Aksi Nyentrik ‘Tong Sampah’ di CFD Rasuna Said: Ajak Warga Belajar Pilah Sampah

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Komunitas IKJ-Mime berkostum 'Tong Sampah' saat CFD di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

Suasana Car Free Day (CFD) di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, tak hanya dipenuhi warga yang berolahraga dan berjalan santai. Di antara keramaian, sekelompok anak muda dengan kostum nyentrik menarik perhatian pengunjung yang datang.

Mereka mengenakan pakaian warna-warni dengan kombinasi hijau, merah muda, kuning, ungu, dan berbagai warna lainnya. Sebagian memakai topi unik warna-warni, sementara lainnya tampil dengan rambut kribo. Wajah mereka dicat putih dengan tambahan perona pipi merah tebal serta alis yang dibentuk mencolok.

Dari kelompok tersebut, dua orang bahkan tampil dengan kostum menyerupai tong sampah. Mereka masuk ke dalam boks bertanda “organik” dan “anorganik”. Sementara yang lainnya menggantungkan berbagai jenis sampah sebagai properti, mulai dari botol plastik hingga limbah organik seperti batok kelapa.

Aksi ini merupakan bagian dari pertunjukan komunitas IKJ Mime yang diundang untuk mengisi kegiatan CFD sekaligus Deklarasi Gerakan Pilah Sampah di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5).

“Kita dari komunitas IKJ Mime, kumpulan anak-anak IKJ, diundang oleh tim Gubernur (Pramono Anung) untuk meramaikan, untuk berekspresi. Jadi kita di sini tuh ada pilah sampah,” kata salah satu anggota mereka, Ahmad.

Siswa memasukan sampah kedalam kotak sampah pilah saat kegiatan pengelolaan bank sampah di SD Negeri Kedunglumbu, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah, Jumat (8/5/2026). Foto: Mohammad Ayudha/ANTARA FOTO

Menurut Ahmad, konsep pertunjukan ini dibuat untuk membantu masyarakat memahami jenis-jenis sampah melalui pendekatan yang ringan dan menghibur.

“Kita buat aktivasi buat anak kecil terutama ya. Kita kasih sampah jenisnya misal organik, ya kan ya. Dia nanti pilih mana, pasti nanti kita kasih tahu. Kalau misal dia yang kuning berarti bukan yang itu. Kita bilang “no no no no”. Kalau pas yang hijau baru kita “yeah” berarti dia benar. Ngasih tahu kayak gitu aja tapi dalam bungkusan happy, hiburan gitu,” jelasnya.

Anggota lainnya, Udin, menambahkan pesan utama dari aksi tersebut adalah menyederhanakan proses memilah sampah agar lebih mudah dilakukan masyarakat.

“Kalau pesannya mungkin, jadi buang sampah itu tidak dibikin sulit. Jadi dengan keberadaan kita kayak gini nih itu kita coba untuk menghantarkan bahwa memilah sampah itu nggak sulit, memilah sampah itu gampang. Bahkan, makanya kita membentuk diri kita ini jadi tong sampah. Kurang lebih sih pesannya itu sih,” kata dia.

Menjalani peran sebagai ‘tong sampah’, para peserta mengaku mendapatkan pengalaman baru dalam memahami pentingnya pengelolaan sampah.

Komunitas IKJ-Mime berkostum 'Tong Sampah' saat CFD di kawasan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026). Foto: Nasywa Athifah/kumparan

“Oh, kita makin yakin kalau misalnya makin menghargai tong sampah karena jadi tong sampah itu nggak mudah, capek ternyata. Dan kita harus menghargai, ya itu dengan buang sampah pada tempatnya gitu,” ujar Ahmad.

Aksi ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap program pemerintah daerah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari sumbernya.

Sementara itu, Udin menambahkan, selama aksi berlangsung, masih banyak pengunjung yang belum memahami perbedaan jenis sampah organik dan anorganik.

“Menginfokan ke orang-orang bahwa banyak juga tadi yang salah, begitu kita kasih sampah non-organik mereka masukinnya ke yang organik. Akhirnya kita kasih informasi dan mereka juga baru tahu. Banyak sih tadi yang belum begitu paham,” ujarnya.

Aksi kreatif tersebut diharapkan dapat menjadi cara alternatif dalam meningkatkan kesadaran warga mengenai pentingnya memilah sampah dari sumbernya.