Turki memang membantu memfasilitasi tiga pesawat untuk menerbangkan dan mengangkut seluruh awak kapal yang dideportasi dari Israel ke Istanbul.
Namun ternyata bukan itu saja. Beberapa faktor lain mengungkap latar belakang dibebaskannya seluruh awak GSF.
Aksi GSF Bongkar Kepalsuan
Artikel pendek ini saya persembahkan sebagai rasa simpati untuk menyambut kedatangan para pejuang Flotilla. Rekan wartawan dan relawan, para aktivis pejuang Palestina yang telah selamat tiba di Tanah Air.
Kepedulian berikut semangat perjuangan, melalui misi GSF dan solidaritas pada Gaza dan Palestina ini, telah menjadi simbol perlawanan gerakan masyarakat sipil secara terbuka dan bermanfaat.
Aksi GSF dalam video yang terviralkan itu, berhasil membongkar kepalsuan Israel. Dunia semakin sadar--Israel dalam wajah kejam dan tak berperikemanusiaan ini--menjadikan kelaparan sebagai senjata adalah pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional, dan hal ini harus bisa segera dihentikan.
Blokade secara militer, tanpa dasar hukum adalah tindakan benar-benar ilegal, tidak bertanggung jawab sekaligus berbahaya, apalagi mengakibatkan ribuan warga Gaza menderita kelaparan.
Insiden kapal Mavi Marmara, contoh relevan, kejahatan serangan militer Israel unit Shayetet 13, yang menggugurkan 10 aktivis dan relawan pada 31 Mei 2010, tidak boleh terulang.
Melalui tulisan opini yang berjudul "Doktrin Dunia Tak Berdaya" diterbitkan di harian Kompas (Mei, 2010), kami menyampaikan turut berduka--tidak saja karena gugurnya 10 awak Mavi Marmara--tapi juga fakta mundurnya peran lembaga PBB, yang mengakibatkan solusi diplomatik lumpuh, tak berdaya menghadapi sepak terjang Israel.
Belakangan melewati 16 tahun perjalanan Israel, di bawah Netanyahu ini terasa semakin merajalela melumpuhkan perlawanan dunia.
Bagaimana tidak. Setelah 16 tahun insiden Mavi Marmara--aksi perompakan, penculikan, penyiksaan dan okupasi pada kapal kemanusiaan GSF--misi sipil membagikan bantuan pangan, air, makanan bayi, susu, obat, selimut, pakaian bagi warga Gaza yang kelaparan itu pun, masih juga dilakukan Israel.
Tentara Israel bersenjata lengkap ini--bak monster keji tak beradab--saat menghadapi masyarakat sipil yang tidak bersenjata dan non kombatan, sekalipun hanya untuk membagikan bantuan pangan, air minum dan obat-obatan.
Inisiatif masyarakat sipil ala GSF ini patut mendapat apresiasi, sebuah misi kemanusiaan--misi ala Mother Teresa yang tak lagi bisa dilakukan banyak negara--di tengah blokade bantuan untuk Gaza.
Video Ben Gvir menggelinding viral sesungguhnya puncak dari gunung es, menyampaikan pesan pada dunia, mengapa Flotilla gagal mencapai Gaza karena (lagi) pasukan tempur unit Shayetet 13 AL Israel melakukan perompakan dan penculikan dengan kekerasan di perairan internasional, di kilometer 463 (260 mil laut) wilayah Barat Siprus.
Reputasi Palsu Israel
Klip video dokumentasi asli Ben Gvir, cuplikan gambar hidup kekerasan dan penyiksaan atas 452 orang rombongan kapal kemanusiaan GSF yang viral ini, telah membuat PM Netanyahu dan sirkel elit kabinet heboh dan juga panik.
Tak hanya itu, negara Uni Eropa selain melakukan protes dengan memanggil para duta besar Israel, juga mengecam keras aksi teror Israel ini, lucunya, seolah mereka baru melihat kekejian teror Israel untuk pertama kalinya.
Video Ben Gvir terus menggelinding viral dan berdampak menimbulkan reaksi berantai, hujatan di sana sini dan kecaman banyak negara, dan belum berhenti sekalipun Netanyahu menyerah dengan membebaskannya.
Netanyahu mencari exit strategy--jalan pintas yang tidak membuatnya kehilangan muka--atas protes dari seluruh dunia. Netanyahu mendapat momen untuk mengecam Ben Gvir sekaligus menjadikannya celah--keluar dari kemelut dan mencari dalih membebaskan awak GSF.
Klip video Ben Gvir memvisualisasikan bukti kekerasan di tengah puluhan tahanan terlihat diikat dan berlutut dengan kepala menempel di lantai, sementara lagu kebangsaan rezim zionis Israel berkumandang dari pengeras suara. Bentuk penyanderaan ini menguak cara keji militer IDF memperlakukan wartawan dan relawan sipil.
Ben Gvir, Menteri Keamanan Nasional Israel, orang no 4 di kabinet, mengibarkan bendera Israel yang besar dan sambil berteriak kepada mereka: "Selamat datang di Israel--kami yang berkuasa di sini."
Ulasan soal itu, berjudul "Bukan Indonesia Yang Bebaskan Flotilla" (RMOL, 22 Mei 2026) adalah saksi atas kemelut isi video itu, yang ternyata, justru menjadi berkah bagi pembebasan awak GSF.
Sanksi Bagi Israel
Mike Huckabee Duta Besar AS untuk Israel berkomentar keras bahwa video Gvir tercela dan memukul wajah Israel. Huckabee, mengkritik Ben-Gvir, menyatakan bahwa menteri tersebut telah mengkhianati martabat bangsanya.
Dunia global dan para aktivis penentang aksi genosida Israel telah memperoleh bukti kuat melalui video Gvir bahwa hal yang mereka tuduhkan kepada Israel selama ini terbukti benar.
Terlihat sangat jelas di semua momen, aksi kekerasan, persekusi tidak manusiawi, senang menyiksa sebagai bangsa yang tidak siap hidup tanpa merampas hak orang lain.
Sepotong video pendek Ben Gvir ini menjadi amat penting karena merupakan momen virtual menyampaikan realitas sebenarnya kepada seluruh dunia, kejahatan yang dilakukan Israel.
Benar. Aksi Ben Gvir dalam video itu memberi bukti langsung dan tak terbantahkan kepada dunia bahwa kekerasan struktural dan pengabaian hak asasi manusia merupakan praktik sehari hari-hari dari para pejabat di bawah Netanyahu saat ini.
Maka tak mengagetkan, Italia mendorong sanksi Uni Eropa terhadap Ben-Gvir atas perlakuan terhadap aktivis armada kemanusiaan untuk Gaza ini. Negara Eropa Barat memanggil Duta Besar Israel untuk memberikan teguran dan kecaman.
Menlu Prancis, Jean Noel Barrot, sampai menjatuhkan sanksi kepada Ben Gvir dilarang dan tak akan diberikan visa untuk berkunjung ke Prancis.
Fakta Sejarah yang Buruk
Opini dunia belakangan bergeser drastis menolak aksi zionis Israel di berbagai belahan dunia adalah perlawanan sejarah terhadap kesewenangan yang amat tidak manusiawi dan isolasi global pada aksi keji tentara Israel.
Rentetan fakta sejarah, aksi sadis pembunuhan massal dan genosida sepanjang tiga tahun pasca 7 0ktober 2023, menggunakan ratusan ribu bom (masing-masing seberat 900 kg dan panjang hampir 4 meter) telah menewaskan lebih dari 77.000 warga Gaza wanita, anak dan bayi-bayi, tewas amat mengenaskan.
Belum lagi, luluh lantaknya ribuan bangunan di Gaza rata dengan tanah, membuat warga Gaza kehilangan tempat hidup, sementara lebih dari 150 ribu orang catat dan luka berat tanpa fasilitas perawatan rumah sakit, dokter, perawat dan obat-obatan.
Ratusan ribu kekerasan fisik militer IDF dalam aksi perampasan rumah dan tanah, pengusiran penduduk Gaza, penghancuran rumah sakit, fasilitas air minum berikut aksi sadis tentara IDF menembaki wanita dan anak-anak yang berebut memungut bantuan. Itu semua menjadi catatan sejarah hitam Israel.
Israel melakukan pembunuhan terhadap dokter, petugas medis, relawan dan ratusan wartawan saksi hidup teror fisik dan mental tentara IDF.
Itu semua fakta kehidupan sehari hari di Gaza, menjadi dokumen, memori, catatan kekejian Israel yang tidak berperikemanusiaan dan tidak mungkin terlupakan.
Fakta buruk genosida Israel yang bertentangan dengan nurani dan kewarasan ini, menjadi musuh terbesar dan terkuat yang akan menghancurkan citra zionis Israel.
Dari situ, mesin propaganda dan rekayasa pencitraan Israel (Hasbara) dioptimalisasi melalui sentra jaringan digital rahasia, sentra bot dan algoritma bagi misi kontra opini maupun narasi diplomasi publik.
Misi utamanya membangun narasi atas fakta yang terjadi. Kemudian menghimpun buzzer dari elite, kalangan akademis, publik figur, politisi, influencer dan lain sebagainya untuk berpihak pada sikap Israel.
Tidak mengherankan bujet Hasbara melonjak dari sekitar hanya 15 juta Dolar AS pada tahun 2023, naik hampir 50 kali menjadi 700 juta Dolar AS pada tahun 2026, sebuah angka yang belum pernah terjadi sebelumnya.
No Viral No Justice
Mengapa klip video Ben Gvir bisa menggelinding viral dan menjadi perhatian Netanyahu dan menimbulkan ketegangan di kabinet?
Pertama, video klip yang menyiarkan secara visual seorang wanita awak GSF dijambak rambutnya secara kasar, di tengah peserta harus menundukkan kepala menempel di lantai menjadi bukti tak terelakkan bahwa kekerasan dan pelanggaran HAM selalu dilakukan Israel. Itu semua adalah catatan dan dokumen sejarah, bukti yang otentik bahwa Israel menggunakan kekerasan sebagai komunikasi politiknya.
Kedua, visualisasi yang viral ini mendapat reaksi besar, pemanggilan duta besar Israel, pernyataan protes dan kecaman berikut sanksi dari negara negara Uni Eropa pada Israel dan Ben Gvir. Netanyahu pun mengecam Ben Gvir yang tindakannya dianggap merusak martabat Israel.
Bagi Netanyahu, dosa Ben Gvir bukan terletak pada perintah penyiksaan atau penghinaan terhadap para aktivis, tetapi dosa paling berat yang dilakukannya adalah menyiarkannya (isi video Gvir) ke seluruh dunia.
Ben Gvir tidak peduli dengan citra eksternal Israel; ia melakukan aksi penyebaran klip video ini, untuk menghimpun dukungan kelompok ekstrimis sayap kanan di level domestiknya, kata Fathi Nimer, seorang peneliti kebijakan Palestina di Al-Shabaka.
Konvoi aksi kemanusiaan dari 50 negara, kapal kecil tanpa persenjataan terus menantang blokade Israel. Tanpa terasa namun membuat Netanyahu khawatir GSF telah berhasil bertahan--dengan meraih simpati global secara signifikan dan itu semua--menggerus citra hebat Israel, membongkar kepalsuan sekaligus mempercepat isolasi global terhadap Israel dan Netanyahu.
Ini jelas membuktikan bahwa mesin propaganda bernilai jutaan dolar proyek buzzer Hasbara tidak lagi dapat membeli simpati global dan menyembunyikan kepalsuan, kebohongan dan realitas di lapangan.
Rentetan fakta buruk dari kekejian. Pembunuhan massal melalui aksi genosida, apartheid dan menjadikan kelaparan sebagai senjata menyerang Gaza sulit bisa untuk dibantah. Apalagi ICC telah menjatuhkan hukuman untuk menangkap PM Netanyahu dan Menhan Yoav Galant ini jelas kemerosotan diplomatik berikut citra dan opini buruk yang paling berat bagi Israel.
Upaya mengendali kepanikan melalui mesin kepalsuan rekayasa para buzzer, hanya menjadi proyek mesin uang, tapi tak akan mampu memindahkan rasa keadilan, mempertajam hati nurani dan kewarasan.
Jalan keluar terus menerus bertumpu pada kekerasan militer dan senjata ala IDF untuk menindas setiap gerakan masyarakat sipil dan aksi kemanusiaan global perlahan menjadi aksi kontraproduktif.
Logika merebut simpati, empati dan dukungan dengan berbasis kepalsuan dan kebohongan justru menjerumuskan.
Itu semua pada akhirnya tidak saja meruntuhkan citra global Israel tapi juga membuat Israel kehilangan dukungan dan mitra kerja. Narasi kepalsuan dan kebohongan yang ditutupi tidak pernah bisa diterima warga dunia, bahkan oleh orang Yahudi di Israel sekalipun. 
?PLE Priatna
Analis geostrategi, diplomasi dan politik luar negeri RI, mantan diplomat RI, pengasuh Center for Diplomacy Jakarta.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·