Nama Sal Priadi kembali bergaung di linimasa. Bukan karena rilisan baru, melainkan karena lagu lamanya, Ada Titik-titik di Ujung Doa, yang mendadak menemukan kehidupan kedua di media sosial.
Dua tahun setelah dirilis sebagai bagian dari album Markers And Such Pens Flashdisks, lagu ini justru terasa semakin relevan, seolah-olah baru saja ditulis kemarin. Di TikTok, Instagram Reels, hingga Twitter (X), potongan liriknya digunakan sebagai latar video-video personal: tentang kehilangan, hubungan yang tak selesai, hingga cerita-cerita kecil tentang memaafkan tanpa pernah benar-benar mendapat penjelasan. Lagu ini tidak sekadar diputar, ia dihidupkan ulang melalui pengalaman banyak orang.
Sal Priadi sendiri mengaku terkejut sekaligus terharu melihat lagunya kembali beresonansi. “Terima kasih banyak. Senang banget teman-teman masih dengerin sampai hari ini, masih respons di sosial media,” ujarnya dengat raut wajah bahagia saat berbincang dengan kumparan.
Namun, fenomena ini bukan sekadar nostalgia atau tren sesaat. Ada sesuatu yang lebih dalam yang menjelaskan mengapa 'Ada Titik-titik di Ujung Doa' kembali viral, dan itu berkaitan erat dengan selera audiens hari ini.
Luka yang Tidak Pernah Selesai
Beberapa tahun terakhir, lanskap konten digital dipenuhi oleh narasi-narasi yang lebih personal dan reflektif. Audiens, khususnya generasi muda, semakin terbuka membicarakan kesehatan mental, trauma, dan relasi yang kompleks. Dalam konteks ini, lagu Sal Priadi menemukan momentumnya.
Tema utama lagu ini—-memaafkan orang yang tidak pernah meminta maaf—-adalah pengalaman yang sangat universal, namun jarang diartikulasikan dengan jujur. Sal tidak menawarkan resolusi yang manis. Ia justru mengajak pendengar untuk tinggal lebih lama di ruang yang tidak nyaman itu.
“Lagu itu gue tulis tema besarnya adalah untuk maafin orang yang enggak pernah minta maaf sama kita,” kata Sal.
Di tengah budaya yang sering menuntut closure, lagu ini justru berbicara tentang ketiadaan closure itu sendiri. Dan mungkin, di situlah letak kekuatannya.
Era “Relatable Content”
Algoritma media sosial hari ini cenderung mengangkat konten yang terasa 'relatable' yang mampu membuat seseorang berhenti scrolling karena merasa, “ini gue banget.” Lagu “Ada Titik-titik di Ujung Doa” bekerja dengan cara yang sama.
Liriknya tidak spesifik pada satu cerita, sehingga mudah diadaptasi ke berbagai konteks. Seseorang bisa mengaitkannya dengan hubungan romantis yang kandas, konflik keluarga, atau bahkan kehilangan teman. Fleksibilitas makna ini membuat lagu tersebut menjadi semacam kanvas emosional.
Ditambah lagi, tren penggunaan audio sebagai 'soundtrack perasaan' memperpanjang umur sebuah lagu. Ketika satu video viral, ratusan bahkan ribuan video lain mengikuti—menciptakan efek domino yang membawa lagu tersebut kembali ke permukaan.
Dari Audio ke Visual: Memperpanjang Umur Emosi
Melihat gelombang respons ini, Sal Priadi tidak tinggal diam. Ia dan timnya memutuskan untuk menghadirkan video musik sebagai perpanjangan narasi.
“Akhrinya kami memutuskan untuk menceritakannya lebih lanjut lewat audio visual,” jelasnya.
Langkah ini bukan hanya strategi, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap perjalanan lagu tersebut. Video musik menjadi medium baru untuk memperdalam emosi yang sebelumnya hanya hidup dalam imajinasi pendengar.
Memaafkan sebagai Bentuk Pembebasan
Di balik semua itu, inti dari lagu ini tetap sederhana namun berat: tentang keikhlasan. Sal mengakui bahwa proses memaafkan tanpa adanya permintaan maaf adalah sesuatu yang menyesakkan. Namun justru di situlah letak pembebasannya.
“Belajar bahwa minta maaf sama orang yang justru bikin salah sama kita itu hal yang juga patut dilakukan supaya bikin hati kita damai,” tutupnya.
Mungkin itulah alasan paling jujur mengapa lagu ini kembali viral. Bukan semata karena algoritma, tetapi karena banyak orang yang sedang berada di fase hidup yang sama, yakni mencoba berdamai dengan hal-hal yang tidak pernah selesai.
Dan di tengah riuhnya dunia digital, “Ada Titik-titik di Ujung Doa” hadir seperti ruang sunyi: tempat orang-orang bisa berhenti sejenak, merasakan, lalu perlahan melepaskan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·