Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mengungkapkan bahwa ekosistem pinjaman daring berfungsi membuka akses sistem keuangan bagi masyarakat yang belum terjangkau perbankan formal. Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan tertulis pada Kamis (11/6/2026).
Akumulasi penyaluran pinjaman industri ini telah melampaui Rp 1.388 triliun dengan lebih dari 169 juta borrower aktif, dilansir dari Money. Sebanyak 38 hingga 40 persen di antaranya merupakan pelaku UMKM, dan di atas 90 persen peminjam membayar tepat waktu.
Sekretaris Jenderal Aftech Firlie Ganinduto menjelaskan adanya ketidakseimbangan narasi yang perlu dikoreksi mengenai jutaan peminjam yang berhasil melunasi pinjamannya namun tidak pernah menjadi pemberitaan.
“Ada ketidakseimbangan narasi yang perlu dikoreksi, salah satunya tentang jutaan borrower yang berhasil tidak pernah jadi berita. Pindar adalah jembatan bagi jutaan orang tersebut, yang selama ini tidak punya rekam jejak perbankan dan kini bisa mendapatkan modal untuk tumbuh," kata Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal Aftech.
Firlie Ganinduto menambahkan bahwa para peminjam tersebut menggunakan dana untuk kebutuhan produktif seperti modal dagang, biaya sekolah, atau menjaga arus kas.
"Mereka yang meminjam untuk beli stok dagangan, bayar biaya sekolah anak, atau tambal modal saat arus kas seret dan kemudian melunasi pinjamannya tanpa masalah. Cerita mereka juga bagian dari realitas industri ini," imbuh Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal Aftech.
Asosiasi juga memastikan seluruh penyelenggara yang menjadi anggota beroperasi dengan tata kelola ketat, transparan dalam biaya dan bunga, serta memiliki standar perlindungan konsumen.
"Kepercayaan adalah satu-satunya fondasi yang membuat industri ini bisa terus tumbuh dan relevan. Aftech tidak hanya hadir sebagai asosiasi administratif. Kami adalah mitra aktif bagi setiap anggota dalam membangun kepercayaan itu, kepada pengguna, kepada regulator, kepada masyarakat luas," ungkap Firlie Ganinduto, Sekretaris Jenderal Aftech.
Dampak positif dari ekosistem ini juga dirasakan langsung di tingkat platform penyalur pinjaman, di mana terjadi perubahan perilaku ekonomi dari para penggunanya.
Direktur Utama Easycash Nucky P. Djatmiko menggambarkan profil pelaku usaha kecil yang semula meminjam modal kini berkembang hingga mampu mempekerjakan karyawan.
"Yang kami lihat adalah bagaimana seorang borrower yang pertama kali meminjam untuk stok dagangan kecil, dua tahun kemudian sudah punya beberapa karyawan dan mulai masuk ke ekosistem perbankan formal. Pindar bukan titik akhir perjalanan keuangan mereka, kami adalah titik masuknya. Dan itu yang membuat pekerjaan ini punya makna," kata Nucky P. Djatmiko, Direktur Utama Easycash.
Easycash mencatat mayoritas penggunanya berasal dari segmen yang sebelumnya belum tersentuh layanan keuangan konvensional.
Direktur PT Sahabat Mikro Fintek (Samir) Yonathan Gautama menyatakan hal serupa mengenai platformnya yang menyasar segmen produktif hingga ke luar Pulau Jawa.
"Ada sesuatu yang sangat kuat yang terjadi ketika seseorang yang tidak pernah dianggap layak oleh sistem keuangan formal, untuk pertama kali mendapatkan kepercayaan berupa modal. Kami mencatat bahwa dampak pinjaman produktif tidak berhenti pada penerima langsung, tetapi menjalar ke rantai ekonomi di sekitarnya: tenaga kerja yang terserap, pemasok lokal yang ikut tumbuh, dan perputaran uang yang semakin aktif di tingkat komunitas,” tutup Yonathan Gautama, Direktur PT Sahabat Mikro Fintek (Samir).
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·