Amerika Serikat Tarik 5.000 Personel Militer dari Jerman

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Departemen Pertahanan Amerika Serikat (AS) berencana memulangkan sekitar 5.000 personel militer yang saat ini bertugas di wilayah Jerman kembali ke negara asal. Pengumuman resmi mengenai pengurangan kekuatan tempur di luar negeri tersebut disampaikan pada Sabtu (2/5/2026), dilansir dari Detikcom.

Keputusan pemulangan ribuan tentara ini akan mengubah komposisi pertahanan AS di Eropa secara signifikan. Berdasarkan data Pusat Data Tenaga Kerja Pertahanan AS per Desember 2025, sebanyak 36.436 personel ditempatkan di Jerman, sehingga nantinya akan menyisakan sekitar 30.000 tentara di sana.

"Menteri Perang telah memerintahkan penarikan sekitar 5.000 pasukan dari Jerman," kata juru bicara utama Pentagon, Sean Parnell.

Parnell menambahkan bahwa langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari evaluasi mendalam terhadap kebutuhan operasional dan kondisi terkini di lapangan. Proses teknis perpindahan pasukan ini dijadwalkan berlangsung secara bertahap dalam waktu dekat.

"Keputusan ini mengikuti tinjauan menyeluruh terhadap postur kekuatan Departemen di Eropa dan sebagai pengakuan atas kebutuhan teater dan kondisi di lapangan. Kami memperkirakan penarikan akan selesai dalam enam hingga dua belas bulan ke depan," katanya.

Kebijakan ini muncul di tengah ketegangan diplomatik antara Washington dan Berlin terkait isu geopolitik di Timur Tengah. Presiden Donald Trump sebelumnya telah memberikan sinyal mengenai adanya peninjauan ulang keberadaan militer di Jerman melalui media sosial pada Rabu (29/4).

"mempelajari dan meninjau" kata Presiden Donald Trump.

Pernyataan Trump tersebut menyusul kritik tajam dari Kanselir Jerman Friedrich Merz mengenai keterlibatan militer AS di kawasan Iran. Merz secara terbuka melontarkan penilaian negatif terhadap strategi pertahanan yang dijalankan oleh pemerintah AS saat ini.

"dipermalukan" kata Kanselir Jerman Friedrich Merz.

Kanselir Merz menegaskan bahwa pihak Gedung Putih dianggap tidak memiliki langkah yang konkret dan efektif guna menyelesaikan konflik tersebut. Hubungan kedua negara juga sempat memanas ketika Trump mengancam pemotongan jumlah pasukan pada periode jabatan pertamanya tahun 2020 silam.