Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meninjau sejumlah industri strategis sektor alat berat dan mekanisasi pertanian di Minsk, Belarus, pada Kamis (14/05/2026). Kunjungan tersebut dilakukan guna memenuhi undangan Deputi Perdana Menteri Republik Belarus dalam rangka Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA).
Dilansir dari Bloombergtechnoz, penjajakan kerja sama ini melibatkan tiga perusahaan manufaktur utama yakni Minsk Tractor Works (MTZ), MAZ, dan BelAZ Holding Management Company. Langkah ini diproyeksikan untuk mendukung agenda Asta Cita Presiden terkait perwujudan ketahanan pangan nasional melalui modernisasi teknologi pertanian dan penyediaan alat berat efisien.
Sektor manufaktur Belarus tercatat memberikan kontribusi sebesar 20,3 persen terhadap PDB nasional mereka pada tahun 2024. Selain memiliki basis industri yang kuat, negara tersebut juga telah mencapai tingkat swasembada pangan hingga sekitar 96 persen berkat keunggulan dalam pengembangan agro-industri.
Dalam kunjungannya ke MTZ, Airlangga memfokuskan perhatian pada pengembangan teknologi traktor yang dapat mendukung produktivitas pertanian serta proyek food estate di Indonesia. Pihak MTZ menyatakan kesiapan untuk melakukan penyesuaian spesifikasi mesin sesuai kebutuhan pemesan serta menawarkan program transfer teknologi dan pelatihan bagi tenaga kerja lokal.
Diskusi berlanjut pada potensi kerja sama kendaraan komersial dengan MAZ yang mencakup peluang perakitan lokal dan pengembangan armada rendah emisi. Sementara itu, pembicaraan dengan BelAZ menitikberatkan pada penguatan rantai pasok ban kendaraan berat berbasis karet alam Indonesia serta ekosistem perawatan alat berat pertambangan.
Kebutuhan dump truck yang efisien menjadi prioritas bagi Indonesia mengingat volume ekspor batu bara nasional yang mencapai sekitar 800 juta ton setiap tahun. Pemerintah kedua negara sepakat untuk melakukan pemetaan kebutuhan secara bersama guna memastikan solusi teknologi yang ditawarkan sesuai dengan kondisi lapangan di Indonesia.
“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman dalam memproduksi berbagai macam produk alat berat, terutama yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” ujar Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.
Pertemuan ini juga mengulas peluang pengembangan singkong menjadi etanol serta studi pemanfaatan baterai nikel pada kendaraan berat untuk meningkatkan keberlanjutan industri pertambangan. Kunjungan kerja tersebut turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Federasi Rusia dan Republik Belarus Jose Tavares beserta perwakilan dari KADIN dan APINDO.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·