Pemerintah Amerika Serikat menjatuhkan sanksi terhadap 11 entitas dan tiga individu di berbagai negara atas dugaan keterlibatan dalam program rudal balistik serta pesawat nirawak Iran pada Minggu, 10 Mei 2026. Langkah ini menyasar jaringan yang berbasis di Timur Tengah, China, Belarus, hingga Uni Emirat Arab.
Pembatasan ekonomi tersebut dilakukan karena pihak-pihak terkait dianggap membantu militer Iran dalam memperoleh persenjataan dan bahan baku penting. Dilansir dari Money, Departemen Luar Negeri AS melaporkan adanya entitas di China yang menyuplai citra satelit untuk mendukung operasi militer Teheran.
"Dalam tindakan hari ini termasuk beberapa entitas berbasis di China yang menyediakan citra satelit untuk mendukung serangan militer Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah," ujar Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio.
Penetapan sanksi ini bertujuan untuk memperlemah kemampuan tempur Iran di tengah eskalasi konflik regional yang sedang berlangsung. Marco Rubio menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi tekanan terhadap kekuatan militer negara tersebut.
"love tap," ujar Presiden AS, Donald Trump.
Pernyataan Trump tersebut merujuk pada serangan yang terjadi di lapangan, sembari mengeklaim bahwa Iran sebenarnya menunjukkan keinginan untuk berdamai. Saat ini, Washington masih menunggu tanggapan resmi dari Teheran mengenai proposal pengakhiri perang yang telah diajukan.
Pemerintah Iran melalui media pemerintah menyatakan bahwa pesan yang dikirim lewat perantara Pakistan masih ditinjau. Sementara itu, laporan media internasional Axios menyebutkan adanya pembahasan mengenai nota kesepahaman 14 poin untuk mengakhiri konflik sekaligus membuka kembali dialog program nuklir.
Fokus ketegangan kini tertuju pada Selat Hormuz, jalur distribusi seperlima pasokan minyak dunia yang sedang mengalami gangguan serius. Badan Energi Internasional (IEA) mengklasifikasikan situasi keamanan energi di kawasan strategis tersebut sebagai ancaman terbesar dalam sejarah.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·