Anak 15 Tahun Belum Bisa Membaca: Kegagalan Sistem yang Terlambat Disadari

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi anak belajar di sekolah. Foto: Tyler Olson/Shutterstock

Melihat kasus seorang siswa berusia 15 tahun di Kutai Kartanegara yang masih duduk di bangku sekolah dasar dengan persoalan kesulitan membaca tentunya mengejutkan banyak pihak. Persoalan siswa kesulitan literasi yang signifikan—terutama dalam kemampuan membaca—membuat Dinas Pendidikan meminta adanya pendampingan khusus.

Permasalahnnya mungkin terlihat sederhana sebagai keterlambatan biasa. Namun tidak sesederhana itu. Persoalannya jauh lebih kompleks, bukan sekadar soal tertinggal pelajaran, melainkan juga menyangkut fondasi belajar yang sejak awal tidak terbentuk dengan baik.

Dalam konteks Pendidikan, kemampuan membaca tidak hanya soal mengenali huruf. Ada proses penting yang disebut automaticity, yaitu kemampuan mengenali kata secara otomatis tanpa harus mengeja. Pada siswa dalam kasus ini, terlihat bahwa proses tersebut belum terjadi. Ia masih harus mengeja kata demi kata, yang membuat proses membaca menjadi sangat lambat.

Menurut John Hattie, ketika kecepatan membaca terlalu rendah, pemahaman terhadap isi bacaan akan ikut terganggu. Artinya, bukan hanya siswa tidak memahami pelajaran; ia memang belum sampai pada tahap bisa memahami. Selain itu permasalahannya dilihat dari cara kerja otak.

Dalam psikologi kognitif, dikenal konsep cognitive load atau beban kognitif. Pada siswa ini, hampir seluruh energi mentalnya terserap untuk mengeja dan mengenali huruf. Sehingga, tidak ada lagi ruang atau kapasitas yang tersisa untuk memahami makna teks. Hal tersebut yang menjadikan mengapa siswa tampak kesulitan mengikuti pelajaran secara keseluruhan.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Suatu hal yang penting perlu diperhatikan latar belakang siswa. Dalam berita disebutkan bahwa siswa ini terlambat masuk sekolah. Siswa mulai menempuh pendidikan formal pada usia tujuh tahun dan kini duduk di kelas enam SD.

Ia diketahui pernah tidak naik kelas selama dua tahun. Ini menjadi petunjuk penting bahwa kesulitan yang dialami belum tentu disebabkan oleh gangguan seperti disleksia. Disleksia adalah gangguan belajar berbasis neurobiologis yang menyebabkan kesulitan dalam membaca, menulis, mengeja, dan memproses informasi bahasa.

Kondisi seperti ini dikenal sebagai instructional casualties, yaitu kesulitan belajar yang muncul karena kurangnya pengalaman belajar, bukan karena gangguan kognitif. Artinya, bisa jadi siswa ini tidak mendapatkan stimulasi literasi yang cukup sejak dini, sehingga fondasi membacanya tidak pernah terbentuk dengan baik.

Langkah yang diambil Dinas Pendidikan yang menyarankan pendampingan khusus menjadi sangat tepat. Namun, pertanyaannya: Apakah sistem pembelajaran yang ada sudah cukup mendukung?

Ilustrasi mahasiswa dalam proses pembelajaran. Foto: David Gyung/Shutterstock

Pembelajaran di sekolah masih banyak dilakukan secara klasikal. Semua siswa diperlakukan sama, tanpa melihat perbedaan kemampuan yang cukup jauh. Padahal, dalam kasus seperti ini, pendekatan tersebut justru memperlebar kesenjangan.

Melihat konsep Multi-Tiered System of Supports (MTSS). Siswa seperti dalam kasus ini seharusnya sudah masuk dalam kategori yang membutuhkan intervensi intensif dan individual. Artinya, ia tidak bisa hanya mengikuti pembelajaran biasa, tetapi juga membutuhkan pendampingan khusus secara rutin.

Selain itu, guru juga perlu menerapkan differentiated instruction, yaitu menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan siswa. Dalam konteks kasus ini, sangat tidak realistis jika siswa dipaksa mengikuti materi kelas sesuai usianya, sementara kemampuan membaca dasarnya belum terbentuk. Jika tetap dipaksakan, yang terjadi justru frustrasi dan kegagalan berulang.

Kegagalan yang terus-menerus inilah yang kemudian berisiko menimbulkan masalah psikologis.

Ilustrasi frustasi. Foto: Mindmo/Shutterstock

Bayangkan posisi siswa tersebut: berusia 15 tahun, tetapi harus belajar bersama anak-anak yang jauh lebih muda, sekaligus menghadapi kesulitan membaca. Situasi ini sangat rentan menimbulkan tekanan emosional.

Persoalan ini dapat mempengaruhi secara psikologis yang mengarah pada learned helplessness, yaitu keadaan ketika seseorang merasa bahwa usaha apa pun tidak akan membuahkan hasil. Setelah berulang kali gagal, siswa bisa sampai pada titik menyerah dan kehilangan motivasi belajar.

Yang lebih mengkhawatirkan, kondisi ini tidak hanya berdampak pada akademik, tetapi juga pada cara pandang siswa terhadap dirinya sendiri. Ia bisa mulai merasa bahwa dirinya memang tidak mampu. Jika dibiarkan, ini bisa memengaruhi kesehatan mental dalam jangka panjang.

Risiko lain yang mungkin muncul. Seperti halnya dalam perbedaan usia yang jauh dengan teman sekelas dapat memicu rasa malu, rendah diri, bahkan potensi perundungan. John Hattie mengatakan bahwa kondisi seperti tinggal kelas dalam jangka panjang dapat berdampak negatif terhadap kepercayaan diri siswa.

Ilustrasi sedih. Foto: Stock-Asso/Shutterstock

Jika ditarik lebih luas, kasus ini sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat anak tumbuh—melihat teori ekologi perkembangan yang dikemukakan oleh Bronfenbrenner bahwa perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekat, terutama keluarga.

Jika sejak kecil anak tidak mendapatkan stimulasi literasi—misalnya tidak terbiasa membaca atau tidak memiliki akses terhadap buku—keterlambatan seperti ini sangat mungkin terjadi. Melihat kasus siswa di Kukar, keterlambatan masuk sekolah menjadi salah satu indikator bahwa faktor lingkungan turut berperan.

Oleh karena itu, peran orang tua menjadi sangat penting. Orang tua tidak hanya memberi motivasi, tetapi juga menjadi pendamping belajar di rumah. Dukungan orang tua bisa menjadi kunci untuk membantu anak mengejar ketertinggalan.

Lalu, apa yang bisa dilakukan?

Pendampingan khusus yang disarankan oleh Dinas Pendidikan perlu diikuti dengan strategi yang tepat. Salah satu metode yang terbukti efektif adalah repeated reading, yaitu membaca teks yang sama secara berulang hingga siswa mencapai kelancaran tertentu. Teknik ini membantu siswa membangun kemampuan membaca secara bertahap—dari mengeja menuju mengenali kata secara otomatis.

Selain itu, program seperti MULTILIT (Making Up Lost Time in Literacy) juga bisa menjadi solusi, karena dirancang khusus untuk siswa yang mengalami keterlambatan literasi yang cukup berat. Namun, intervensi tidak boleh berhenti pada aspek akademik. Sekolah juga perlu memastikan bahwa siswa merasa aman secara sosial dan emosional.

Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen

Program Social and Emotional Learning (SEL) dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih inklusif, sekaligus mencegah terjadinya perundungan. Siswa lain perlu diajak memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan belajar yang berbeda-beda. Tanpa adanya empati, proses pemulihan siswa justru akan semakin sulit.

Pada akhirnya, kasus ini menjadi pengingat penting bagi sistem pendidikan kita. Selama ini, sering kali kita baru bertindak ketika masalah sudah besar. Siswa dibiarkan tertinggal terlalu lama, baru kemudian diberikan bantuan.

Pendekatan seperti ini jelas tidak efektif. Semakin lama intervensi ditunda, semakin sulit bagi siswa untuk mengejar ketertinggalannya. Seharusnya, sistem pendidikan lebih proaktif melalui deteksi dini dan intervensi sejak awal. Dengan langkah yang tepat, banyak kasus seperti ini sebenarnya bisa dicegah.

Kasus siswa di Kukar ini bukan hanya tentang satu anak yang kesulitan membaca. Ini adalah cerminan dari bagaimana sistem merespons kebutuhan siswa. Jika sistem mampu beradaptasi melalui pembelajaran yang fleksibel, dukungan psikologis, dan keterlibatan keluarga, siswa yang tertinggal pun masih memiliki peluang untuk berkembang.

Namun, jika sistem tetap berjalan seperti biasa, yang tertinggal tidak hanya satu siswa, tetapi banyak yang lain, yang mungkin belum terlihat. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, melainkan juga tanggung jawab bersama orang tua, guru, dan lingkungan. Dengan langkah kecil yang konsisten, setiap anak tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.