Arkeolog Temukan Kota Alexandria on the Tigris yang Hilang di Irak

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Tim arkeolog mengonfirmasi penemuan lokasi kota kuno Alexandria on the Tigris di situs Jebel Khayyaber, Irak selatan, pada Rabu, 15 April 2026. Kota pelabuhan yang didirikan oleh Alexander the Great lebih dari 2.000 tahun lalu ini berhasil diidentifikasi setelah lama menjadi misteri bagi para peneliti sejarah dunia.

Keberhasilan identifikasi kota legendaris ini dicapai melalui pemanfaatan teknologi modern seperti drone, citra satelit, dan pemetaan geofisika. Penemuan ini dilansir dari Detik iNET sebagai terobosan besar dalam menghubungkan jalur perdagangan kuno antara wilayah Mesopotamia, India, hingga Mediterania.

Pusat perdagangan strategis ini diyakini dibangun pada abad ke-4 SM dengan skala perkotaan yang sangat luas untuk standar zaman kuno. Struktur kota yang ditemukan mencakup tembok pertahanan, jaringan jalan grid, kawasan pemukiman penduduk, hingga sistem kanal dan pelabuhan yang masih terdeteksi di bawah permukaan tanah.

"Kualitas bukti geofisika ini benar-benar luar biasa, dan pelestarian bangunannya sangat baik," kata Stefan Hauser, peneliti dari Konstanz University, Jerman. Ia menambahkan bahwa ukuran blok bangunan di kota ini sangat besar, bahkan melampaui standar kota-kota besar lain pada masa kejayaannya.

Berdasarkan analisis data, Alexandria on the Tigris berfungsi sebagai titik temu distribusi komoditas berharga seperti logam, tekstil, dan rempah-rempah. Lokasi geografisnya yang berada di pertemuan jalur sungai dan laut menjadikan kota ini sebagai pilar utama dalam jaringan ekonomi global masa lalu.

Kemunduran kota ini dipicu oleh faktor alamiah berupa perubahan aliran Sungai Tigris yang menyebabkan pelabuhan kehilangan akses air utama. Kondisi tersebut memicu penurunan aktivitas ekonomi secara drastis hingga akhirnya kota tersebut ditinggalkan oleh penduduknya dan tertimbun tanah selama berabad-abad.

Penelitian lanjutan kini sedang direncanakan untuk mengungkap detail kehidupan sosial dan struktur politik di dalam kota tersebut. Para ilmuwan menganggap situs Jebel Khayyaber sebagai peluang langka karena lokasinya yang minim gangguan pembangunan modern, sehingga memungkinkan rekonstruksi tata kota kuno secara utuh.