AS Siaga di Selat Hormuz Usai Iran Umumkan Penutupan Jalur Air

Sedang Trending 4 jam yang lalu

Ketegangan baru menyelimuti kawasan Timur Tengah setelah militer Amerika Serikat menyatakan komitmennya untuk tetap bersiaga di Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Langkah ini diambil menyusul keputusan sepihak Iran yang menutup kembali jalur pelayaran vital tersebut setelah Israel melancarkan serangan udara ke Lebanon.

Penutupan kawasan maritim strategis ini dipicu oleh kemarahan Teheran atas aksi militer Israel. Pemerintah Iran memandang serangan terhadap Lebanon telah mencederai kesepakatan yang sebelumnya telah terjalin dengan pihak Washington.

Merespons dinamika tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) langsung mengeluarkan pernyataan resmi untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan maritim global, seperti dilansir dari Detikcom.

"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh," kata Komando Pusat AS (CENTCOM).

Pihak militer Amerika Serikat yang memegang kendali atas operasi di kawasan Timur Tengah tersebut juga melaporkan situasi terkini di lapangan. Berdasarkan pemantauan mereka pada hari Sabtu, aktivitas perdagangan laut di selat tersebut terpantau masih berjalan.

"Pasukan AS tetap hadir dan waspada untuk memastikan semua aspek perjanjian dengan Iran dipatuhi, dipatuhi, dan berlaku penuh," kata Komando Pusat AS (CENTCOM).

Pernyataan resmi dari otoritas militer Amerika Serikat tersebut dirilis ke publik pada pukul 10.30 waktu setempat atau sekitar pukul 21.30 WIB. Penutupan selat oleh Iran sendiri diumumkan hanya beberapa saat sebelum klaim kesiapsiagaan dari CENTCOM bergulir.

Kondisi memanas ini terjadi tepat ketika delegasi diplomatik dari kedua negara dijadwalkan bertemu di Eropa. Para negosiator AS dan Iran sedianya akan melakukan pembahasan lanjutan mengenai implementasi traktat perdamaian di Swiss.

Rencana partisipasi tingkat tinggi dalam dialog bilateral tersebut juga sempat dikonfirmasi oleh pejabat tinggi Amerika Serikat sebelum pengumuman penutupan selat disiarkan oleh media.

"beberapa hari ke depan" kata JD Vance, Wakil Presiden.

Eskalasi keamanan ini mengancam aktivitas ekonomi di Selat Hormuz yang sebenarnya sedang mengalami tren positif. Data dari perusahaan pelacak maritim pada hari Jumat menunjukkan bahwa volume lalu lintas kapal komersial di selat tersebut baru saja mencapai titik tertinggi dalam dua bulan terakhir.