Surabaya (ANTARA) - Derap gamelan memecah udara di kawasan Tugu Pahlawan, Kota Surabaya malam itu. Gunungan diarak perlahan, kidung Jawa dilantunkan, sementara wayang kulit mulai memainkan kisah “Dewa Ruci” di hadapan warga yang datang dari berbagai sudut kota.
Di tengah lalu lintas metropolitan, gedung tinggi, pusat belanja, dan layar digital yang tak pernah tidur, Surabaya tiba-tiba seperti berhenti sejenak untuk menengok dirinya sendiri.
Ruwatan Kota yang digelar Pemerintah Kota Surabaya pada Hari Jadi Kota Surabaya ke-733 bukan sekadar agenda budaya tahunan. Di balik sesaji, kirab, dan wayang kulit, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar. Apa sebenarnya yang sedang diruwat oleh sebuah kota modern seperti Surabaya.
Ruwatan dalam tradisi Jawa dikenal sebagai upaya membuang sengkala atau energi buruk agar kehidupan kembali seimbang. Ritual ini lahir dari kesadaran bahwa manusia tidak hidup sendiri, melainkan berada dalam hubungan dengan alam, ruang sosial, dan nilai-nilai spiritual.
Ketika tradisi itu dipindahkan ke ruang kota modern, maknanya meluas. Yang diruwat bukan hanya individu, melainkan juga arah pembangunan, ingatan kolektif, bahkan cara sebuah kota memperlakukan manusianya.
Di titik itulah, ruwatan Surabaya menjadi menarik untuk dibaca lebih dalam. Ia bukan sekadar romantisme budaya, tetapi cermin kegelisahan kota besar yang sedang mencari keseimbangan di tengah percepatan zaman.
Baca juga: Pemkot: "Surabaya Vaganza" upaya merawat keberagaman budaya
Ruang batin
Surabaya tumbuh sebagai kota metropolitan dengan ritme yang semakin cepat. Jalan diperlebar, kawasan bisnis berkembang, apartemen dan pusat komersial terus bermunculan. Dalam banyak indikator, Surabaya termasuk kota dengan pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur yang progresif di Indonesia.
Namun pembangunan kota modern hampir selalu membawa risiko yang sama. Kota menjadi efisien, tetapi perlahan kehilangan ruang batin.
Fenomena itu tampak dalam kehidupan perkotaan yang makin individualistis. Kampung-kampung kota terdesak modernisasi, ruang interaksi warga menyusut, sementara generasi muda lebih akrab dengan budaya digital global dibanding tradisi lokal di lingkungannya sendiri. Surabaya tidak sendirian menghadapi situasi ini. Kota-kota besar di dunia juga mengalami hal serupa.
Sejumlah kota kemudian mencoba mencari jalan pulang melalui kebudayaan. Seoul menghidupkan kembali kawasan budaya tradisional Bukchon Hanok Village sebagai identitas kota modern Korea Selatan. Jepang mempertahankan festival lokal di tengah kemajuan teknologi. Bahkan Paris menjaga pasar tradisional dan ruang seni publik sebagai bagian dari identitas sosial kotanya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·