Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga mengatakan Indonesia memiliki sejumlah keunggulan dalam pengembangan proyek-proyek hilirisasi, khususnya dari sumber daya alam (SDA) hingga kemudahan investasi.
“Indonesia mempunyai keuntungan comparative. Negara lain tidak punya bahan bakunya, jadi downstreaming itu menunjukkan comparative advantage dan competitiveness Indonesia, sehingga ini adalah kekuatan dari Indonesia ke depan,” kata Menko Airlangga.
Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI, Jakarta, Kamis, dia menilai struktur biaya investasi di Indonesia juga relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara (ASEAN).
Hal ini pun, lanjut dia, turut ditunjang dengan variasi sumber energi, baik itu energi fosil maupun energi baru terbarukan (EBT) yang turut memberikan fleksibilitas bagi industri terkait efisiensi biaya produksi.
Baca juga: Indonesia dapat 150 juta barel minyak dari Rusia
Namun, Menko Airlangga mengatakan, hal ini perlu diperkuat dengan konektivitas jaringan antarpulau agar pasokan listrik yang berlebih di Pulau Jawa bisa diintegrasikan dengan sistem kelistrikan Pulau Sumatera.
“Kita punya kombinasi antara renewable dan non-renewable. Kita tinggal menambah competitiveness kita dengan membangun jaringan listrik Sumatera-Jawa. Hari ini Jawa excess, tapi 3-4 tahun lagi demand akan mengambil, menyedot kelebihan ini sehingga connectivity Jawa-Sumatera jadi penting,” ujar dia.
Airlangga mencontohkan pengembangan proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal (PLTP) di Aceh dan Sumatera Barat yang kini berada dalam fase pipeline juga menjadi upaya strategis dalam meningkatkan kapasitas energi nasional jika terhubung dengan pusat permintaan (demand) di Jawa.
“Beberapa geothermal project kita terus on the pipeline, termasuk yang ada di Sumatera Barat maupun Aceh. Kalau demand jadi connect dengan demand side di Jawa, ini akan semakin baik,” kata dia.
Baca juga: Danantara bidik investasi energi ke Singapura senilai 30 miliar dolar
Selain itu, Menko Perekonomian juga menyoroti adanya peluang pembiayaan internasional untuk proyek energi dan hilirisasi di Indonesia, termasuk dari Jepang melalui forum Asia Zero Emission Committee (AZEC) dengan dana sekitar 10 miliar dolar AS.
“Dari segi investasi untuk renewable, kemarin Jepang selaku pimpinan dari Asia Zero Emission Committee, itu menyediakan dana tambahan untuk krisis energi sekarang untuk investasi sebesar 10 billion USD,” kata Airlangga.
“Artinya, selain kita punya demand, punya bahan baku, punya kemampuan untuk renewable energy, pendanaan global itu juga tersedia. Jadi seluruhnya tergantung kepada para pengusaha di Indonesia untuk bisa memanfaatkan apa yang sudah disediakan,” ujarnya menambahkan.
Pewarta: Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·