Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola di Afrika Tengah sebagai "kedaruratan kesehatan masyarakat yang meresahkan dunia" (public health emergency of international concern).
Hingga 22 Mei, seperti dikutip dari Detik iNET, lebih dari 800 kasus Ebola dilaporkan di Republik Demokratik Kongo (DRC), termasuk lebih dari 180 kematian. Selain itu, terdapat dua kasus terkonfirmasi dan satu kematian di Uganda, khususnya pada individu yang baru saja bepergian ke DRC.
Pejabat WHO mencurigai wabah Ebola di DRC mungkin dimulai sekitar dua bulan lalu. Dugaan kematian pertama terjadi pada 20 April dan kemungkinan disusul peristiwa penularan super di sebuah acara pemakaman atau fasilitas kesehatan.
Virus Ebola atau Zaire ebolavirus adalah penyebab umum di balik berbagai wabah dan kematian akibat penyakit Ebola. Terdapat dua virus lain yang diketahui memicunya yaitu: virus Sudan dan virus Bundibugyo. Virus terakhir yang memicu wabah saat ini.
Wabah ini sebagian besar terkonsentrasi di DRC. Kendati demikian, WHO mengantisipasi risiko tinggi penyebaran lintas negara.
"Menurut pandangan kami, skala dan kecepatan epidemi ini menuntut tindakan mendesak," ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus.
Tidak ada vaksin efektif virus Bundibugyo walau terdapat vaksin Ebola yang disetujui.
"Namun, vaksin tersebut khusus Zaire ebolavirus yang secara historis memicu wabah lebih banyak dibanding virus Bundibugyo," kata Dr. Madeline DiLorenzo dari Tisch Hospital, New York University (NYU) Langone.
Zaire ebolavirus dan virus Bundibugyo secara genetik berbeda, hanya berbagi sekitar 60% hingga 70% materi genetik. Maka vaksin yang menargetkan virus Zaire kemungkinan takkan banyak membantu.
Tantangan Diagnostik dan Medis
Penyakit Ebola bisa sulit dideteksi pada tahap awal karena gejala pertamanya cukup umum seperti demam dan sakit tenggorokan. Gejalanya muncul dua hingga 21 hari setelah terpapar.
Terdapat tes untuk virus Bundibugyo, dikenal sebagai tes PCR.
"Namun, tes ini tidak tersedia luas untuk virus Bundibugyo, sehingga menyulitkan diagnosis dan akhirnya menghambat penanggulangan," ungkap Dr. Jill Weatherhea dari Baylor College of Medicine, kepada Live Science yang dikutip detikINET.
Bahkan ketika tes tersedia, dibutuhkan waktu beberapa hari setelah pasien mengalami gejala agar virus dapat terdeteksi dalam darah, sehingga pengujian ulang mungkin perlu dilakukan.
Selain tantangan diagnostik, tidak ada perawatan antivirus spesifik untuk virus Bundibugyo. Memang ada antibodi laboratorium yang disetujui untuk Zaire ebolavirus tapi perawatan serupa untuk virus Bundibugyo belum berkembang.
Lumpuhnya Infrastruktur dan Pemotongan Bantuan
Di tengah ketiadaan vaksin dan perawatan medis, strategi seperti mengarantina orang terinfeksi menjadi penting. Dokter yang merawat juga diwajibkan mengikuti protokol ketat. Ebola menyebar melalui kontak dengan darah dan cairan tubuh lainnya yang terinfeksi, serta melalui permukaan benda atau bahan terkontaminasi.
Sayangnya, infrastruktur kesehatan di DRC kini lumpuh. Episentrum wabah ini adalah provinsi Ituri yang dilanda konflik bersenjata beberapa dekade, sehingga sistem kesehatannya lemah.
Pemotongan bantuan asing membuat situasi memburuk.
"USAID dulu donor utama DRC dan banyak organisasi kemaanusiaan mengandalkan dananya guna memberi dukungan vital di negara yang hancur oleh konflik itu. Saat program USAID dihentikan tahun lalu, kawasan timur DRC kehilangan sekitar 70% bantuan kemanusiaan," sebut Dr. Manenji Mangundu, direktur Oxfam untuk DRC.
Dalam situasi semacam ini, bisa sulit meyakinkan masyarakat agar bersedia menerapkan standar keselamatan guna menekan penyebaran Ebola. Maka, respons komunitas internasional akan menentukan.
"Kita benar-benar harus menyalurkan dana bantuan kemanusiaan serta memberikan sokongan moral penuh kepada rakyat DRC pada momentum kritis ini, sebelum sebuah krisis yang seharusnya dapat dicegah berubah wujud menjadi bencana mengerikan berskala global," cetus Mangundu.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·