Pasar saham di kawasan Asia diproyeksikan mengalami penurunan setelah menghadapi sesi perdagangan yang volatil di Wall Street seiring kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik Iran. Pergerakan ini juga dipengaruhi oleh penantian rilis data inflasi Amerika Serikat yang diprediksi meningkat pada Mei 2026.
Kontrak berjangka untuk indeks saham di Jepang, Hong Kong, dan Korea Selatan secara keseluruhan bergerak ke arah yang lebih rendah seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Rabu (10/6). Langkah ini mengikuti penurunan tipis kontrak berjangka saham AS setelah indeks S&P 500 mengalami fluktuasi tajam pada hari Selasa sebelum akhirnya ditutup sedikit melemah.
Kondisi pasar juga diwarnai penurunan indeks Nasdaq 100 sebesar 1,1 persen akibat aksi rotasi investor yang keluar dari sektor teknologi. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate justru merangkak naik menyusul indikasi penurunan permintaan yang sempat memicu kejatuhan harga hingga lebih dari 3 persen.
Ketegangan geopolitik meningkat setelah AS melancarkan serangan pertahanan diri terhadap Iran menyusul tuduhan Presiden Donald Trump terkait penembakan helikopter militer Amerika Serikat di dekat Oman. Situasi ini mengancam gencatan senjata serta prospek pemulihan jalur pasokan energi di Selat Hormuz.
Sentimen pasar kini diuji oleh volatilitas saham teknologi di tengah kuatnya data ketenagakerjaan AS yang memicu keraguan terhadap pelonggaran kebijakan moneter The Fed. Pemimpin Investasi Baker Boyer Bank memberikan pandangannya mengenai situasi pasar saat ini yang sempat berada di level rekor.
"Euforia sudah terbentuk selama berbulan-bulan dan mendorong saham mencetak rekor demi rekor. Jadi apa pun yang dipersepsikan negatif bagi saham, mulai dari inflasi lebih tinggi hingga potensi kenaikan suku bunga akan mengguncang pasar setelah reli historis," kata Chief Investment Officer Baker Boyer Bank, John Cunnison.
Di sisi lain, pergeseran minat investasi mulai meluas ke sektor defensif seperti real estate yang naik 2,1 persen, layanan kesehatan 1,3 persen, dan utilitas 1,1 persen. Hanya sektor teknologi dan energi yang tercatat melemah dalam penutupan perdagangan terbaru tersebut.
Kondisi perluasan reli ke sektor non-teknologi ini dinilai memberikan dampak yang lebih sehat bagi struktur pasar secara keseluruhan. Pihak eToro memberikan analisis terkait konsentrasi pasar yang terjadi sebelumnya.
"Meski kami senang melihat kepemimpinan sektor teknologi, akan lebih konstruktif jika reli ini meluas ke sektor lain," kata Bret Kenwell dari eToro.
Ia juga menambahkan pandangan mengenai stabilitas pasar jika investasi hanya terfokus pada satu sektor saja.
"Ketika kepemimpinan hanya terkonsentrasi pada satu sudut sektor teknologi, fondasi pasar menjadi lebih fragile," tambah Bret Kenwell dari eToro.
Kekhawatiran pasar bertambah seiring rencana penerbitan saham baru dalam jumlah besar termasuk rencana IPO SpaceX pada pekan ini. Penambahan pasokan saham baru tersebut memicu spekulasi terkait kesiapan likuiditas dan daya serap pasar modal.
Pihak Ameriprise mempertanyakan asal dana yang akan digunakan untuk menyerap emisi saham baru tersebut. Keterlibatan investor institusi dikhawatirkan akan memicu aksi ambil untung pada portofolio yang ada.
"Uangnya berasal dari mana?" kata Anthony Saglimbene dari Ameriprise.
Ia kemudian memaparkan sumber potensial dana dan dampak partisipasi institusi terhadap kepemilikan saham saat ini.
"Sebagian permintaan mungkin berasal dari kas. Sebagian lagi dari partisipasi investor ritel baru. Namun partisipasi institusi dalam transaksi sebesar ini juga dapat memaksa investor mengurangi kepemilikan saham yang sudah mencetak keuntungan besar," ujar Anthony Saglimbene dari Ameriprise.
Sementara itu, obligasi pemerintah AS mengalami penguatan setelah penurunan harga minyak dari level tertinggi April meredakan kekhawatiran inflasi jangka pendek. Imbal hasil obligasi dilaporkan turun sekitar tiga hingga empat basis poin di seluruh tenor.
Kendati demikian, para pelaku pasar tetap bersiap mengantisipasi rilis data indeks harga konsumen atau CPI pada hari Rabu. Ekonom memproyeksikan inflasi tahunan CPI akan naik menjadi 4,2 persen dari posisi bulan sebelumnya sebesar 3,8 persen, sedangkan inflasi inti diprediksi naik ke 2,9 persen.
Peningkatan indikator ekonomi ini memperkuat proyeksi bahwa bank sentral AS berpotensi mengambil langkah pengetatan moneter lebih lanjut. Kepala Strategi Suku Bunga memberikan proyeksi akhir mengenai arah kebijakan Federal Reserve.
"Kombinasi data tenaga kerja yang lebih kuat dan inflasi yang masih tinggi membuat pasar mulai memperhitungkan peluang lebih besar bahwa The Fed harus memperketat kebijakan," kata Kepala Strategi Suku Bunga AS TD Securities, Gennadiy Goldberg.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·