Amerika Serikat Blokade Selat Hormuz Picu Lonjakan Harga Minyak Dunia

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Amerika Serikat mengumumkan rencana pemblokaran seluruh lalu lintas maritim di pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz mulai Senin, 13 April 2026, pukul 10.00 waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah negosiasi perdamaian antara Washington dan Teheran di Pakistan gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik.

Kebijakan blokade tersebut berdampak langsung pada pasar energi global dengan kenaikan harga komoditas yang signifikan. Dilansir dari Detik Finance, harga minyak mentah berjangka AS untuk pengiriman Mei 2026 melonjak hampir 8 persen menjadi US$ 104,20 per barel pada Minggu sore waktu setempat.

Kenaikan serupa terjadi pada patokan internasional Brent untuk pengiriman Juni 2026 yang terkerek 7 persen ke level US$ 101,86 per barel. Komando Pusat AS (CENTCOM) menegaskan bahwa blokade hanya menyasar kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran, sementara transit non-Iran tetap diperbolehkan.

"Mulai sekarang juga, Angkatan Laut Amerika Serikat akan memulai proses blokade semua kapal yang mencoba masuk atau keluar dari Selat Hormuz," kata Presiden Donald Trump melalui unggahan di media sosial Truth pada Minggu, 12 April 2026.

Langkah sepihak ini memicu kekhawatiran internasional, terutama dari China dan Turki yang sangat bergantung pada stabilitas jalur energi tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menyerukan navigasi tanpa hambatan karena Selat Hormuz merupakan urat nadi perdagangan barang dan energi global.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan dukungannya terhadap pembukaan kembali selat secara damai melalui metode persuasi diplomatik dengan Iran. Ankara mendesak agar jalur perairan strategis tersebut segera berfungsi normal untuk menjamin kebebasan navigasi dunia.

Dampak krisis ini mulai dirasakan di Asia Tenggara, di mana Malaysia mulai mengantisipasi potensi kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) mulai Juni 2026. Menteri Ekonomi Malaysia, Akmal Nasrullah Mohd Nasir, menyebut periode Juni hingga Juli akan menjadi fase krusial bagi ketersediaan energi nasional.

Meskipun pemerintah Malaysia menyatakan pasokan untuk April dan Mei masih aman, gangguan distribusi di sejumlah SPBU mulai dilaporkan akibat lonjakan permintaan. Pemerintah setempat kini fokus mengamankan rantai pasok bahan baku gas untuk industri farmasi dan alat kesehatan yang juga terdampak kenaikan harga minyak.