Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dipastikan keluar dari kelompok indeks FTSE Large Cap mulai 22 Juni 2026 akibat tingkat konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Dilansir dari Money, pengumuman resmi dari FTSE Russell setelah tinjauan kuartalan Mei 2026 tersebut dinilai berpotensi menambah tekanan terhadap pergerakan harga saham emiten energi dan infrastruktur milik Grup Sinar Mas ini dalam jangka pendek.
FTSE Russell menilai mayoritas saham DSSA yang dikuasai segelintir pemegang saham membuat kondisi saham kurang likuid dan rentan mengalami volatilitas tinggi, di mana data Bursa Efek Indonesia (BEI) per 31 Maret 2026 menunjukkan tingkat konsentrasi kepemilikan DSSA mencapai 95,76 persen.
Sebelumnya, tekanan terhadap DSSA juga telah muncul setelah saham tersebut terdepak dari indeks LQ45 BEI untuk periode 4 Mei hingga 31 Juli 2026, serta kini berpotensi dikeluarkan dari indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) karena isu serupa.
Penyesuaian portofolio oleh investor institusi pasif diperkirakan akan memicu keluarnya dana dari sejumlah emiten yang tereliminasi dari indeks global tersebut.
“Efek outflow dana index sih. Kalau outflow sih pasti ada emiten yang keluar seperti BREN, CTRA, DSSA, HEAL, NCKL. Tentunya ini mengalami tekanan jual wajar,” ujar Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta.
Meskipun menghadapi tekanan indeks, strategi korporasi yang direncanakan emiten dinilai masih dapat memberikan dampak positif bagi likuiditas saham di masa mendatang.
“Kalau DSSA ini kan karena faktor stock split 1 banding 25. Jadi itu juga supaya bisa meningkatkan likuiditas daripada pergerakan harga saham DSSA,” ujar Nafan Aji Gusta.
Di sisi lain, arah harga saham DSSA diperkirakan cenderung melemah karena hilangnya permintaan dari dana pasif selama risiko dari indeks global dan domestik belum terselesaikan.
“Tekanannya masih dominan. Selama risiko keluar dari MSCI dan indeks BEI belum selesai, arah harga cenderung volatile cenderung turun karena hilangnya demand dari dana pasif,” ujar Pengamat pasar modal, Reydi Octa.
Penurunan minat dari investor institusi juga dipicu oleh tipisnya likuiditas saham yang membuat harganya menjadi lebih mudah digerakkan di pasar.
“Status HSC membuat saham jadi kurang investable, likuiditas tipis, dan mudah digerakkan. Investor institusi cenderung menghindari, sehingga volatilitas makin tinggi,” papar Reydi Octa.
Bagi para investor di pasar modal, situasi ini membutuhkan kecermatan lebih dalam mengambil keputusan investasi, terutama bagi yang belum memiliki posisi.
“Sebaiknya wait and see. Masuk hanya jika ada katalis jelas seperti perbaikan free float, keluar dari status HSC, atau konfirmasi kembali masuk indeks. Tanpa itu, risk-reward masih tidak menarik,” kata Reydi Octa.
Fluktuasi yang terjadi pada saham dengan kapitalisasi besar seperti DSSA dipastikan akan memberikan dampak yang lebih luas terhadap performa sektoral dan pergerakan pasar secara umum.
“Sektor yang paling terdampak adalah energi dan infrastruktur. Hal ini tidak lepas dari peran DSSA dan BREN yang memiliki kapitalisasi pasar sangat besar, sehingga fluktuasi pada kedua saham tersebut secara langsung menjadi pemberat bagi performa sektor masing-masing sekaligus menekan laju IHSG secara keseluruhan,” ujar Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian.
5 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·