ANGGOTA tim ahli Kebun Binatang Bandung atau Bandung Zoo, Jatna Supriatna, mengatakan jumlah satwa koleksi kebun binatang itu perlu ditambah. Selain itu, jenis satwanya pun disarankan khusus asli Indonesia sebagai suatu ekosistem. “Kita tidak perlu satwa dari luar negeri, kan itu bisa dibaca di buku atau lihat di televisi,” ujarnya saat ditemui di Bandung, Rabu, 13 Mei 2026.
Menurut guru besar konservasi dari Universitas Indonesia (UI) itu, spesies hewan di Indonesia sangat banyak. Bandung Zoo dinilainya punya potensi yang strategis untuk mengenalkan satwa lokal bagi para pengunjung dan bisa membedakannya dengan kebun binatang di tempat lain. “Supaya orang tahu dan mencintai satwa Indonesia,” kata dia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Jatna mengatakan kebun binatang sebagai lembaga konservasi satwa ex situ atau di luar habitat aslinya, juga berfungsi sebagai tempat edukasi bagi banyak orang. “Bonbin itu sekarang sudah berubah, bukan lagi sebagai tempat kita melihat binatang, tapi belajar mengenai satwa,” ujar dia.
Selain itu, manajemen Bandung Zoo yang baru perlu merombak kandang-kandang yang sempit karena masyarakat tidak mau melihat binatang tersiksa di kurungan. Tim ahli, menurut Jatna, bertugas untuk memberikan masukan, panduan, apa yang boleh dan tidak dilakukan bagi pengelola Bandung Zoo.
Saat ini proses lelang pengelola baru dengan skema kerja sama pemanfaatan kawasan Kebun Binatang Bandung selama 26 tahun masih berlangsung. Ada lima pendaftar yang bersaing, yaitu Taman Safari Indonesia, Faunaland, Gembira Loka Zoo, PT Diandra, dan Pejaten Shelter. “Nanti akan terseleksi selain masalah keuangannya bagus, tapi juga pengalamannya,” kata Jatna.
Anggota Tim Kerja Sama Pemanfaatan Barang Milik Daerah Ade Rahmayadi mengatakan panitia lelang menjelaskan soal dasar hukum, kontribusi tetap pengelola baru Bandung Zoo ke kas daerah, hak dan kewajiban, jadwal lelang, tahapan, apa yang harus disiapkan peserta lelang, dan cara penilaian. Menurut Ade yang dikerjasamakan pemerintah Kota Bandung dengan pengelola baru adalah tanah dan bangunan Bandung Zoo, sementara satwa milik negara.
Nantinya, menurut Ade, pengelola baru diwajibkan membayar kontribusi tetap ke pemerintah Kota Bandung yang dibayar setiap tahun dengan nilai total Rp 138.091.954.887 selama 26 tahun, serta pembagian keuntungan 10,96 persen per tahun. Pada tahun pertama terhitung 2026, kontribusinya dipatok sebesar Rp 4,3 miliar. Setiap tahun angkanya terus bertambah, seperti 2027 sebesar Rp 4.370. 663.333, hingga akhirnya pada 2051 menjadi Rp 6.463.100.835.
Sesuai jadwal lelang, tahap selanjutnya setelah penjelasan soal tender adalah pemasukan dokumen penawaran mulai 18-21 Mei 2026. Kemudian pada 22 Mei dilakukan pembukaan dokumen penawaran, penelitian kualifikasi, dan pelaksanaan tender. Pada 25 Mei dijadwalkan pengusulan dan penetapan pemenang tender. Adapun penandatangan perjanjian kerja sama dengan pemerintah Kota Bandung pada 29 Mei.
Andaikan terjadi gagal lelang, menurut Ade, tender diulang sesuai tahapan dan waktu lelang sebelumnya. “Dalam regulasi berkaitan dengan tindak lanjut atas tender gagal, yaitu tender ulang, seleksi langsung, dan penunjukan langsung, setelah dilakukan beberapa kali tahapan,” ujarnya. Adapun persyaratan teknis dan keuangannya sama seperti pada proses lelang perdana.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·