Bapanas Sebut Ketahanan Pangan Indonesia Tetap Kuat di Tengah Geopolitik

Sedang Trending 2 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menilai ketahanan pangan Indonesia tetap kokoh, terutama karena mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat ditopang oleh produksi dalam negeri. Kondisi ini membantu menjaga stabilitas pasokan di tengah tantangan geopolitik global dan ancaman fenomena El Nino.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, menyatakan bahwa ketahanan pangan pokok strategis Indonesia tergolong kuat. Pernyataan ini berdasarkan pada sebagian besar kebutuhan konsumsi yang dipenuhi oleh hasil produksi domestik, dilansir dari Money.

Berdasarkan catatan Bapanas, dari sepuluh komoditas pangan pokok strategis, hanya sebagian kecil yang masih memerlukan impor. "Ini mengacu pada sebagian besar atau mayoritas kebutuhan konsumsi masyarakat ditopang dari produksi dalam negeri," kata Ketut.

Komoditas seperti beras, jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula diproyeksikan tidak akan memerlukan impor untuk memenuhi kebutuhan konsumsi. Data Proyeksi Neraca Pangan Bapanas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki minimal sepuluh komoditas yang diproduksi secara domestik.

Namun, impor masih diperlukan untuk beberapa komoditas seperti kedelai, bawang putih, dan daging sapi. "Kita hanya mengimpor dua atau tiga yang dominan. Kedelai dan bawang putih, lalu daging sapi tapi tidak dominan," ungkap Ketut.

Produksi beras nasional menunjukkan kinerja yang sangat baik, dengan realisasi tahun sebelumnya mencapai 34,7 juta ton. Stok awal tahun 2026 juga tercatat besar, sekitar 12 juta ton.

Perhitungan Bapanas memproyeksikan stok akhir tahun 2026 berpotensi meningkat hingga 16 juta ton. Angka ini berasal dari stok awal 12,4 juta ton, ditambah produksi 34,7 juta ton, dan dikurangi kebutuhan konsumsi sebesar 31,1 juta ton.

Pemerintah juga menugaskan Perum Bulog untuk menyerap gabah petani sebagai upaya menjaga cadangan beras nasional. "Cadangan beras kita di Bulog sekarang ini mencapai lebih 4 juta ton. Kita akan menyerap lagi sampai 4 juta ton. Artinya dari sisi produksi, gabahnya sangat bagus," jelas Ketut.

Stok beras Bulog tidak lagi bergantung pada impor sejak tahun 2025, karena pasokan sepenuhnya berasal dari hasil panen petani dalam negeri. Selain beras, impor jagung pakan juga telah dihentikan sejak 2025, dengan produksi domestik yang dianggap mencukupi.

Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi, khususnya untuk komoditas yang masih bergantung pada impor. "Kita sudah mulai produksi dan Bapak Menteri Pertanian akan bergerak terus. Bagaimana bawang putih, kemudian termasuk juga penguatan produksi kedelai, susu, dan lain sebagainya," tutur Ketut.

Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa Indonesia telah mencapai swasembada pangan untuk komoditas utama. Ia menambahkan bahwa pangan yang dibutuhkan tubuh, yaitu protein dan karbohidrat, sudah swasembada saat ini.