12 Tahun Berkarya, Waste4Change Perkuat Kolaborasi Kelola Sampah Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Waste4change/Rizky Kusumo


Memasuki tahun ke-12 perjalanannya, Waste4Change kembali menegaskan komitmennya untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, terukur, dan berkelanjutan di Indonesia.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui peluncuran Impact Report 2025 bertajuk “Scaling Credible Circular Value, Strengthening Ecosystem” yang merangkum berbagai capaian, pembelajaran, serta dampak yang dihasilkan sepanjang tahun 2025.

Sejak didirikan pada 2014, Waste4Change memandang persoalan sampah sebagai tantangan yang tidak bisa diselesaikan hanya melalui aktivitas pengangkutan dan pengolahan.

Permasalahan ini membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari perubahan perilaku masyarakat, penguatan tata kelola, pembangunan infrastruktur, pemanfaatan teknologi, hingga kolaborasi lintas sektor yang mampu menghubungkan seluruh rantai pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir.

Melalui laporan tersebut, Waste4Change ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya berfokus pada operasional, tetapi juga pada penciptaan nilai lingkungan, sosial, dan ekonomi. Pendekatan yang terintegrasi menjadi kunci untuk menciptakan sistem yang mampu memberikan dampak jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan.

“Pengelolaan sampah yang efektif tidak hanya bergantung pada infrastruktur, tetapi juga pada bagaimana seluruh komponen di dalam sistem dapat bekerja secara konsisten dan terintegrasi,” ujar Mohamad Bijaksana Junerosano, Chief Executive Officer Waste4Change.

Capaian Pengelolaan Sampah dan Pentingnya Kolaborasi

Sepanjang tahun 2025, Waste4Change mencatat berbagai pencapaian penting dalam pengelolaan dan pemulihan material dari sektor residensial, komersial, hingga jaringan sektor informal.

Berbagai capaian tersebut menunjukkan pentingnya membangun sistem yang mampu menghubungkan sumber sampah, fasilitas pemulihan material, mitra pengolah, serta jalur pemanfaatan kembali secara transparan dan akuntabel.

Laporan ini juga menyoroti peran penting kolaborasi dalam membangun ekosistem pengelolaan sampah yang lebih kuat. Pemerintah, pelaku usaha, komunitas, sektor informal, hingga masyarakat umum memiliki kontribusi yang saling melengkapi dalam menciptakan perubahan yang berkelanjutan.

Bagi Waste4Change, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah sampah yang berhasil dikelola, tetapi juga dari kemampuan sistem dalam membuka ruang kerja sama yang lebih luas. Kolaborasi tersebut dinilai penting untuk memperkuat kapasitas pengelolaan sampah sekaligus mempercepat transisi menuju ekonomi sirkular.

Dukungan terhadap upaya ini juga datang dari berbagai pemangku kepentingan. Dondi Hananto, Investment Partner di Circulate Capital, menilai transparansi dan pelaporan dampak menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran publik serta mendorong perubahan perilaku yang lebih bertanggung jawab.

Menurutnya, persoalan sampah sering kali dianggap selesai ketika sudah tidak terlihat. Padahal, sampah yang tidak dikelola dengan baik tetap menimbulkan konsekuensi lingkungan, sosial, dan ekonomi yang signifikan.

Karena itu, laporan dampak seperti Impact Report 2025 menjadi instrumen penting untuk membantu berbagai pihak memahami persoalan secara lebih jelas dan terukur.

Edukasi Masyarakat dan Langkah Menuju Masa Depan

Selain menampilkan data dan capaian operasional, Impact Report 2025 juga menghadirkan berbagai cerita perubahan dari lapangan. Mulai dari program edukasi masyarakat, pengembangan komunitas, penguatan kapasitas sektor informal, hingga kontribusi pekerja operasional yang menjadi bagian penting dalam rantai pengelolaan sampah.

Rangkaian peluncuran laporan ini berlangsung di kantor Waste4Change di Bekasi dan dilengkapi dengan kunjungan ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bantar Gebang serta fasilitas Rumah Pemulihan Material milik Waste4Change. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada para pemangku kepentingan untuk melihat langsung kompleksitas persoalan sampah di Indonesia sekaligus memahami solusi yang sedang dikembangkan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Prilly Latuconsina yang berbagi pandangannya mengenai pentingnya memilah sampah dari rumah. Ia menekankan bahwa sampah yang telah keluar dari rumah bukan berarti permasalahannya selesai.

Menurutnya, kebiasaan memilah sampah dapat membantu meringankan beban para pekerja yang terlibat dalam proses pengelolaan dan pemulihan material.

Ke depan, Waste4Change berkomitmen memperluas jaringan operasional, meningkatkan kapasitas pemrosesan, serta mengembangkan solusi untuk berbagai jenis sampah yang semakin kompleks.

Perusahaan juga akan memperkuat integrasi antara pengelolaan sampah, pemulihan sumber daya, pemanfaatan energi, dan pembangunan infrastruktur dalam kerangka ekonomi sirkular.

Melalui peluncuran Impact Report 2025, Waste4Change mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat pengelolaan sampah sebagai tanggung jawab bersama. Sebab, masa depan pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan sistem yang lebih besar, tetapi juga lebih terhubung, transparan, adaptif, dan berkelanjutan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News