Airlangga Buka Suara Rupiah Melemah ke Rp 17.367 per Dolar AS: Bukan Hanya RI

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait Joint Statement Indonesia-Amerika Serikat di Jakarta, Kamis (24/7/2025). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pelemahan rupiah yang tengah terjadi. Menurutnya, hal itu tak hanya dialami oleh Indonesia.

Maka dari itu, upaya yang akan dilakukan pemerintah adalah melakukan monitoring terhadap negara-negara yang mengalami hal serupa.

“Pemerintah tentu akan melihat, tetapi juga terkait dengan pelemahan kurs kan bukan hanya monopoli Indonesia, tetapi berbagai negara menghadapi hal yang sama. Jadi kita monitor terhadap peer country juga,” kata Airlangga ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta pada Senin (4/5).

Sebelumnya, Airlangga menyatakan pelemahan rupiah dipengaruhi oleh dinamika global. Meski begitu, Airlangga menegaskan tidak akan bersikap reaktif terhadap pergerakan harian nilai tukar rupiah.

video story embed

Berdasarkan data Bloomberg pukul 11.06 WIB, nilai tukar rupiah tercatat Rp 17.367 per dolar AS, melemah 30,00 poin (0,17 persen).

Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi konflik geopolitik dan sentimen pasar keuangan internasional, masih menjadi faktor utama yang membebani pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional. Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah," terang Destry.

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.