Washington (ANTARA) - Amerika Serikat (AS) mengimbau warga negaranya yang saat ini masih berada di Iran agar segera meninggalkan negara itu, menyusul pembukaan kembali sebagian wilayah udara republik Islam tersebut.
"Mulai 21 April, wilayah udara Iran telah dibuka kembali sebagian. Warga negara AS harus segera meninggalkan Iran, memantau media lokal untuk mendapatkan informasi terbaru, dan berkonsultasi dengan maskapai penerbangan komersial untuk informasi tambahan tentang penerbangan keluar dari Iran," imbau Kedutaan Besar virtual AS untuk Iran, Rabu (22/4).
Selain bisa meninggalkan Iran melalui udara, warga AS juga bisa meninggalkan negara itu melalui jalan darat melalui Armenia, Azerbaijan, Turki, dan Turkmenistan.
Namun, warga AS diperingatkan untuk tidak keluar dari Iran melalui Afghanistan, Irak, atau Pakistan.
"Jika Anda tidak meninggalkan Iran, kami meminta semua warga Amerika di Iran untuk tetap berada di tempat tinggal Anda sampai pemberitahuan lebih lanjut. Sebisa mungkin, tetaplah di tempat tinggal, hotel, atau bangunan lain, dan jauhi jendela," demikian imbauan perjalanan yang dirilis pemerintah AS.
Pada 28 Februari, AS dan Israel menyerang Iran, dan kemudian memicu serangan balasan dan peningkatan ketegangan di seluruh Timur Tengah.
Pada 7 April, AS dan Iran mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu, setelah dimediasi Pakistan.
Pembicaraan selanjutnya di Islamabad berakhir tanpa hasil. Meskipun tidak ada pengumuman dimulainya kembali permusuhan, AS mulai memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran.
Para mediator terus berupaya untuk menyelenggarakan putaran perundingan baru.
Pada Selasa (21/4), Presiden AS Donald Trump mengatakan Washington akan memperpanjang gencatan senjata guna memberi Teheran waktu untuk mengajukan "proposal terpadu."
Trump mengeklaim bahwa perundingan damai antara kedua negara bisa terjadi dalam 36 hingga 72 jam ke depan.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA
Baca juga: Iran-AS perpanjang gencatan senjata, China sebut situasi masih kritis
Baca juga: Iran nyatakan siap balas jika AS lancarkan serangan baru
Penerjemah: Yashinta Difa
Editor: Primayanti
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·