Angka pendaftaran pernikahan di China merosot ke titik terendah dalam sejarah pada kuartal pertama 2026, berdasarkan data resmi yang dirilis pada Minggu (10/5). Penurunan ini terus berlanjut meski periode tersebut mencakup musim puncak pernikahan di negara tersebut.
Kementerian Urusan Sipil China mencatat hanya 1,697 juta pasangan yang mendaftarkan pernikahan mereka hingga Maret 2026. Data yang dilansir dari Bloombergtechnoz menunjukkan penurunan sekitar 6,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Jumlah tersebut berada jauh di bawah level masa pandemi yang biasanya masih melampaui angka 2 juta pendaftaran. Sebagai perbandingan historis, China mencatat pendaftaran pernikahan kuartal pertama mencapai 4,28 juta pada tahun 2013 silam.
Kondisi berbeda terlihat pada angka perceraian yang cenderung stabil di angka 622.000 kasus. Jumlah ini tidak banyak berubah dari tahun sebelumnya dan tetap berada di bawah angka puncak sebelum kebijakan masa tenang 30 hari diberlakukan pada 2021.
Fenomena ini menyebabkan rasio perceraian terhadap pernikahan mendekati level tertinggi sepanjang sejarah. Tekanan demografis tersebut menjadi tantangan serius bagi stabilitas ekonomi China sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia saat ini.
Kuartal pertama secara tradisional menyumbang hampir sepertiga dari total pernikahan tahunan karena adanya perayaan Tahun Baru Imlek. Minimnya jumlah pendaftaran pada periode ini mengindikasikan adanya pergeseran faktor struktural di tengah masyarakat China.
Tren penurunan pembentukan rumah tangga baru tersebut memicu kekhawatiran meluas mengenai penuaan populasi. Dampak lanjutannya diprediksi akan memengaruhi permintaan sektor perumahan, tingkat pengeluaran konsumen, serta prospek pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·