Pemerintah Amerika Serikat saat ini tengah meninjau proposal terbaru dari Iran untuk mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung selama delapan minggu. Sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz, Washington tetap menegaskan posisi mutlak untuk mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir dalam kesepakatan tersebut.
Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengonfirmasi pada Senin (27/4) bahwa Presiden Donald Trump telah menginstruksikan jajaran pejabat keamanan nasional guna membedah tawaran tersebut. Pertemuan ini menjadi krusial di tengah upaya normalisasi jalur perdagangan energi dunia yang terganggu.
"Batasan tegas terhadap Iran sudah dibuat sangat, sangat jelas," tegas Leavitt, Juru Bicara Gedung Putih.
Pemerintah AS juga mengindikasikan bahwa penjelasan lebih lanjut mengenai arah kebijakan ini akan segera disampaikan kepada publik. Leavitt menyebutkan bahwa pengumuman tersebut akan keluar dalam waktu dekat.
"Trump akan memberikan pernyataan resmi terkait masalah ini "dalam waktu dekat."" tambah Leavitt, Juru Bicara Gedung Putih.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, Iran menawarkan pembukaan kembali akses Selat Hormuz sebagai kompensasi jika Washington menghentikan blokade pelabuhan. Namun, kesepakatan sementara ini mengusulkan penundaan pembahasan teknis mengenai program nuklir ke tahap negosiasi selanjutnya.
Senator Republik asal South Carolina, Lindsey Graham, merespons skeptis laporan mengenai tawaran Iran tersebut melalui media sosial. Ia mendesak Presiden Trump agar tidak terburu-buru menyetujui persyaratan yang diajukan oleh Teheran.
"Untuk mencapai negosiasi yang sukses, Anda harus memiliki dua mitra yang sama-sama beriktikad baik," tulis Graham, Senator Republik South Carolina.
Graham menilai bahwa tawaran yang beredar saat ini hanyalah upaya taktis dari Iran untuk mengulur waktu tanpa memberikan kepastian pada isu inti. Ia meminta kepemimpinan AS tetap teguh pada komitmen keamanan global.
"Jelas, jika tawaran ini akurat, Iran hanya sedang bermain-main. Tuan Presiden, tetaplah pada pendirian Anda demi kebaikan bangsa dan dunia." tulis Graham, Senator Republik South Carolina.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi justru memperkuat hubungan diplomatik dengan Rusia di tengah ketegangan dengan Barat. Araghchi melakukan kunjungan ke Moskow untuk bertemu dengan Presiden Vladimir Putin guna membahas kerja sama strategis.
"Iran mampu bertahan menghadapi "agresi AS dan akan mampu mengatasinya."" klaim Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran sebagaimana dikutip Nour News.
Situasi konflik ini berdampak langsung pada sektor ekonomi global, terutama pada komoditas energi. Harga minyak Brent dilaporkan melonjak hingga melampaui US$108 per barel akibat kekhawatiran pasar atas tersendatnya pasokan dari kawasan Teluk.
Kanselir Jerman Friedrich Merz turut memberikan komentar mengenai posisi Amerika Serikat dalam menghadapi krisis di Timur Tengah ini. Ia menyampaikan pandangannya saat berdiskusi dengan para mahasiswa di Jerman.
"AS sedang "dipermalukan" oleh para pemimpin Iran dan ia tidak dapat melihat strategi keluar yang ditempuh Washington." kata Merz, Kanselir Jerman.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·