Antisipasi Masuknya Hantavirus ke RI, Menkes Bicara ke WHO untuk Skrining

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi hantavirus. Foto: OLESIA_V/Shutterstock

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin memeberikan tanggapan terkait virus Hanta yang tengah menjadi sorotan internasional setelah muncul kabar tiga orang terinfeksi di kapal pesiar MV Hondius di Tanjung Verde.

Budi mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia PBB atau World Health Organization (WHO) untuk mempersiapkan proses skrining dan pengawasan terhadap potensi penyebaran virus tersebut di Indonesia.

“Virus ini kan virus yang lumayan berbahaya. Kita udah koordinasi dengan WHO, kita minta guidance untuk bisa lakukan skriningnya,” ujar Budi di Gedung Kemenkes, Kamis (7/4).

Meski demikian, ia menyebut berdasarkan informasi yang diterima pemerintah, penyebaran virus tersebut saat ini masih terkonsentrasi di kapal pesiar tersebut dan belum meluas ke wilayah lain.

“Ya, tapi hasil masukan yang kita terima memang itu masih terkonsentrasi di kapal itu. Jadi belum nyebar ke mana-mana,” katanya.

Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan Republik Indonesia saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (4/5/2026). Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Budi menjelaskan, pemerintah saat ini fokus mempersiapkan sistem deteksi dini, termasuk kemungkinan penggunaan rapid test maupun reagen khusus untuk pemeriksaan PCR.

“Yang kita lakukan, kita mempersiapkan agar screening-nya kita punya. Apakah itu dalam bentuk rapid test kayak kita COVID dulu, maupun reagen-reagen yang digunakan di mesin PCR,” ujarnya.

Ia menambahkan, Indonesia dinilai memiliki kesiapan infrastruktur laboratorium yang lebih baik dibanding sebelumnya karena kapasitas mesin PCR sudah tersedia dalam jumlah besar sejak pandemi COVID-19.

“Kita beruntung sekarang kan mesin PCR kita udah banyak. Jadi untuk deteksi virus ini harusnya bisa lebih mudah. Cuma dipastikan reagen-nya mesti khusus,” kata Budi.

Saat ini, Kementerian Kesehatan masih memfokuskan langkah pada penguatan surveilans untuk mengantisipasi kemungkinan penyebaran virus secara lebih luas.

“Jadi sekarang kita masih fokus ke surveilansnya, supaya kalau ada apa-apa kita bisa cepat,” ujarnya.