MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan Indonesia perlu menjajaki berbagai skema kerja sama perdagangan di tengah dinamika global. Salah satu yang didorong adalah pemanfaatan Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) untuk membuka peluang pasar sekaligus memperkuat kebutuhan industri dalam negeri.
Menurut Airlangga, optimalisasi perjanjian tersebut tidak hanya menyasar akses pasar bagi produk ekspor Indonesia ke kawasan Eurasia, tetapi juga memetakan kebutuhan barang strategis Indonesia yang dapat dipasok oleh negara-negara anggota, khususnya Belarus.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Kami melihat perusahaan-perusahaan Belarus berpengalaman memproduksi berbagai alat berat yang dapat memperkuat industrialisasi, mekanisasi pertanian modern, serta pengembangan industri alat berat di Indonesia,” kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Jumat, 15 Mei 2026.
Pernyataan itu disampaikan seusai kunjungannya ke sejumlah industri strategis Belarus di sektor alat berat, kendaraan komersial, dan mekanisasi pertanian modern di Minsk, Kamis, 14 Mei 2026. Kunjungan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-8 RI–Belarus Bidang Perdagangan, Ekonomi, dan Teknik, atas undangan Deputi Perdana Menteri Belarus. Airlangga didampingi Wakil Menteri Industri Belarus, Leonid Ryzkovsky.
Dalam kunjungan itu, Airlangga mendatangi tiga perusahaan manufaktur utama Belarus, yakni Minsk Tractor Works, Minsk Automobile Plant (MAZ), dan BelAZ Holding Management Company. Ketiganya dikenal sebagai tulang punggung industri manufaktur Belarus di bidang alat berat, kendaraan komersial, serta teknologi mekanisasi pertanian.
Airlangga menyebut penjajakan kerja sama ini sejalan dengan agenda ketahanan pangan nasional, yang membutuhkan modernisasi pertanian dan dukungan alat berat yang efisien. Belarus sendiri memiliki kontribusi sektor manufaktur sekitar 20,3 persen terhadap PDB pada 2024, serta tingkat swasembada pangan yang diklaim mencapai sekitar 96 persen.
Di Minsk Tractor Works, Airlangga meninjau pengembangan teknologi traktor dan mesin pertanian yang dinilai relevan untuk mendukung program modernisasi pertanian Indonesia, termasuk pengembangan food estate. Pihak MTZ, kata dia, menyatakan kesiapan menyesuaikan spesifikasi alat sesuai kebutuhan Indonesia, termasuk menawarkan pelatihan dan transfer teknologi. Pembicaraan awal juga telah dilakukan dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia terkait potensi kerja sama tersebut.
Sementara di Minsk Automobile Plant, pembahasan difokuskan pada peluang pengembangan kendaraan komersial, bus, dan kendaraan industri, termasuk opsi perakitan lokal, alih teknologi, serta pengembangan kendaraan rendah emisi.
Adapun di BelAZ, kedua pihak membahas potensi kerja sama alat berat pertambangan, termasuk pengembangan ekosistem perawatan, perakitan lokal, hingga peluang rantai pasok ban kendaraan berat berbasis karet alam dari Indonesia. Diskusi juga mencakup pengembangan singkong menjadi etanol serta studi penggunaan baterai berbasis nikel untuk mendukung modernisasi alat berat.
Airlangga menyebut penggunaan baterai nikel pada truk tambang telah diterapkan untuk meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan operasional. Dengan ekspor batu bara Indonesia yang mencapai sekitar 800 juta ton per tahun, kebutuhan dump truck yang efisien dinilai menjadi prioritas.
Pemerintah Belarus, menurut Airlangga, selama ini mempelajari kebutuhan alat berat di Indonesia, namun masih menghadapi keterbatasan informasi detail. Karena itu, ia menilai perlu pemetaan kebutuhan secara bersama, forum konsultasi reguler, serta peningkatan komunikasi antara pelaku industri dan pemerintah kedua negara.
24 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·