AI dinilai jadi kebutuhan bagi organisasi tetap kompetitif dan tangguh

Sedang Trending 47 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Country Leader Alcatel-Lucent Indonesia Novse Hardiman mengatakan Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan kini bukan lagi sekadar visi untuk masa depan, melainkan menjadi kebutuhan bisnis bagi organisasi yang ingin tetap kompetitif, lincah, dan tangguh.

"Organisasi yang akan berhasil di masa depan adalah mereka yang mampu mengadopsi AI yang bermanfaat dalam mendukung transformasi bisnis dan meningkatkan kelincahan operasional," kata Novse dalam keterangan yang diterima, Sabtu.

Hal tersebut disampaikannya dalam gelaran ALE AI Forum 2026: Enabling Indonesia’s Intelligent Digital Infrastructure yang digelar di Jakarta baru-baru ini.

Menurut dia, organisasi perlu membangun infrastruktur digital yang cerdas, aman, terukur, dan berbasis data untuk mengadopsi AI secara strategis.

Baca juga: MRI 3 Tesla berbasis AI bantu diagnosis lebih presisi

Baca juga: Liquid cooling jadi solusi utama data center Indonesia di era AI ‎

Dia menjelaskan portofolio Alcatel-Lucent yang didukung AI dirancang untuk membantu organisasi memodernisasi infrastruktur melalui manajemen jaringan cerdas, analitik canggih, otomatisasi, dan komunikasi yang aman.

Dengan menyederhanakan operasional infrastruktur dan meningkatkan visibilitas di seluruh lingkungan digital, perusahaan dapat mengoptimalkan kinerja pusat data, mengurangi kompleksitas operasional, memperkuat ketahanan digital, dan mempercepat inisiatif adopsi AI.

Seiring besarnya volume data yang harus dikelola organisasi serta meningkatnya kompleksitas lingkungan digital membuat infrastruktur yang siap mendukung AI menjadi faktor penting untuk menjaga keandalan operasional, keamanan siber, keberlangsungan bisnis, dan keberlanjutan jangka panjang.

Organisasi yang mampu mengadopsi AI yang bermanfaat akan lebih siap mendukung transformasi bisnis dan meningkatkan kelincahan operasional mereka.

Menurut Novse, kolaborasi antara penyedia teknologi, pelaku usaha, dan sektor publik diperlukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia sekaligus membantu organisasi mengubah potensi AI menjadi hasil bisnis yang terukur.

"Kami terus bekerja sama secara erat dengan pelanggan dan mitra untuk menghadirkan solusi yang fleksibel dan aman, guna mendukung organisasi di setiap tahap perjalanan transformasi digital mereka," katanya.

Data Gartner menunjukkan belanja global untuk AI diproyeksikan mencapai 2,5 triliun dolar Amerika Serikat pada 2026 dan meningkat menjadi 3,3 triliun dolar AS pada 2027.

Infrastruktur AI diperkirakan akan menjadi komponen dengan porsi investasi terbesar, diikuti layanan AI dan perangkat lunak AI.

Di Indonesia, investasi AI diproyeksikan berkontribusi hingga 366 miliar dolar AS terhadap produk domestik bruto nasional pada 2030, didorong sektor manufaktur, e-pasar, dan layanan keuangan.

ALE AI Forum 2026 mempertemukan para pemimpin bidang TIK, inovator, para pengambil keputusan bisnis, dan mitra teknologi untuk membahas bagaimana Kecerdasan Buatan (AI), jaringan cerdas, dan teknologi data center modern membentuk kembali masa depan operasional perusahaan dan infrastruktur digital di Indonesia.

Forum ini menghadirkan berbagai presentasi tentang lanskap AI di Indonesia yang terus berkembang, sesi diskusi industri tentang penerapan AI di dunia nyata, dan sesi pameran inovasi yang menyoroti solusi terintegrasi dari Alcatel-Lucent dan mitra teknologinya.

Baca juga: Model AI bantu inventarisasi fasilitas PLTB dan PLTS di China

Baca juga: Kemkomdigi ungkap tiga pilar kebijakan AI Indonesia

Baca juga: SleekFlow perluas AI untuk respons pelanggan & baca perilaku konsumen

Pewarta: Fathur Rochman
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.