikian, ada juga kekhawatiran bahwa dalam jangka panjang paparan tersebut dapat terakumulasi.

"Kaitannya dengan kontra indikasi kesehatannya adalah jika konsumsi makanan yang tercemar BPA terus menerus bisa mengganggu kesehatan terutama kesehatan metabolik, gangguan hormonal, dan bahkan kanker," jelas praktisi kesehatan dr Iflan Nauval, M.SclH, SpGK, kepada detikcom, Kamis (21/5/2026).

Bukan UPF Tak Otomatis Berarti Lebih Sehat

Anggapan bahwa sarden kalengan tidak termasuk UPF memang disambut gembira oleh penggemar produk ini. Faktanya, produk semacam ini memang diatur ketat oleh regulasi sehingga risiko keamanannya relatif dapat dikontrol, terlepas dari kategori pengolahannya, baik UPF maupun non-UPF.

Namun demikian, risiko kesehatan suatu produk pangan tidak dilihat hanya dari proses pengolahan. Kandungan natrium yang lebih tinggi pada makanan kalengan juga jadi salah satu pertimbangan untuk menilai risiko kesehatan, begitu pula paparan bahan kimia berbahaya yang mungkin bisa terjadi akibat kondisi tertentu seperti panas ekstrem dan kerusakan.

Soal sarden kalengan sendiri, dr Iflan sependapat bahwa produk tersebut tidak masuk kategori UPF. Dengan hanya ada melalui proses pembersihan dan sterilisasi, sarden kalengan disebutnya lebih tepat masuk kategori processed food.

"Namun demikian, apabila pabrikan menambahkan aditif-aditif tertentu yang tidak sesuai RDA-nya, maka bisa dikategorikan sebagai UPF," lanjutnya.

Simak Video "Video: Takjil Kurma Ditambah Butter, Berapa Kalorinya?"
[Gambas:Video 20detik]
(mal/up)

Sarden Kalengan UPF atau Bukan?

7 Konten

Kesalahpahaman tentang 'ultra processed food' (UPF) sepertinya sudah melebar ke mana-mana. Karenanya, kegaduhan terjadi saat ada yang mengatakan sarden kalengan bukan UPF. Kalau ternyata bukan UPF, apakah berarti lebih sehat? Nggak juga ternyata.