Aramco Prediksi Pasar Minyak Global Kehilangan 100 Juta Barel Per Pekan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Raksasa energi Saudi Aramco memperkirakan pasar minyak global kehilangan pasokan hingga 100 juta barel setiap pekannya akibat penutupan Selat Hormuz pada Senin (11/5/2026). Kondisi ini memperparah defisit energi global di tengah konflik Timur Tengah yang telah berlangsung selama tiga bulan terakhir.

Kekurangan pasokan minyak tersebut memicu lonjakan harga hingga menembus angka US$100 per barel. Fenomena ini memaksa berbagai perusahaan serta pemerintah di dunia untuk mengandalkan cadangan minyak guna menutupi celah distribusi, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.

CEO Saudi Aramco, Amin Nasser, menjelaskan bahwa keterbatasan kapasitas produksi cadangan di luar wilayah Teluk Persia menyulitkan penanganan krisis ini. Kondisi pasar minyak diprediksi akan terus mengalami tekanan selama gangguan pada jalur distribusi utama tersebut belum terselesaikan.

"Makin lama gangguan pasokan berlanjut, bahkan untuk beberapa pekan lagi, akan membutuhkan waktu lebih lama bagi pasar minyak untuk menyeimbangkan dan menstabilkan diri," kata Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.

Nasser juga memberikan peringatan mengenai durasi pemulihan pasar yang terdampak oleh blokade ini. Menurutnya, stabilitas pasar mungkin tidak akan tercapai dalam waktu singkat meskipun situasi mulai mereda.

"Hal itu bisa berlanjut hingga 2027 untuk kembali ke tingkat normal," kata Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.

Pimpinan Aramco tersebut menyoroti adanya ketimpangan antara harga minyak di pasar berjangka dengan harga fisik yang sebenarnya. Ia menilai kurangnya investasi produksi di luar Timur Tengah membuat pasar global tidak siap menghadapi guncangan pasokan sebesar ini.

Proses pemulihan operasional pun diprediksi memerlukan waktu lama setelah jalur perdagangan dibuka kembali. Nasser menekankan bahwa pergerakan kapal tanker dan peningkatan produksi tidak dapat terjadi secara instan untuk memenuhi kebutuhan pasar.

"Kapasitas maksimum kami tetap utuh dan kami dapat mengaktifkannya kembali, jika diminta oleh pemerintah, tergantung pada kuota dalam waktu kurang dari tiga pekan," kata Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.

Aramco melaporkan kenaikan laba bersih sebesar 26 persen menjadi 126 miliar riyal pada kuartal I-2026 meskipun produksi terpangkas akibat perang. Perusahaan kini fokus memaksimalkan margin keuntungan dari produk olahan seperti avtur dan diesel melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah.

"Kami memaksimalkan produk pada tahap ini karena margin yang lebih tinggi," kata Amin Nasser, CEO Saudi Aramco.

Saat ini, Aramco berupaya memperluas kapasitas ekspor di Yanbu guna menghindari ketergantungan pada Selat Hormuz. Jalur pipa ke wilayah barat tersebut memungkinkan perusahaan menjual sekitar 70 persen volume minyak yang biasanya dikirim melalui Teluk Persia.