Buleleng, Bali (ANTARA) - Akademisi Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja Bali I Ketut Trika Adi Ana M.Pd mengatakan ikatan dinas dan seleksi ketat terhadap calon guru bisa menjadi solusi atas pelbagai permasalahan kualitas pendidik di Indonesia.
"Sudah saatnya Indonesia memikirkan kembali sistem rekrutmen dan pendidikan calon guru secara lebih serius dan strategis dimana salah satu gagasan yang layak dipertimbangkan adalah menjadikan program studi kependidikan sebagai program dengan sistem ikatan dinas, mirip dengan model yang diterapkan pada sekolah kedinasan," kata Trika di Kota Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis.
Menurut dia, konsep tersebut sebagai salah satu solusi atas pelbagai kritik mengenai kualitas guru di Indonesia yang selama ini menjadi perhatian publik.
Bahkan, kata dia, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto dalam beberapa kesempatan menyoroti bahwa kompetensi guru di Indonesia masih perlu terus ditingkatkan agar mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.
Baca juga: Hardiknas, Akademisi: Arah pendidikan harus pacu peningkatan mutu SDM
Pernyataan ini tentu bukan sekadar kritik, melainkan sebuah pengingat bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak dapat berjalan optimal tanpa didukung oleh guru yang berkualitas. Masalahnya, persoalan kualitas guru tidak hanya muncul pada tahap pelatihan atau pengembangan profesional setelah seseorang menjadi guru.
Akar persoalannya justru sering kali dimulai sejak tahap rekrutmen calon guru. Jika proses awal dalam memilih calon guru tidak selektif dan tidak mampu menarik talenta terbaik, maka akan sulit menghasilkan guru berkualitas dalam jangka panjang.
"Selama ini, program studi kependidikan di berbagai perguruan tinggi masih sering dianggap sebagai pilihan kedua, atau bahkan ketiga bagi sebagian lulusan SMA atau SMK. Banyak siswa dengan prestasi akademik tinggi justru lebih tertarik memilih program studi non-kependidikan seperti kedokteran, hukum, hubungan internasional, teknik, atau manajemen misalnya," kata dia.
Dia melanjutkan, melalui sistem kedinasan, calon mahasiswa program kependidikan tidak direkrut secara sembarangan. Mereka dipilih melalui proses seleksi yang ketat sejak lulus SMA atau SMK. Seleksi tidak hanya menilai kemampuan akademik, tetapi juga karakter, komitmen terhadap dunia pendidikan, kemampuan komunikasi, serta potensi kepemimpinan.
Baca juga: Menimbang matang-matang wacana penutupan program studi tak relevan
Model tersebut, kata dia, sebenarnya bukan hal baru. Beberapa negara dengan sistem pendidikan yang sangat maju telah menerapkan pendekatan serupa dalam menyiapkan calon guru. Salah satu contoh yang sering dikutip adalah sistem pendidikan di Singapura.
"Di Singapura, profesi guru dipandang sebagai profesi yang sangat prestisius. Pemerintah secara aktif merekrut calon guru dari kalangan siswa terbaik sejak mereka masih berada di bangku sekolah menengah. Proses seleksi dilakukan secara ketat dan komprehensif, mencakup kemampuan akademik, kepribadian, motivasi menjadi guru, serta kemampuan berkomunikasi," paparnya.
Trika menerangkan, model tersebut menciptakan dua dampak positif sekaligus. Pertama, profesi guru menjadi lebih menarik bagi siswa-siswa berprestasi karena menawarkan jalur karier yang jelas dan terjamin. Kedua, pemerintah dapat memastikan bahwa guru-guru yang direkrut benar-benar memiliki kualitas yang tinggi.
"Indonesia sebenarnya dapat mengadaptasi pendekatan serupa dengan menyesuaikannya dengan konteks nasional. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah dapat merancang program rekrutmen calon guru berbasis daerah. Setiap daerah dapat mengidentifikasi siswa-siswa terbaik di sekolah menengah yang memiliki minat dan potensi untuk menjadi guru," demikian Trika.
Baca juga: Perkuat kualitas riset, President University kukuhkan tiga guru besar
Pewarta: Rolandus Nampu/IMBA Purnomo
Editor: Sambas
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·