Angel Di Maria Ungkap Alasan Perseteruan dengan Louis van Gaal di Manchester United

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Mantan penyerang Manchester United, Angel Di Maria, mengungkapkan bahwa perselisihan dengan pelatih Louis van Gaal menjadi penyebab utama kegagalannya bersinar di Inggris. Meski demikian, legenda sepak bola Argentina tersebut menegaskan tidak menyesali keputusannya bergabung dengan klub raksasa Premier League tersebut.

Pernyataan tersebut disampaikan Di Maria dalam sebuah wawancara bersama BBC Sport yang dirilis pada Selasa (26/5/2026), sebagaimana dilansir dari Detik Sport. Keretakan hubungan bermula karena Van Gaal dinilai hanya fokus pada kesalahan sang pemain tanpa pernah memberikan apresiasi positif.

"Awalnya semuanya berjalan sangat baik. Semuanya berjalan lancar. Kemudian saya mulai memiliki masalah dengan Van Gaal dan dari situ semuanya berantakan," ujar Di Maria.

Pemain yang didatangkan dari Real Madrid pada musim panas 2014 dengan nilai transfer mencapai 59,7 juta Poundsterling ini awalnya menandatangani kontrak berdurasi lima tahun. Namun, ia memilih hengkang ke Paris Saint-Germain setelah hanya bertahan satu musim akibat situasi yang terus memburuk.

"Seperti yang saya katakan, saya memulai dengan sangat baik. Semuanya sempurna. Tapi kemudian tiba-tiba kami mulai banyak diskusi tentang semua kesalahan yang saya lakukan di lapangan," kata Di Maria.

Kritik yang terus-menerus diterima dari juru taktik asal Belanda tersebut membuat mantan pemain Real Madrid ini merasa tidak nyaman di dalam tim.

"Dia tidak pernah menunjukkan kepada saya apa yang saya lakukan dengan baik, hanya hal-hal negatif, berulang-ulang. Akhirnya saya muak." ujar Di Maria.

Faktor di luar lapangan juga memperkeruh situasi Di Maria di Inggris, termasuk kondisi cuaca dan insiden kriminalitas yang menimpa tempat tinggalnya.

"Kehidupan di sana sangat berbeda. Hari menjadi gelap sangat cepat dan kemudian cuaca dingin mulai datang. Semuanya terus memburuk. Ada juga kasus perampokan di rumah saya." kata Di Maria.

Rentetan masalah internal dan eksternal tersebut akhirnya memuncak hingga memengaruhi kondisi psikologis sang pemain selama menetap di Manchester.

"Ketika semua itu terjadi; ketika Anda tidak bermain, ketika keadaan tidak berjalan baik untuk Anda, ketika Anda memiliki masalah di dalam klub, itu akhirnya sangat memengaruhi Anda. Itu membuat saya membenci berada di sana." ujar Di Maria.

Kondisi ini berbeda dengan pengalamannya di Prancis, di mana ia tetap bertahan lama bersama Paris Saint-Germain meskipun sempat mengalami insiden serupa.

"Saya juga pernah dirampok di Paris namun masih tinggal selama dua atau tiga tahun lagi, karena kehidupan di sana baik. Di Manchester, semuanya semakin memburuk. Saya ingin memprioritaskan keluarga saya dan itulah mengapa saya pergi." kata Di Maria.

Demi memuluskan kepindahannya pada tahun 2015, Di Maria bahkan menolak untuk mengikuti tur pramusim bersama Manchester United dan memilih untuk tetap berada di Argentina.

"Tapi kalau bicara soal Premier League, suasananya, kehidupan di klub, jujur saja, saya merasa sangat senang karena ada orang-orang hebat di dalam klub yang selalu memperlakukan saya dengan baik, selalu mendukung saya dan membantu saya dalam segala hal. Untuk itu, saya bersyukur," ujar Di Maria.

Gaji besar dan kesempatan merasakan atmosfer sepak bola Inggris menjadi alasan utama yang membuatnya tetap bersyukur pernah menjadi bagian dari Setan Merah.

"Itu adalah keputusan yang ingin saya buat. Saya ingin pergi ke MU. Sepak bolanya, tiba di stadion, suasananya, cinta dari para penggemar, saya tidak menyesalinya sama sekali. Bergabung dengan mereka sungguh luar biasa," jelas Di Maria.